KUPANG, LIPUTANNTT.Com, Ikatan Mahasiswa Amanatun (IMAN) Kupang menggelar Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) angkatan ke-17 di Aula SPNF Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Kupang, Oenesu.
Kegiatan yang dimulai pada Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 08.00 WITA dan berlangsung hingga Minggu tersebut diikuti 20 mahasiswa. Dari jumlah tersebut, lima orang merupakan laki-laki dan 15 orang perempuan.
Ketua IMAN Kupang, Deki Selan, mengatakan MPAB angkatan ke-17 mengangkat tema "Meningkatkan Semangat Berorganisasi dan Mewujudkan Kader yang Bertanggung Jawab dan Berjiwa Penopang.”
Menurut Selan, MPAB merupakan bagian penting dari proses kaderisasi organisasi. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa Amanatun untuk membangun karakter, mengembangkan kemampuan kepemimpinan, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam berorganisasi.
Ia mengatakan, selama masa kepemimpinannya, dirinya berkomitmen membawa IMAN Kupang menjadi organisasi yang lebih baik dan mampu memberikan kontribusi bagi mahasiswa maupun masyarakat Amanatun.
Selan juga menilai keterlibatan Masyarakat Adat Kerajaan Amanatun (MAKANA) dalam kegiatan MPAB menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat adat.
“Dengan keterlibatan MAKANA, kami berharap hubungan antara mahasiswa IMAN Kupang dan masyarakat adat semakin erat sehingga tercipta keharmonisan dalam membangun Amanatun ke depan,” ujar Selan.
Sementara itu, Ketua Steering Committee (SC) IMAN Kupang, Anto Tefi, mengatakan mahasiswa dan pemuda Amanatun memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan daerah, termasuk turut mengawal aspirasi pembentukan daerah otonomi baru Amanatun.
Menurut Anto, kondisi geografis wilayah Amanatun yang relatif jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menjadi salah satu tantangan dalam akses pelayanan masyarakat.
“Kalau Amanatun tidak mekar, maka akan sangat sulit dalam akses pelayanan kemasyarakatan. Secara geografis, jarak Amanatun dengan ibu kota TTS cukup jauh. Karena itu, kami pemuda dan mahasiswa ingin mendukung perjuangan para orang tua dan tokoh adat melalui MAKANA,” katanya.
Ia berharap seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, terus membangun kebersamaan dan memberikan dukungan sesuai kapasitas masing-masing.
Anto mengatakan, ketika moratorium pemekaran daerah dibuka, seluruh elemen masyarakat Amanatun diharapkan telah siap dengan berbagai persyaratan dan langkah yang diperlukan.
Dalam kegiatan tersebut, MAKANA turut hadir memberikan materi dan pembekalan kepada peserta MPAB IMAN Kupang angkatan ke-17.
Sekretaris/Lultunis MAKANA, Oktovianus Nenabu, SE, menyambut baik kesempatan tersebut dan mengapresiasi undangan dari mahasiswa Amanatun.
“Kami sangat senang karena kali ini mendapat kesempatan diundang oleh anak-anak mahasiswa Amanatun untuk membawa materi dalam MPAB IMAN Kupang angkatan ke-17,” ujar Nenabu.
Ia berpesan kepada mahasiswa agar bersungguh-sungguh menuntut ilmu, terus menggali potensi dan mengembangkan bakat masing-masing sebagai bekal menghadapi masa depan serta memberikan kontribusi bagi kampung halaman.
Nenabu menekankan, organisasi mahasiswa harus menjadi wadah untuk mengasah jiwa kepemimpinan sekaligus melahirkan kader-kader muda terbaik Amanatun.
“Adik-adik mahasiswa adalah kader-kader muda terbaik Amanatun ke depan. Karena itu, organisasi harus menjadi tempat untuk mengasah jiwa kepemimpinan dan memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk kampung halaman,” katanya.
Ia berharap IMAN Kupang tidak hanya menjadi wadah berkumpul bagi mahasiswa, tetapi juga mampu melahirkan gagasan dan kegiatan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Salah satunya dengan mendorong pengembangan berbagai potensi ekonomi dan peluang kerja di empat kefetoran di wilayah Amanatun, yakni Noebone, Noebana, Noebokong, dan Noemanumuti.
Raja Amanatun, Drs. Jonatan Banunaek, dalam arahannya mengajak seluruh mahasiswa yang telah bergabung dalam IMAN Kupang untuk bersama-sama mengambil bagian dalam pembangunan Amanatun.
“Sekarang kita sudah bergabung. Maka kami mengimbau mulai sekarang adik-adik mahasiswa mari kita bergandengan tangan untuk membangun kampung kita, Amanatun,” kata Jonatan.
Ia juga menyampaikan bahwa perjuangan pembentukan daerah otonomi baru Amanatun terus dikawal melalui jalur resmi.
Menurut Jonatan, pihaknya telah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah hingga pemerintah pusat terkait proses serta kelengkapan dokumen pemekaran.
“Kami sementara berjuang agar Amanatun mekar. Secara aturan, Amanatun sangat memenuhi syarat untuk mekar setelah kami cek di Provinsi NTT sampai ke pusat, dalam hal ini Kemendagri. Sebelum moratorium dibuka, kami sudah sampai ke Jakarta dan bertemu pihak Kemendagri, Wamendagri, Dirjen, para direktur hingga kasubdit untuk memastikan kembali proses dan kelengkapan yang ada,” ujar Jonatan.
Ia mengajak mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat Amanatun untuk tetap menjaga persatuan serta mengambil bagian sesuai kapasitas masing-masing dalam pembangunan daerah.
Empat Agenda yang Diharapkan Menjadi Perhatian Mahasiswa
Pada kesempatan yang sama, Oktovianus Nenabu menyampaikan empat hal yang diharapkan dapat menjadi perhatian mahasiswa IMAN Amanatun.
Pertama, perjuangan terkait Dermaga Boking. Kedua, mendorong perhatian dan peningkatan status terhadap RS Pratama Boking. Ketiga, menyampaikan permintaan kepada Kementerian Kehutanan terkait anakan cendana. Keempat, mempersiapkan kegiatan Natal dan Tahun Baru 2026 keluarga besar Amanatun.
Nenabu menjelaskan, dalam kegiatan tersebut sebenarnya pihak MAKANA biasanya hadir bersama tiga unsur, yakni Raja Amanatun, Meo Amanatun, dan dirinya. Namun, Meo Amanatun tidak dapat hadir karena sedang mengalami sakit.
Ia berharap empat agenda tersebut dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk turut mengambil peran dalam pembangunan dan kemajuan Amanatun.
“Mulai sekarang mari kita bergandengan tangan. Mahasiswa bukan hanya menjadi kader organisasi, tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan kampung halaman,” pungkasnya.
Pantauan media ini, kegiatan MPAB IMAN Kupang angkatan ke-17 turut dihadiri sejumlah tokoh adat dan perwakilan masyarakat Amanatun, di antaranya Amaf Besar Kefetoran Noebana, Nehum Ninef, serta Usif Neno Apao Eno yang sering disebut Neopbia Makonbikase.
Usif Neno Apao Eno merupakan salah satu tokoh yang disebut sebagai penjaga pintu masuk bagi empat kefetoran, yakni Noebone, Noebana, Noebokong, dan Noemanumuti. Usif Carles Banunaek
Kehadiran para tokoh adat tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap proses kaderisasi mahasiswa Amanatun sekaligus memperkuat hubungan antara generasi muda, organisasi mahasiswa, dan masyarakat adat dalam mendorong pembangunan Amanatun ke depan.(*)

