KUPANG,LIPUTANNTT.Com,Bertempat di Aula Gereja Paroki Sta. Maria Assumpta Kota Kupang pada Rabu 19 Maret 2026 dilaksanakan Pentas Seni oleh Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI) Keuskupan Agung Kupang. Pagelaran Pentas Seni tersebut mengangkat tema "Jejak Sang Petualang Di Bumi Flobamorata" dengan menghadirkan pementasan berbagai tarian dan drama musikal dari setiap daerah se-Nusa Tenggara Timur sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat NTT yang sarat akan kultur dan budaya lokal.
Gubernur NTT Melki Laka Lena dalam sambutannya mengungkapkan Pentas Seni SEKAMI tersebut sebagai manifestasi nyata dari pembinaan iman yang berpadu dengan pembangunan karakter.
"Di tengah gempuran arus digitalisasi yang kencang, pagelaran pentas seni seperti ini adalah seperti oase yang berperan menumbuhkan karakter baik dari setiap anak. Karena sejatinya pembangunan itu bukan cuma soal infrastruktur, tapi juga tentu terkait dengan urusan pembangunan mental dan karakter putra-putri daerah," jelas Gubernur.
"Di balik sebuah pentas seni yang ditampilkan oleh anak-anak, sesungguhnya sedang berlangsung proses yang jauh lebih dalam dari sekadar pertunjukan di atas panggung. Di sanalah mental dan karakter mereka dibentuk, perlahan namun pasti. Setiap gerakan yang dilatih, setiap dialog yang dihafal, hingga setiap kesalahan yang diperbaiki, menjadi bagian dari perjalanan belajar yang bermakna," jelas Gubernur.
Gubernur mengungkapkan, dengan pentas seni maka anak-anak belajar untuk bekerja sama, menyatukan perbedaan menjadi harmoni. "Mereka belajar peka terhadap teman sejawat, memahami kapan harus memimpin, kapan harus mengikuti, dan kapan harus saling menguatkan. Dalam proses itu, tumbuh rasa solidaritas yang tidak bisa diajarkan hanya melalui kata-kata, tetapi harus dirasakan bersama," ungkap Gubernur.
Menurutnya, lebih dari itu pentas seni menjadi ruang bagi mereka untuk mengenal dan mencintai budaya. "Anak-anak SEKAMI tidak hanya menampilkan, tetapi juga meresapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ada kebanggaan yang perlahan tumbuh bahwa apa yang mereka bawakan adalah bagian dari jati diri sebagai generasi yang memiliki budaya," jelasnya.
"Mereka berlatih menari dan menghafal naskah drama, latihan yang tepat waktu dan membuat mereka melupakan ponselnya sejenak. Itu tidak mudah. Mereka melupakan ponsel, dan disitulah transformasi mental anak-anak Sekami dimulai. Di tengah derasnya arus kemajuan teknologi digital yang sering kali tanpa disadari menjauhkan satu sama lain, proses ini menjadi semacam jeda yang berharga. Sejenak, mereka terlepas dari layar-layar yang membatasi interaksi, dan kembali pada pertemuan nyata tatap muka, tawa bersama, dan kebersamaan yang hangat," ungkap Gubernur.
Gubernur menyebutkan, keberagaman kalangan umat Katolik dari berbagai paroki, anak-anak dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda-beda, panggung pentas seni ini mempersatukan semuanya. "Tak ada lagi perbedaan antara ada pejabat maupun anak petani, namun semua akan bersatu di sini di pentas seni yang memberi rasa kekeluargaan," jelas Gubernur.
Sementara itu Yang Mulia Uskup Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakaenoni mengungkapkan melalui kegiatan seni pentas seni tersebut, anak-anak Sekami tidak hanya menampilkan bakat dan kreativitas, tetapi juga menyatakan kasih Tuhan dengan cara yang khas, penuh keceriaan dan menyentuh hati. "Inilah sebetulnya wajah Gereja yang hidup, Gereja yang dinamis, dan Gereja yang penuh semangat misioner," kata Mgr. Hironimus.
"Dengan pentas seni budaya ini, saya berharap nilai-nilai budaya menjadi modal berharga yang semakin dihargai dan dilestarikan, sehingga menjadi sarana pewartaan yang berkelanjutan. Jadilah anak-anak misioner yang berani, yang kreatif, dan setia dalam iman, yang membawa terang Kristus ke manapun kalian melangkah," ungkap YM Uskup Agung Kupang kepada anak-anak Sekami.
Sejalan dengan hal tersebut, Dirdios Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Agung Kupang Romo Giovani Aditya L. Arum, Pr menjelaskan Pentas Seni tersebut sebagai ruang pelibatan bagi anak-anak dan remaja untuk mengekspresikan diri dan kreativitas mereka. "Di era gempuran teknologi yang masif, di mana anak-anak dirampas ruang eksrpresi dan kebersamaannya, kita semua memberikan ruang khusus bagi anak-anak dan remaja untuk berekspresi dan membangun kebersamaan dalam karya seni," ungkap Romo Aditya.
"Modernisasi membawa banyak anak dan remaja menjauh dari akar budaya. Inilah momen harapan bagi kita bahwa anak-anak mestinya masih bertumbuh di atas akar budaya mereka. Gereja dan negara punya tugas mulia untuk mendukung dan menciptakan ruang aman bagi anak-anak dan remaja untuk tumbuh dan berkembang dalam meraih mimpi mereka. Kegiatan ini sejatinya sejalan dengan hasil SAGKI (Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia) 2025 dan MUSPAS (Musyawarah Pastoral) Keuskupan Agung Kupang, terkait pendidikan, terutama pendidikan karakter anak dan remaja. Juga terkait dengan Program Pemerintah Provinsi NTT dalam memperkuat upaya perlindungan, peningkatan kualitas hidup, serta pemberdayaan anak dan remaja di NTT," jelasnya.(* /MN)

