Adopsi Inovasi Eksternal sebagai Kunci Akselerasi Pembangunan Peternakan di Lahan Kering NTT Oleh: Marno Neno Bunda, Mahasiswa Pascasarjana UNDANA

Pemred Liputan NTT
0

 

KUPANG, LIPUTANNTT.Com, Pembangunan peternakan di lahan kering Nusa Tenggara Timur tidak cukup hanya mengandalkan kearifan lokal yang telah berusia berabad-abad. Sudah saatnya kita secara sistematis mengadopsi inovasi dari luar teknologi pakan, manajemen reproduksi, tata kelola padang rumput untuk melipatgandakan produksi ternak. Gustaf Oematan dari Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan UNDANA telah membuktikan bahwa ragi tape sebagai sumber probiotik mampu menstimulasi pertumbuhan mikroba rumen dan meningkatkan degradasi pakan serat bermutu rendah pada sapi Bali di Kupang Timur. Temuan yang dipublikasikan dalam Jurnal Informasi Pertanian Lahan Kering itu menunjukkan bahwa inovasi bioteknologi sederhana, jika diadaptasi dengan cermat, dapat menjawab persoalan klasik kelangkaan pakan berkualitas di musim kemarau.


Keterbatasan hijauan pakan ternak tetap menjadi penghambat utama, dan riset tentang rumput Odot memberikan jalan keluar yang konkret. Antonius Charlos Mboy, Gustaf Oematan, dan Grace Maranatha menunjukkan bahwa pemotongan pada umur 90 hari menghasilkan biomassa tertinggi, sedangkan umur 30 hari memberikan kandungan nutrisi terbaik. Inovasi manajemen panen semacam ini seharusnya tidak berhenti di jurnal, melainkan diadopsi secara luas melalui penyuluhan yang terstruktur. Tanpa adopsi semacam itu, potensi genetik ternak lokal sebesar apa pun tidak akan pernah terealisasi secara optimal.


Senada dengan itu, Marthen L. Mullik dan I Gusti Ngurah Jelantik merumuskan strategi peningkatan produktivitas sapi Bali pada sistem pemeliharaan ekstensif yang berbasis pada pengalaman NTT sendiri. Mereka juga melaporkan efek positif pemberian hijauan leguminosa pohon bagi sapi dara yang digembalakan di padang rumput alam. Gagasan mereka mengarah pada satu kesimpulan: inovasi dari luar harus diadopsi, tetapi harus diakar pada realitas ekologis dan sosial NTT. Jika tidak, program pembangunan peternakan hanya akan menjadi proyek yang berhenti di tengah jalan.


Dalam konteks konservasi padang rumput, Alfonsus I. Malo dan Gustaf Oematan menawarkan strategi yang memadukan penggembalaan rotasi, sistem silvopastura, serta pemantauan digital menggunakan GPS, drone, dan citra satelit berbasis NDVI. Teknologi penginderaan jauh semacam ini jelas berasal dari luar kebiasaan peternak tradisional, tetapi sangat relevan untuk mencegah degradasi lahan yang terus mengancam daya dukung padang penggembalaan. Adopsi teknologi ini memungkinkan pengambil keputusan di tingkat desa mengatur beban penggembalaan secara presisi, bukan lagi berdasarkan perkiraan. Jika kita menolak inovasi ini dengan alasan keterbatasan biaya, degradasi lahan akan terus berlanjut dan produksi ternak justru menurun dalam jangka panjang.


Inovasi lain yang mendesak adalah teknologi reproduksi berbantuan, sebagaimana diuraikan Ronny Markus Jami Riwu dari Laboratorium Bioteknologi Reproduksi UNDANA. Ia mencatat bahwa adopsi inseminasi buatan, sinkronisasi estrus, sexed semen, dan transfer embrio terbukti meningkatkan angka konsepsi hingga 70 persen dan mempersingkat calving interval menjadi 12–15 bulan. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan kinerja reproduksi alami yang service per conception-nya berkisar 1,16–3,9 dan calving interval mencapai 380–1003 hari. Adopsi teknologi reproduksi dari luar bukan kemewahan, melainkan keharusan jika NTT ingin mempertahankan posisinya sebagai salah satu produsen sapi potong utama nasional.


