KUPANG, LIPUTANNTT.com,Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena, menghadiri Seminar Nasional bertema “Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Berdampak” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mandira Kupang pada Kamis (7/5/2026).
Dalam seminar yang digelar secara virtual tersebut, Gubernur NTT bertindak sebagai keynote speech dengan menegaskan pentingnya membangun ekonomi masyarakat berbasis produktivitas, nilai tambah, dan kolaborasi multipihak guna mempercepat pengentasan kemiskinan di NTT.
Menurut Gubernur Melki, salah satu persoalan mendasar yang dihadapi NTT saat ini adalah rendahnya produktivitas masyarakat. Kondisi tersebut berdampak pada tingginya ketergantungan daerah terhadap pasokan dari luar serta memicu defisit perdagangan yang mencapai Rp51 triliun.
“Kita harus mulai pada menuju pemberdayaan dan peningkatan produktifitas. Kita juga harus berhenti menjual bahan mentah saja dan mulai menghasilkan produk bernilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Gubernur menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTT saat ini berfokus membangun ekonomi masyarakat yang berbasis pada peningkatan produktivitas di berbagai sektor, khususnya pertanian, UMKM, ekonomi kreatif, dan kewirausahaan sosial. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendorong peningkatan hasil produksi pertanian melalui pemanfaatan teknologi dan pendekatan yang lebih modern dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga memaparkan tujuh pilar pembangunan NTT, yakni ekonomi berkelanjutan, tata kelola pemerintahan yang baik, pembangunan infrastruktur fisik dan digital, kesehatan, pendidikan, reformasi birokrasi dan hukum, serta kolaborasi multipihak. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci utama dalam menggerakkan pembangunan daerah.
Lebih lanjut, Gubernur menekankan pentingnya pendekatan ekonomi restoratif berbasis desa melalui penguatan ekosistem produksi, pengolahan, pemasaran, hingga akses pembiayaan. Ia menilai selama ini hasil produksi masyarakat di desa belum terkoneksi dengan baik ke pasar sehingga potensi ekonomi lokal belum berkembang maksimal.
“Yang dibutuhkan bukan sekadar program, tetapi ekosistem ekonomi yang terintegrasi dari desa ke pasar,” jelasnya.
Selain itu, Ia menjelaskan Pemerintah Provinsi NTT juga mengembangkan program One School One Product melalui penguatan produksi karya siswa SMA dan SMK yang dipasarkan melalui NTT Mart. Produk yang dihasilkan meliputi kuliner, kriya, hingga teknologi tepat guna.
Kepada mahasiswa, Gubernur mengajak agar terus mengembangkan kreativitas, inovasi, dan kemampuan produktif yang berdampak langsung bagi masyarakat serta menumbuhkan semangat kewirausahaan.
Ia menekankan pentingnya membangun ekonomi rakyat berbasis potensi lokal serta memperkuat kewirausahaan sosial di berbagai bidang. “Saya mengajak kita semua untuk tidak hanya berpikir ‘saya ada’, tetapi ‘saya berproduksi maka saya ada’. Produksi apa saja yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Melalui seminar tersebut, Gubernur NTT berharap tercipta sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, media, komunitas, dan masyarakat dalam membangun NTT yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan.(*/ MN)

