KUPANG, LIPUTANNTT.Com,Kepedulian terhadap rendahnya angka partisipasi pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Timur mendorong Ketua Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) Universitas Nusa Cendana (Undana), Marno Bunda, untuk turun langsung ke pelosok. Ia menginisiasi kegiatan sosialisasi dan pembekalan kepada siswa-siswi SMAN 2 Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, pada Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini bertujuan memberikan motivasi serta informasi komprehensif mengenai peluang melanjutkan studi ke perguruan tinggi, khususnya di Undana.
Marno, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Sosial Masyarakat Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (ISMAPETI) Wilayah V, menegaskan bahwa langkah ini lahir dari keprihatinan pribadi, bukan semata-mata agenda organisasi.
"Ini adalah gerakan hati nurani. Saya melihat masih banyak siswa di daerah pelosok seperti Amarasi Timur yang punya potensi besar, tetapi terhambat minimnya akses informasi dan motivasi. Saya ingin menjadi jembatan antara mereka dan dunia kampus, agar tidak ragu untuk bermimpi kuliah," ujar Marno.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Aula SMAN 2 Amarasi Timur tersebut, Marno didampingi dua orang rekan mahasiswa FPKP yang juga peduli terhadap pemberdayaan pendidikan. Sasaran utama kegiatan adalah siswa kelas XII yang akan menghadapi masa transisi ke jenjang pendidikan tinggi. Namun, siswa kelas X dan XI juga diundang agar dapat mempersiapkan diri lebih awal.
Materi yang disampaikan mencakup tiga hal pokok. Pertama, pengenalan jalur masuk perguruan tinggi negeri seperti SNBP (jalur rapor), SNBT (ujian tulis), dan jalur mandiri. Kedua, tips dan trik mendapatkan beasiswa, baik dari pemerintah maupun swasta. Ketiga, pengenalan program studi di lingkungan Undana, khususnya FPKP, yang relevan dengan potensi daerah NTT, seperti peternakan, perikanan, dan kelautan.
"Pesan kunci saya sederhana: Pendidikan adalah kunci mengubah masa depan, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun daerah. Keterbatasan geografis dan ekonomi bukan halangan. Banyak mahasiswa Undana dari daerah terpencil yang berhasil berkat kegigihan," tegas Marno.
Pemilihan waktu pelaksanaan pada Februari 2026 dinilai sangat strategis karena bertepatan dengan masa pendaftaran SNBP. Marno ingin memastikan siswa tidak melewatkan informasi penting dan dapat mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir serta seleksi masuk PTN.
Lokasi di SMAN 2 Amarasi Timur dipilih karena letaknya yang cukup terpencil di Kabupaten Kupang dan melayani siswa dari berbagai desa sekitarnya. Marno menyadari akses informasi tentang perguruan tinggi di wilayah tersebut masih terbatas.
"Saya tahu banyak orang tua siswa di sini bekerja sebagai petani atau nelayan. Saya ingin anak-anak tahu bahwa mereka bisa kuliah di Undana, bahkan di FPKP yang dekat dengan minat mereka," jelasnya.
Ia menambahkan, sosialisasi langsung ke daerah lebih efektif dibandingkan daring karena dapat mengatasi kendala sinyal dan keterbatasan gawai. Interaksi tatap muka juga membangun kepercayaan diri siswa.
Kegiatan dikemas dalam metode diskusi interaktif dan presentasi yang diselingi ice breaking. Tidak hanya ceramah satu arah, tim juga membuka sesi tanya jawab serta berbagi pengalaman.
Respons positif datang dari pihak sekolah. Kepala sekolah (Bapak Aloysius Klau Nahak, S. Pd.)dan para guru menyambut baik inisiatif ini dan membantu mengkoordinasikan siswa.
"Kami sangat terbantu dengan adanya informasi langsung dari mahasiswa. Saya bersedia membuka pintu untuk Tim yang turut hadir hari ini. Materi dan praktik baik ini saya pikir akan lebih akurat bila nanti kami melibatkan orang tua siswa. Saya akan meminta waktu luangnya lagi untuk bertemu langsung dengan orang tua dalam waktu dekat." ungkap Kepala Sekolah.
Untuk memotivasi siswa, tim menceritakan kisah nyata mahasiswa Undana yang berasal dari daerah terpencil, termasuk pengalaman pribadi Marno. Mereka menekankan bahwa nilai ujian bukan satu-satunya penentu; ada jalur prestasi, beasiswa afirmasi, dan banyak peluang lain.
Marno berharap dalam 2-3 tahun ke depan, semakin banyak siswa asal Amarasi Timur yang mendaftar dan diterima di Undana, khususnya FPKP. Lebih dari itu, ia ingin mereka menjadi agen perubahan yang kelak membangun desanya dengan ilmu yang didapat.
Sebagai tindak lanjut, tim langsung membentuk grup WhatsApp khusus untuk pendampingan. Siswa dapat bertanya kapan saja tentang pendaftaran, beasiswa, atau persiapan kuliah. Kunjungan lanjutan juga direncanakan bagi siswa yang membutuhkan bimbingan lebih intensif.
"Ini adalah wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian. Saya berharap kegiatan ini menginspirasi mahasiswa lain untuk peduli pada pemerataan pendidikan di NTT, sehingga FPKP Undana dikenal sebagai fakultas yang dekat dengan rakyat," pungkas Marno.(MB)

