KUPANG, LIPUTANNTT.com,Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menghadiri sekaligus membuka kegiatan Latihan Kader II (Intermediate Training) Tingkat Nasional Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kupang Periode 2025–2026, Senin (19/1), di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Rekonstruksi Intelektual HMI di Era Artificial Intelligence: Etika, Inovasi, dan Arah Baru Peradaban.” Turut hadir Ketua Umum HMI Cabang Kupang Periode 2025–2026 Muhammad Farid Ridha beserta jajaran pengurus, tokoh Islam dan sesepuh HMI, Ketua Panitia Pelaksana Muhammad Faizal dan seluruh anggota, para senior dan alumni HMI, narasumber, fasilitator, serta seluruh peserta Latihan Kader II.
Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang menegaskan bahwa kaderisasi bukan sekadar pelatihan formal, melainkan proses pembentukan karakter dan penempaan calon pemimpin masa depan. Menurutnya, kepemimpinan lahir dari proses panjang yang kerap melalui jalan terjal dan tidak selalu populer.
“Pemimpin harus berani, meskipun tidak populer. Dalam banyak kebijakan, keberanian itu diuji. Namun justru di jalan yang sunyi itulah kebenaran sering ditemukan,” ujar dr. Christian Widodo.
Ia mencontohkan sejumlah kebijakan Pemerintah Kota Kupang yang sempat menuai penolakan publik, seperti pembatasan jam musik hingga dini hari serta kebijakan penggunaan helm full face. Meski menuai kritik pada awalnya, kebijakan tersebut dinilai berdampak positif dalam membentuk ketertiban dan kenyamanan masyarakat.
Wali Kota juga menekankan bahwa keberhasilan kepemimpinan tidak ditentukan oleh keberuntungan semata, melainkan oleh kesiapan dan keberanian dalam memanfaatkan peluang.
“Keberuntungan hanyalah pertemuan antara persiapan dan kesempatan,” tegasnya.
Dalam konteks perkembangan zaman, dr. Christian Widodo menyoroti pentingnya kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, khususnya di era digital dan kecerdasan buatan. Ia mengapresiasi tema kaderisasi HMI yang menempatkan teknologi dalam bingkai etika dan nilai kemanusiaan.
“Artificial Intelligence adalah alat bantu, bukan pemimpin. Manusia harus tetap berada di depan dengan kompas moral dan etika yang kuat,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Wali Kota Kupang juga menyampaikan apresiasi atas kontribusi HMI dalam pembangunan bangsa, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan Kota Kupang. Ia menyebut kader HMI telah banyak menyumbangkan gagasan dan pemikiran strategis bagi kemajuan daerah.
Ia turut memaparkan sejumlah capaian Pemerintah Kota Kupang sepanjang 2025, di antaranya masuk 10 besar Indeks Kota Toleran, meraih predikat Kota Damai dan Inklusif dari Kementerian Dalam Negeri, penghargaan TP2DD Terbaik dari Bank Indonesia, serta penghargaan perencanaan pembangunan tertinggi dari Bappenas setelah 10 tahun.
Berdasarkan survei kepuasan publik yang dilakukan Universitas Nusa Cendana (Undana), tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah Kota Kupang mencapai 80,1 persen, tertinggi sepanjang sejarah pemerintahan kota.
“Capaian ini bukan semata hasil kerja saya dan Wakil Wali Kota, tetapi berkat dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk kader-kader HMI,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Wali Kota mengajak kader HMI untuk terus menjadi “lilin-lilin kecil” yang memberi cahaya melalui kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Kupang, Muhammad Farid Ridha, menegaskan pentingnya rekonstruksi intelektual kader HMI dalam merespons perkembangan kecerdasan buatan dan revolusi digital. Ia menyebut kaderisasi HMI harus menjadi ruang penguatan nalar kritis, nilai, dan idealisme.
Menurut Farid, kader HMI tidak cukup hanya aktif di ruang digital, tetapi juga harus hadir sebagai aktor perubahan nyata, kompas moral di era digital, serta penjaga nurani dalam pembangunan peradaban Islam dan Indonesia.(*/ rpl)

