KUPANG, LIPUTANNTT.Com,Harapan Marno Bunda, S. Pt., yang menyerukan integrasi sektor pertanian, peternakan, kelautan, dan perikanan merupakan gagasan yang fundamental dan relevan dengan tantangan pembangunan pertanian modern. Pandangan ini tidak sekadar wacana idealis, melainkan sebuah keniscayaan manajerial yang didasari oleh prinsip efisiensi sumber daya dan keberlanjutan ekosistem. Selama ini, pengelolaan sektor-sektor tersebut seringkali berjalan sendiri-sendiri (sectoral ego), yang berimplikasi pada inefisiensi pemanfaatan input, tingginya biaya produksi, serta hilangnya potensi sinergi antar-komoditas. Sebagaimana ditegaskan dalam literatur ilmiah, Integrated Farming System (IFS) merupakan pendekatan holistik yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dengan menggabungkan komponen tanaman, ternak, dan perikanan secara sengaja untuk menciptakan sistem pertanian yang produktif dan berkelanjutan .
Pendekatan integratif menawarkan keunggulan komparatif yang signifikan dibandingkan sistem monokultur atau sektoral. Dengan menyatukan darat dan laut dalam satu kesatuan ekosistem ekonomi—atau yang dikenal dengan konsep agromaritim—pola manajemen dapat disusun secara terpadu, mulai dari hulu hingga hilir . Efisiensi manajemen tidak hanya diukur dari aspek teknis budidaya, tetapi juga dari optimalisasi rantai nilai (value chain). Natarajan dkk. (2025) mengemukakan bahwa rantai nilai dalam IFS mencakup penyediaan input, produksi, pengolahan, hingga pemasaran yang terkoordinasi, sehingga mampu meningkatkan efisiensi rantai pasok, mengurangi kerugian, dan memastikan realisasi harga yang lebih baik bagi produsen . Dengan demikian, pengelolaan yang terintegrasi akan menciptakan efisiensi biaya dan meningkatkan daya saing produk.
Implementasi sistem terintegrasi secara empiris terbukti mampu meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani secara drastis. Penelitian Thakur dkk. (2025) menunjukkan bahwa model IFS yang menggabungkan serealia, sayuran, peternakan, dan perikanan mampu mencapai produktivitas setara 23,55 ton padi per hektar per tahun serta menghasilkan keuntungan bersih yang signifikan . Lebih lanjut, studi oleh ICAR (2025) mendokumentasikan bahwa penerapan IFS berbasis peternakan-ikan-hortikultura tidak hanya menggandakan pendapatan petani, tetapi juga menciptakan siklus nutrisi tertutup melalui daur ulang limbah yang efisien . Fakta ini memperkuat argumen bahwa integrasi bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya dan meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha di sektor primer.
Sebaliknya, jika setiap sektor masih dikelola secara terpisah, maka konsekuensinya adalah terbentuknya birokrasi manajemen yang gemuk dan inkoheren. Setiap sektor akan memerlukan kelembagaan, pendanaan, dan regulasi yang berdiri sendiri, yang berpotensi menimbulkan tumpang tindih kebijakan dan kompetisi dalam pemanfaatan sumber daya yang terbatas, seperti lahan dan air . Kondisi ini tidak hanya inefisien secara ekonomi, tetapi juga dapat memicu konflik kepentingan dan degradasi lingkungan, sebagaimana dijelaskan oleh FAO bahwa interaksi antagonistik antara pertanian dan perikanan sering muncul akibat persaingan sumber daya dan praktik budidaya yang tidak ramah lingkungan .
Untuk mewujudkan harapan tersebut, diperlukan terobosan dalam tata kelola yang bersifat lintas sektor. Pemerintah dan pemangku kepentingan harus mendorong kebijakan yang memfasilitasi integrasi, seperti penyediaan infrastruktur pendukung, akses permodalan, serta transfer teknologi dan pengetahuan bagi petani dan nelayan . Selain itu, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan petani menjadi krusial mengingat sistem terintegrasi memerlukan tingkat keterampilan dan kompleksitas manajemen yang lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional . Tanpa dukungan yang komprehensif, potensi integrasi hanya akan tetap menjadi utopia belaka.
Sebagai penutup, aspirasi Marno Bunda, S. Pt., mencerminkan visi pembangunan pertanian masa depan yang tidak lagi sektoral, tetapi holistik dan terintegrasi. Dengan mengadopsi pendekatan IFS, sektor pertanian, peternakan, kelautan, dan perikanan dapat dikelola sebagai satu kesatuan sistem produksi yang saling menguntungkan. Hal ini akan menghasilkan efisiensi manajemen yang lebih baik, meningkatkan ketahanan pangan, serta mendorong terciptanya sistem pangan yang berkelanjutan dan berdaya saing. Sudah saatnya paradigma pembangunan sektoral ditinggalkan dan diganti dengan pendekatan ekosistem yang terintegrasi.(*)

