Ikatan Pemuda Pelajar Baranusa (IPPB) Kupang, Ini Organisasi Kepemudaan Yang Menghimpun Pemuda dan Pelajar Asal Baranusa Kota Kupang

Pemred Liputan NTT
0

 

KUPANG, LIPUTANNTT.Com,Ikatan Pemuda Pelajar Baranusa (IPPB) Kupang merupakan organisasi kepemudaan yang menghimpun pemuda dan pelajar asal Baranusa yang berdomisili di Kota Kupang. Organisasi ini dibentuk sebagai wadah pembinaan, penguatan silaturahmi, serta proses kaderisasi generasi muda Baranusa di wilayah perantauan.


Sebagai bagian dari keluarga besar Baranusa, IPPB memiliki keterkaitan historis dan struktural dengan organisasi induknya, yaitu Ikatan Keluarga Besar Baranusa (IKBAR). Dalam perjalanan sejarahnya, IPPB mengalami dinamika yang cukup kompleks, mulai dari fase perintisan, periode kevakuman, upaya kebangkitan kembali, hingga proses konsolidasi kelembagaan guna mempertahankan eksistensi organisasi di tengah perubahan sosial.


Latar Belakang Berdirinya Organisasi:


Lahirnya IPPB dilatarbelakangi oleh kegelisahan sejumlah tokoh muda Baranusa yang tergabung dalam lingkungan IKBAR di Kota Kupang. Pada masa itu, terdapat beberapa persoalan mendasar yang dihadapi generasi muda Baranusa, antara lain:


Lemahnya persatuan dan komunikasi antar pemuda Baranusa di Kota Kupang.


Terbatasnya ruang ekspresi dan pengembangan potensi pemuda karena belum adanya organisasi khusus yang menaungi kepemudaan Baranusa.


Perlunya wadah silaturahmi dan penguatan identitas kolektif bagi pemuda Baranusa, baik yang berasal langsung dari kampung halaman maupun yang lahir dan besar di Kota Kupang.


Kebutuhan akan jaringan komunikasi yang terstruktur untuk mempermudah distribusi kader pemuda Baranusa di berbagai bidang dan profesi.


Atas dasar kondisi tersebut, para tokoh muda Baranusa bersepakat membentuk sebuah organisasi kepemudaan yang tetap berada dalam bingkai besar IKBAR, namun memiliki kemandirian dalam pengelolaan dan pengembangan aktivitas kepemudaan.


Sejarah dan Perkembangan Organisasi:


Ikatan Pemuda Pelajar Baranusa (IPPB) secara resmi didirikan pada Selasa, 28 Oktober 1986 Masehi, bertepatan dengan sekitar 14 Rabiul Awal 1407 Hijriah. Proses pendirian berlangsung di rumah Bapak Hasan Gay di Kampung Selam, sementara rapat awal organisasi dilaksanakan di Rumah Bujang Airmata.


Kegiatan awal IPPB ditandai dengan partisipasi dalam Pawai 1 Muharram 1407 Hijriah pada 5 September 1986, bersama berbagai organisasi kepemudaan di Kota Kupang, termasuk organisasi kepemudaan lintas agama. Organisasi ini dirintis oleh sejumlah tokoh muda Baranusa, antara lain Bakri Kari, Abdullah Ulumando, Mohammad S. Gawi, dan Muktar Ulumando.


Pada fase awal, IPPB lebih berorientasi pada penguatan silaturahmi. Organisasi ini didirikan dengan berasaskan Islam, dengan tujuan membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan pemahaman keagamaan yang baik. IPPB juga diproyeksikan sebagai wadah kaderisasi untuk menyiapkan generasi penerus dan calon pemimpin masa depan Baranusa.


Keanggotaan IPPB mencakup seluruh pemuda dan pelajar Baranusa yang berada di Kota Kupang, baik yang menempuh pendidikan di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi, serta mereka yang memiliki hubungan keturunan Baranusa dari salah satu orang tua.


Pada tahun 1986, Bakri Kari dan Mohammad Saleh Gawi dipercaya sebagai pimpinan awal IPPB. Salah satu agenda kegiatan awal organisasi adalah rencana pementasan drama berjudul "Ke Pangkuan Bunda" pada Juni 1987 di Baranusa, yang diskenariokan dan disutradarai oleh Mohammad S. Gawi. Kegiatan ini awalnya dirancang sebagai upaya penggalangan dana organisasi melalui wadah ad hoc AMSONA di Rote Ndao (Papela), namun tidak terlaksana sesuai rencana.


Dalam perjalanannya, Bakri Kari mendapat penugasan kerja di Maumere, yang mengakibatkan terjadinya kekosongan kepemimpinan dan mendorong IPPB memasuki masa kevakuman selama kurang lebih tujuh tahun.


Pada masa kevakuman tersebut, muncul organisasi bersifat ad hoc bernama Angkatan Muda Solidaritas Lawo Tanah (AMSONA) yang digagas oleh Mohammad S. Gawi. AMSONA dibentuk khusus untuk kepentingan pementasan drama di Rote Ndao, namun kegiatan tersebut gagal terlaksana akibat bencana angin puting beliung yang melanda Nusa Tenggara Timur.


AMSONA memiliki struktur organisasi yang jelas, dengan Mohammad S. Gawi sebagai Ketua Umum, Abusalim Senin sebagai Ketua I, Pahlawan (Romi) sebagai Ketua II, Rahmatia Djou sebagai Bendahara, serta Abdullah Ulumando sebagai Pembina/Penasehat.


Melalui musyawarah yang dilaksanakan di SD Osmok Kupang, Abusalim Senin terpilih sebagai Ketua IPPB periode 1992–1994. Pada masa ini, IPPB mulai memasuki fase penataan organisasi dengan disusunnya Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta pembenahan struktur kelembagaan.


