Kupang, LIPUTANNTT.Com, Pukulan berat kembali menghantam infrastruktur vital di Kabupaten Kupang. Ruas jalan utama yang menjadi urat nadi penghubung antara Kecamatan Amarasi dan Kecamatan Amarasi Timur dilaporkan berada di ambang kepunahan akses atau hampir terputus total akibat kerusakan parah yang semakin memburuk pada Selasa (10/3/2026). Kondisi ini memicu kepanikan di kalangan masyarakat setempat dan memunculkan desakan keras agar Pemerintah Kabupaten Kupang dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur segera mengambil tindakan nyata.
Berdasarkan pantauan dan laporan warga di lokasi, ruas jalan tersebut saat ini sangat memprihatinkan. Di sejumlah titik, badan jalan amblas dan terkikis material lumpur serta bebatuan tajam pasca-guyuran hujan deras beberapa hari terakhir. Kendaraan roda dua harus ekstra hati-hati dan nyaris terpeleset di kubangan lumpur, sementara kendaraan roda empat hampir dipastikan kesulitan melintas tanpa risiko kerusakan pada bagian bawah mobil.
“Kondisinya sudah sangat parah, hampir-hampir tidak bisa dilewati. Kami khawatir dalam hitungan hari, akses ini akan benar-benar putus total. Ini jalan utama kami, satu-satunya akses menuju pasar, sekolah, dan puskesmas,”
Warga menuturkan bahwa kerusakan ini sebenarnya sudah berlangsung lama, tetapi belum pernah mendapatkan respons serius dari pemerintah. Musim hujan tahun ini menjadi puncak dari akumulasi kerusakan yang tak kunjung diperbaiki.
Dampak Ekonomi dan Sosial Mulai Terasa
Akibat kondisi jalan yang hampir terputus ini, aktivitas ekonomi masyarakat mulai lumpuh. Para petani dan pelaku usaha mikro mengaku kesulitan mengangkut hasil bumi seperti jagung, kelapa, dan ternak ke pusat perdagangan. Ongkos angkut membengkak drastis karena hanya sopir dengan kendaraan berpenggerak empat roda yang berani melintas, itupun dengan risiko tinggi.
“Hasil kebun kami tidak bisa dijual maksimal. Biaya transportasi naik, sementara harga jual tetap. Kami resah, ini sudah menyentuh kebutuhan pokok kami sehari-hari,” keluh petani asal Amarasi Timur.
Selain ekonomi, pelayanan publik juga ikut terdampak. Tenaga kesehatan dan guru dikabarkan kerap terlambat tiba di lokasi tugas. Para pelajar pun harus berjalan kaki lebih jauh dan mempertaruhkan keselamatan demi mencapai sekolah.
Warga: Pemerintah Jangan Mati Rasa, Butuh Aksi Nyata
Di tengah keprihatinan itu, warga secara terbuka menyuarakan kekecewaan mereka. Masyarakat menilai janji-janji perbaikan infrastruktur yang kerap digaungkan pejabat daerah selama ini tidak pernah menyentuh akar persoalan di wilayah mereka. Mereka mendesak agar Pemerintah Kabupaten Kupang dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur tidak lagi bekerja secara prosedural, tetapi turun langsung melihat fakta di lapangan.
“Kami muak dengan janji dan survey yang tidak ada tindak lanjut. Jangan biarkan kami terisolasi. Kami butuh perhatian serius, butuh eksekusi di lapangan. Ini bukan soal aspal, tapi soal hidup mati ekonomi dan kesejahteraan kami. Kami minta Bapak Bupati dan Bapak Gubernur benar-benar mendengar jeritan kami,” seru seorang warga
Aspirasi serupa juga mengemuka dalam berbagai kesempatan sebelumnya. Warga di sejumlah wilayah Amarasi bahkan sempat melakukan swadaya dengan menimbun lubang menggunakan material sirtu, namun hal itu dinilai tidak akan bertahan lama tanpa intervensi pemerintah. Mereka menegaskan, jalan tersebut adalah hak dasar masyarakat dan menjadi tanggung jawab negara untuk menjamin aksesibilitasnya .
Harapan di Tengah Musibah
Masyarakat berharap peristiwa nyaris terputusnya jalan utama ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah untuk segera bergerak. Mereka menagih komitmen Pemerintah Kabupaten Kupang yang memiliki kewenangan atas jalan kabupaten, serta Pemerintah Provinsi NTT yang disebut bertanggung jawab atas ruas jalan strategis di wilayah tersebut .
“Kami masih menunggu. Jangan sampai yang datang hanya janji dan tim survey, lalu kami kembali dilupakan. Sekarang saatnya aksi nyata," (*Marno)

