KUPANG, LIPUTANNTT.Com, Bertempat di Aula Eltari pada Jumat 20 Februari diadakan acara diskusi publik hasil survei kepuasan masyarakat satu tahun kinerja Gubernur dan Wakil Gubernur NTT
Diskusi Publik ini bertujuan mengevaluasi satu tahun kinerja pemerintahan daerah,
mengkaji hasil survei persepsi publik,
serta mengkritisi akurasi data pembangunan sebagai dasar kebijakan.
Data pembangunan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, khususnya terkait kemiskinan dan stunting, menjadi perhatian bersama.
Pertanyaan utama yang perlu didiskusikan:
Apakah data tersebut sudah benar-benar menggambarkan kondisi riil di lapangan?
Apakah intervensi program sudah tepat sasaran?
Diskusi ini juga menjadi ruang dialog konstruktif antara:
pemerintah daerah
akademisi
masyarakat
lembaga survei
termasuk data persepsi publik dari lembaga survei politik (Pospol).
* Dinamika Persepsi Publik terhadap Kinerja Pemerintah
Hasil survei menunjukkan dua kecenderungan:
Ada masyarakat yang mendukung kinerja pemerintah daerah.
Ada pula yang memberikan kritik sebagai bentuk kontrol publik.
Kritik tersebut penting sebagai:
bahan evaluasi kebijakan
penguatan tata kelola pembangunan berbasis data.
Oleh karena itu, komunikasi publik harus terus diperkuat agar pembangunan berjalan transparan dan partisipatif.
* Evaluasi Data Kemiskinan dan Stunting
Berdasarkan data BPS:
angka kemiskinan masih menjadi tantangan utama.
prevalensi stunting di NTT sekitar 20% (data estimasi 2025).
Data ini menunjukkan:
adanya kemajuan,
namun intervensi harus lebih fokus pada keluarga rentan.
Program prioritas yang perlu diperkuat:
layanan kesehatan ibu dan anak
perbaikan gizi masyarakat
sanitasi dan air bersih
perlindungan sosial.
Pendekatan Satu Data Daerah menjadi sangat penting agar:
data program tidak tumpang tindih
intervensi tepat sasaran.
*Capaian Bidang Kesehatan dan Perlindungan Sosial
Beberapa langkah strategis yang telah dilakukan pemerintah provinsi:
Penguatan layanan kesehatan ibu dan anak hingga tingkat kabupaten/kota
Perluasan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin
Program perlindungan sosial bagi sekitar 100.000 masyarakat rentan di 22 kabupaten/kota pada tahun 2025
Program ini menjadi indikator komitmen pemerintah dalam:
menurunkan kemiskinan ekstrem
memperbaiki kualitas hidup masyarakat.
* Transformasi Pendidikan dan Pengembangan SDM
Pemerintah Provinsi NTT terus memperluas akses pendidikan melalui:
pengembangan sekolah vokasi
program sekolah berbasis kebahagiaan (student well-being)
bantuan lebih dari 9.000 buku ajar SD dan SMP
rehabilitasi sekolah di wilayah terpencil
penyediaan perangkat digital pendidikan
peningkatan kapasitas guru.
Selain itu:
program beasiswa dan pendampingan talenta siswa mulai diperkuat untuk mendorong akses ke perguruan tinggi.
Transformasi ini menjadi fondasi menuju NTT Cerdas dan Kompetitif.
* Penguatan Ekonomi Rakyat Berbasis Potensi Lokal
Program pembangunan ekonomi diarahkan pada:
UMKM
sektor peternakan
pertanian lokal (sorgum, jagung)
ekonomi nelayan
ekonomi kreatif dan pariwisata.
Program One Village One Product mulai menunjukkan dampak:
membuka akses pasar
meningkatkan nilai tambah produk lokal.
Kegiatan pameran pembangunan dan festival ekonomi kreatif juga memperkuat branding daerah.
*Infrastruktur dan Transformasi Tata Kelola
Fokus pembangunan 2025 meliputi:
jalan daerah
air bersih
listrik desa
rumah layak huni
kawasan perbatasan.
Selain itu, pemerintah mendorong:
digitalisasi layanan publik
portal satu data daerah
transparansi pengelolaan anggaran.
Transformasi ini menjadi fondasi pembangunan berbasis data (evidence-based policy).
* Catatan Strategis untuk Penguatan Pelayanan Publik
Beberapa rekomendasi dari perspektif akademik dan hasil diskusi:
Validasi data kemiskinan dan stunting berbasis desa.
Integrasi data BPS dengan data sektor pendidikan dan kesehatan.
Penguatan kolaborasi pemerintah–perguruan tinggi.
Perluasan program beasiswa daerah.
Penguatan ekonomi keluarga sebagai strategi utama penurunan stunting.
*Penutup:
Satu tahun pertama kepemimpinan
Melki Laka Lena – Johni Asadoma merupakan fase peletakan fondasi pembangunan.
Ke depan diperlukan:
konsistensi program
penguatan tata kelola berbasis data
kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Dengan semangat Ayo Bangun NTT, diharapkan pembangunan semakin:
inklusif berkelanjutan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.(*)