Dari sisi kesehatan ternak, Malo dan Oematan juga menekankan pentingnya strategi peningkatan sistem kesehatan ternak berkelanjutan di lahan kering. Inovasi manajemen kesehatan dari biosekuriti kandang hingga pemanfaatan probiotik lokalbperlu diintegrasikan ke dalam paket adopsi teknologi secara menyeluruh. Dosen UNDANA melalui program pengabdian masyarakat di Desa Rabeka, Amarasi Timur, telah melatih peternak memproduksi pakan fermentasi dengan EM4 dan gula lempeng lokal untuk menekan biaya pakan. Langkah semacam ini menunjukkan bahwa adopsi inovasi dari luar tidak harus mahal, tetapi harus disertai pendampingan berkelanjutan dan kelembagaan peternak yang kuat.


Adopsi inovasi juga harus menyentuh aspek kelembagaan dan kemitraan, sebagaimana dijajaki Rektor UNDANA, Prof. Jefri S. Bale, melalui kerja sama investasi peternakan modern senilai 45 juta dolar AS atau sekitar Rp720 miliar di Kefamenanu, Timor Tengah Utara. Dalam skema itu, UNDANA berperan sebagai mitra riset dan pengembangan sumber daya manusia, sementara pihak swasta menyediakan bibit, pelatihan, dan jaminan pasar bagi hasil ternak petani lokal. Jika model kemitraan semacam ini direplikasi secara luas, inovasi dari luar tidak hanya masuk melalui jalur akademik, tetapi juga melalui jalur industri yang lebih cepat dan terukur. Inilah bentuk adopsi inovasi yang paling konkret: bukan sekadar mengutip jurnal, melainkan mengubah temuan riset menjadi rantai nilai yang menguntungkan peternak.


Sebagai mahasiswa Pascasarjana UNDANA, saya berpendapat bahwa sikap paling keliru adalah menganggap inovasi dari luar sebagai ancaman terhadap kearifan lokal. Sebaliknya, inovasi eksternal harus diposisikan sebagai alat untuk memperkuat apa yang sudah dimiliki NTT: ternak Bali yang adaptif, padang penggembalaan yang luas, serta sumber daya manusia yang telah lama meneliti lahan kering. Para dosen UNDANA- Oematan, Mullik, Jelantik, Riwu, Malo, dan lainnya telah menghasilkan bukti ilmiah yang cukup bahwa adopsi teknologi tepat guna dapat mengubah lahan kering dari keterbatasan menjadi keunggulan kompetitif. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian politik dan komitmen kelembagaan untuk menerjemahkan bukti tersebut menjadi kebijakan, anggaran, dan pendampingan yang konsisten di lapangan.


Dengan demikian, strategi pembangunan peternakan di lahan kering NTT harus berdiri di atas tiga pilar: adopsi inovasi eksternal yang selektif, penguatan kapasitas peternak rakyat, dan kemitraan multipihak yang berkelanjutan. Inovasi pakan berbasis fermentasi, manajemen padang rumput presisi, teknologi reproduksi berbantuan, serta tata kelola kesehatan ternak terintegrasi bukanlah daftar keinginan yang mustahil, melainkan agenda kerja yang telah memiliki dasar ilmiah yang kuat dari laboratorium dan lapangan UNDANA. Jika kita terus menunda adopsi, lahan kering NTT akan tetap menjadi simbol keterbatasan, padahal ia bisa menjadi contoh bagaimana inovasi mengubah keterbatasan menjadi produktivitas. Sudah waktunya kita berhenti hanya mengagumi inovasi dari luar, dan mulai menerapkannya di tanah sendiri.(*)

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

Melayani permintaan peliputan dan pemasangan iklan banner. Marketing Director (Email: redaksiliputanntt@gmail.com.Contact Person:081236630013). Alamat Redaksi: Jl. Oekam, RT 13/RW 005 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT. Email: redaksiliputanntt@gmail.com. Tlp/Hp: 081236630013 Rekening: BRI: No. Rek. 467601014931533 a.n. Hendrik Missa Bank NTT: No. Rek. 2503210258 a.n. Hendrik Missa