Selanjutnya, melalui Musyawarah di MAN Kupang periode 1994–1996, terpilih Daing Kampo sebagai Ketua dan Basonden M. Baso sebagai Sekretaris. Karena penugasan kerja, kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Basonden M. Baso (1997–1998), dan selanjutnya oleh Arsyad Arsyad bersama Abdurrahman Senin pada tahun 1999. Namun, faktor pekerjaan kembali menyebabkan IPPB mengalami kevakuman.


Pada periode berikutnya, IPPB dipimpin oleh Moh. Saleh Goro (Sles) sebagai Ketua dan M. Saleh Sira sebagai Sekretaris. Karena organisasi kembali mengalami stagnasi, kepemimpinan dialihkan kepada Bahrudin Kappa yang menyelenggarakan Musyawarah Anggota di SD Muhammadiyah 2 Kupang. Dari musyawarah tersebut terpilih Fathur Dopong sebagai Ketua dan Jumadi Magang sebagai Sekretaris periode 2014–2016.


Dalam perjalanannya, Fathur Dopong terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Kupang. Meskipun AD/ART IPPB tidak melarang rangkap jabatan, dinamika internal organisasi mendorong yang bersangkutan untuk mengundurkan diri dari jabatan Ketua IPPB.


Selanjutnya, sebagian anggota IPPB secara sepihak menggelar musyawarah di pinggir pantai dan mengangkat Iskandar Bere sebagai Ketua IPPB. Kepemimpinan ini diwarnai konflik internal, khususnya terkait dugaan ketidakterbukaan pengelolaan keuangan kegiatan IPPB Cup, sehingga yang bersangkutan meninggalkan jabatan ketua tanpa kejelasan kepemimpinan.

 

Kepemimpinan IPPB kemudian dijalankan secara bergantian oleh Alhadi Ulumando, Imran Ibrahim Majdi, Alhabsi Sira, dan Busril Sibu. Pada periode ini, lemahnya komunikasi vertikal antara IPPB dan IKBAR mengakibatkan kepengurusan tidak memperoleh Surat Keputusan (SK) secara yuridis dan masa baktipun hanya berjalan 1 tahun. Upaya pembentukan Dewan Penyelamat Organisasi (DPO) sempat dilakukan, namun menuai kritik karena dinilai tidak memiliki dasar legalitas yang kuat.


Melalui Musyawarah Umum Anggota (MUA), Abdul Faqih Senin terpilih sebagai Ketua IPPB dan berhasil mengembalikan IPPB sebagai organisasi otonom di bawah naungan IKBAR, serta memperoleh pengakuan resmi melalui Surat Keputusan IKBAR Kupang. Kepemimpinan selanjutnya dilanjutkan oleh Halid Baso.


Pada MUA berikutnya, terpilih Kasim Lamawulo sebagai Ketua Umum dan Pahlawan Ulumando sebagai Sekretaris Umum IPPB Kupang periode 2024–2026. Namun, konflik internal kembali terjadi hingga menyebabkan pengunduran diri Wakil Ketua, Sekretaris Umum, dan Ketua Umum. Melalui Musyawarah Luar Biasa, Pahlawan Ulumando akhirnya terpilih sebagai Ketua IPPB Kupang periode antar waktu 2024–2026.


Menurut Pandangan Penulis:


Berdasarkan perjalanan sejarah IPPB Kupang, penulis menilai bahwa persoalan utama organisasi bukan terletak pada kekurangan sumber daya manusia, melainkan pada lemahnya konsistensi tata kelola organisasi. Pola kevakuman yang berulang menunjukkan bahwa regenerasi kepemimpinan, sistem kaderisasi, serta komunikasi antara IPPB dan IKBAR belum berjalan secara optimal.


Penulis menyarankan agar IPPB ke depan memperkuat sistem kelembagaan melalui penegakan AD/ART secara konsisten, pengelolaan administrasi yang transparan, serta penguatan komunikasi struktural dengan organisasi induk. Selain itu, diperlukan pengembangan kader yang berkelanjutan agar IPPB tidak lagi terjebak dalam siklus konflik dan kevakuman, melainkan mampu bertransformasi menjadi organisasi pemuda yang stabil, progresif, dan berdaya guna bagi masyarakat Baranusa.


Ikatan Pemuda Pelajar Baranusa (IPPB) Kupang merupakan organisasi kepemudaan yang lahir dari kebutuhan akan persatuan, kaderisasi, dan ruang ekspresi pemuda Baranusa. Dinamika dan tantangan yang dihadapi sepanjang sejarah organisasi menjadi bagian dari proses pendewasaan IPPB. Dengan kepemimpinan yang terus berlanjut, IPPB diharapkan mampu memperkuat perannya sebagai pelanjut estafet kepemimpinan dan penjaga masa depan generasi Baranusa.


Sejarah ini penulis ambil dari  cerita para perintis dan tokoh IPPB :Mohammad S. Gawi, Abdullah Ulumando, Abusalim Senin, Basonde Baso dll. Penulis: Fathur Dopong, S.pd.


Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

Melayani permintaan peliputan dan pemasangan iklan banner. Marketing Director (Email: redaksiliputanntt@gmail.com.Contact Person:081236630013). Alamat Redaksi: Jl. Oekam, RT 13/RW 005 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT. Email: redaksiliputanntt@gmail.com. Tlp/Hp: 081236630013 Rekening: BRI: No. Rek. 467601014931533 a.n. Hendrik Missa Bank NTT: No. Rek. 2503210258 a.n. Hendrik Missa