Kupang, LIPUTANNTT.com,Sudah terlalu lama kami di dunia pendidikan tinggi bersembunyi di balik menara gading, merasa cukup dengan teori-teori yang diajarkan di ruang kelas, dan menganggap laboratorium kampus adalah miniatur sempurna dari dunia nyata. Namun, realitas berbicara lain. Ketika industri perunggasan modern berubah dalam hitungan detik—dari sistem closed house, smart farming, hingga fluktuasi harga pakan—kami di kampus sering kali masih berkutat dengan modul yang edisi revisinya saja terlambat dua tahun.
Di Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) Undana, keresahan itu memuncak menjadi pertanyaan yang mengganggu tidur : “Apakah ilmu yang kami berikan masih relevan? Apakah lulusan kami akan menjadi tamu asing di industri negeri sendiri?” Dari sanalah lahir keberanian untuk memulai sebuah lompatan kuantum: paradigma _Link and Match_ dan kebijakan MBKM-Magang Berdampak tidak boleh sekadar menjadi jargon. Ia harus diwujudkan dalam langkah konkret, meskipun itu berarti harus keluar dari zona nyaman akademik yang elitis.
Pada 6 Mei 2026, saya menyaksikan sendiri bagaimana sebuah pertemuan taktis bisa menghasilkan tiga dokumen hukum sekaligus: MoU, MoA, hingga Implementation Arrangement dengan PT Charoen Pokphand Indonesia melalui Charoen Pokphand Foundation Indonesia (CPFI). Bagi saya, ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pernikahan strategis antara dua dunia yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Kampus membutuhkan transfer teknologi dan budaya kerja industri, sementara Charoen Pokphand yang sedang berekspansi ke Indonesia Timur membutuhkan pasokan SDM unggul, adaptif, dan siap pakai. Sebuah simbiosis mutualisme yang jujur dan saling menguntungkan.
Kami mendesain kerja sama ini agar langsung menyentuh dua pilar aksi nyata. Pilar pertama: Beasiswa Prestasi dan Sosial Berkelanjutan. Sepuluh mahasiswa terbaik Prodi Peternakan kami terpilih sebagai penerima beasiswa CPFI. Formula yang kami sepakati sangat adil: mayoritas untuk mahasiswa berprestasi dari keluarga tidak mampu, dan sisanya dari jalur prestasi akademik murni. Tapi di sinilah intinya: beasiswa ini bukan hadiah, melainkan sebuah kontrak perjuangan. Setiap penerima wajib mempertahankan kenaikan IPK konsisten, wajib magang intensif di unit-unit usaha Charoen Pokphand, dan yang paling menantang—skripsi mereka harus berorientasi pada pemecahan masalah nyata industri perunggasan, dengan bimbingan dosen sekaligus praktisi CP.
Ini adalah inkubasi yang kami ciptakan untuk mencetak prototype lulusan ideal: manusia-manusia yang mengawinkan teori kampus dengan ketangkasan taktis industri. Saya percaya, dari sinilah akan lahir generasi baru yang tidak hanya mencari kerja, tetapi menciptakannya.
Pilar kedua adalah kuliah umum yang mengubah cara pandang. Dengan tajuk “Outlook Industri Perunggasan Indonesia: Hari Ini Mahasiswa, Besok Pengusaha?”, petinggi CPFI langsung membedah anatomi industri di hadapan mahasiswa S1 dan S2 Magister Peternakan. Saya melihat sendiri mata mahasiswa berbinar saat mendengar tentang closed house system, tantangan ketahanan pangan, hingga peluang menjadi intrapreneur. Pesan yang menancap kuat sore itu: mahasiswa peternakan harus bermetamorfosis dari mentalitas “buruh pencari kerja” menjadi “calon pengusaha” yang siap menaklukkan industri. Bagi saya, ini adalah suntikan imunisasi terbaik melawan mentalitas lemah.
Namun, sebagai seseorang yang sudah lama berkecimpung di dunia akademik, saya tahu betul bahwa tantangan sesungguhnya baru saja dimulai. Saya tidak ingin MoU ini bernasib seperti banyak dokumen lain yang hanya menjadi pajangan di rak dan dilupakan. Setidaknya ada tiga pekerjaan rumah besar yang harus kami kawal bersama.
Pertama, adaptasi kurikulum. Kami harus cukup rendah hati untuk membuka diri terhadap masukan teknis dari industri, sekaligus cukup tegas untuk memastikan bahwa konversi nilai magang sesuai koridor MBKM-Magang Berdampak dan tidak mereduksi esensi capaian pembelajaran. Ini seni menjaga keseimbangan yang tidak mudah.
Kedua, menjaga konsistensi mahasiswa. Mensyaratkan IPK terus naik dan riset industri bermutu tinggi hanya akan menjadi beban jika kampus tidak menyediakan pendampingan internal yang mumpuni. Mahasiswa kami harus membuktikan grit—daya tahan berstandar global—dan kami harus hadir sebagai pelatih yang tangguh di sisi mereka.
Ketiga, fasilitas bersama dan sharing benefit. Impian kami untuk memiliki kandang closed house edukasi sangat mungkin terwujud jika dirancang dengan skema bagi hasil yang profesional dan saling menghormati. Ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi simbol nyata bahwa kampus dan industri bisa berbagi ruang, risiko, dan kemanfaatan secara dewasa.
Kami di FPKP Undana telah memilih untuk tidak lagi berjalan sendiri. Kolaborasi ini adalah angin segar yang menghidupkan optimisme seluruh sivitas akademika. Masa depan cerah bukan lagi impian yang abstrak—ia adalah rencana yang sedang kami jalankan hari ini. Dan saya percaya, dari Nusa Cendana, kami bisa membuktikan bahwa lulusan peternakan bukan hanya cepat diserap pasar, tetapi juga berani menciptakan lapangan kerjanya sendiri. (Marno)

