Kupang, LIPUTANNTT.Com,Pemerintah daerah resmi mencanangkan tujuh pilar strategis sebagai fondasi baru pembangunan wilayah. Ketujuh pilar tersebut meliputi Ekonomi Berkelanjutan, Kesehatan, Pendidikan, Pemberdayaan Komunitas, Pemerataan Infrastruktur Berkelanjutan, Reformasi Birokrasi dan HAM, serta Kolaborasi. Rancangan ini dibuat dengan semangat integrasi, memastikan pembangunan tidak lagi berjalan parsial, melainkan menyeluruh dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, pemerintah menegaskan bahwa Pilar Ekonomi Berkelanjutan menjadi prioritas utama dengan satu kata kunci: hilirisasi. Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menegaskan bahwa hilirisasi sumber daya daerah merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
“NTT tidak boleh lagi hanya menjadi penyuplai bahan mentah. Petani, nelayan, dan peternak kita tidak boleh berhenti di tahap produksi primer. Nilai tambah harus tinggal di NTT, lapangan kerja harus tercipta di desa, dan kesejahteraan harus dirasakan langsung oleh rakyat,” tegas Melki.
Pada tahun pertama kepemimpinannya, pemerintah membangun fondasi ekonomi dengan pendekatan yang tegas dan terukur. Tiga prinsip utama diterapkan, yaitu produksi berbasis pasar, pengolahan dilakukan di dalam daerah, serta pemasaran yang dijamin dan diperluas jangkauannya.
Pemerintah optimistis bahwa arah pembangunan NTT kini semakin jelas. Pembangunan tidak lagi sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi semata, melainkan bertujuan membangun martabat dan masa depan yang lebih adil bagi seluruh lapisan masyarakat. Komitmen ini, menurutnya, akan dirasakan merata dari Manggarai di ujung barat, Alor di timur, hingga Rote di selatan.(*/ hm)


