Pengukuhan Prof Otto di IFTK Ledalero, Gubernur NTT: "Politik Tanpa Filsafat Kehilangan Arah"

Pemred Liputan NTT
0

KUPANG, LIPUTANNTT.com,Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa praktik politik tanpa pijakan filsafat berisiko kehilangan arah, di tengah realitas sosial yang majemuk dan penuh dinamika ketimpangan.


Penegasan itu disampaikan saat menghadiri Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero dalam rangka pengukuhan Prof. Dr. Otto Gusti Ndagong Madung sebagai Guru Besar Filsafat Politik di Auditorium St. Thomas Aquinas, Ledalero, Kabupaten Sikka, Sabtu (18/4/2026).


“Tanpa filsafat politik yang dipakai, seluruh kegiatan politik kita hari ini bisa kehilangan arah, karena kompasnya ada di sana,” kata Melki.


Ia menilai refleksi filsafat politik menjadi penting bagi Indonesia, termasuk NTT, sebagai ruang kebangsaan yang majemuk dengan latar belakang suku, agama, dan budaya yang beragam. Kondisi ini, menurutnya, berpotensi memunculkan ketimpangan sosial, manipulasi identitas, hingga konflik kepentingan dalam praktik politik.


Melki menyoroti adanya jarak yang kerap terjadi antara gagasan ideal dalam filsafat politik dengan praktik politik di lapangan. Ia menyebut, dinamika tersebut merupakan hal yang terus berlangsung dalam perjalanan bangsa.


“Antara gagasan dan praktik itu pasti ada gap. Kadang mendekat, tapi lebih sering menjauh. Ini dinamika yang selalu terjadi,” ujarnya.


Menurut dia, keadilan sosial sebagai nilai utama dalam filsafat politik tidak boleh berhenti pada tataran konsep, pidato, atau desain sistem, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata pemerintahan yang dirasakan masyarakat.


“Keadilan sosial tidak cukup tampil dalam pidato atau desain sistem politik. Dia harus hadir dalam praktik yang nyata di tengah masyarakat,” tegasnya.


Melki juga mengakui bahwa pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, sering terjebak pada pragmatisme dalam merespons kebutuhan lapangan.


“Kami di politik praktis sering terjebak pragmatisme. Yang penting jalan sesuai kebutuhan, tapi kadang tidak nyambung dengan gagasan besar yang dibangun,” katanya.


Ia menilai ketegangan antara idealitas dan realitas tersebut menjadi ruang penting bagi kontribusi akademisi untuk memberikan kritik dan arah pemikiran bagi pemerintah.


Pada titik itu, Melki menegaskan pentingnya membuka ruang publik yang rasional, inklusif, serta terbuka terhadap dialog dan kritik.


“Ini menjadi kritik bagi kami di pemerintahan agar selalu terbuka terhadap ruang dialog dan kritik dari masyarakat luas, termasuk dari kampus,” ujarnya.


Ia juga menekankan bahwa gagasan akademik tidak boleh berhenti di ruang diskusi, tetapi harus diuji dalam realitas sosial, meskipun seringkali tidak mudah diterima.


“Kehadiran pemikir tidak boleh berhenti pada gagasan. Harus ditabrakkan dengan realitas sosial, walaupun sering tidak mudah diterima, baik oleh kelompok sendiri maupun pemerintah,” katanya.


Melki turut menyinggung dinamika global sebagai contoh benturan gagasan dan kekuasaan, yang menurutnya juga terjadi hingga level lokal.


Lebih lanjut, ia mendorong IFTK Ledalero dan komunitas akademik untuk terus menghadirkan “pesan-pesan kenabian” melalui kajian ilmiah, serta memperkuat dialog antara iman, ilmu, dan realitas sosial-politik.


“Kami berharap tumbuh pemikir-pemikir yang peka terhadap persoalan kemanusiaan dan terus memberi kontribusi gagasan untuk memperbaiki kehidupan sosial,” ujarnya.


Selain itu, Melki juga menyoroti pentingnya seni sebagai medium komunikasi gagasan kritis, termasuk melalui musik, film, dan karya budaya yang mampu menyampaikan pesan kemanusiaan dan kebebasan berpikir.


Gubernur Melki juga menyampaikan proficiat atas pengukuhan Prof. Dr. Otto Gusti Ndagong Madung sebagai Guru Besar Filsafat Politik.


“Atas nama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya menyampaikan selamat dan proficiat atas pengukuhan ini,” ujarnya.


Ia berharap amanah akademik tersebut semakin memperkuat kontribusi Prof. Otto dalam membangun ruang publik yang rasional, inklusif, dan berkeadilan, baik di tingkat nasional maupun dalam konteks pembangunan di NTT.


"Kami juga memberikan apresiasi tinggi kepada Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero sebagai ruang intelektual penting dalam tradisi pemikiran kritis dan refleksi filosofis di Indonesia. IFTK Ledalero tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai komunitas akademik yang konsisten mengembangkan dialog antara iman, ilmu, dan realitas sosial,"tutupnya.


Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, menyebut pengukuhan guru besar merupakan tradisi akademik penting untuk menjaga marwah dan kewibawaan pendidikan tinggi.


“Pengukuhan guru besar adalah bentuk pertanggungjawaban akademik melalui orasi ilmiah, sekaligus menjaga kehormatan kampus,” katanya.


Ia mengungkapkan, dari sekitar 3.000 dosen aktif di NTT, jumlah profesor di perguruan tinggi swasta masih di bawah 1 persen, jauh dari ideal minimal 10 persen.


“Kalau mutu kita optimal, minimal 10 persen atau sekitar 300 profesor. Saat ini belum sampai 1 persen,” ujarnya.


Adrianus menilai kehadiran Prof. Otto sebagai guru besar filsafat politik memiliki nilai strategis karena bidang tersebut masih sangat terbatas, baik di tingkat nasional maupun global.


“Ahli filsafat politik yang lengkap secara akademik tidak banyak, bahkan di dunia. Ini capaian besar bagi NTT dan Indonesia,” katanya.


Ia menambahkan, profesor tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga pemimpin akademik yang harus menghasilkan inovasi, riset berdampak, serta menjadi panutan dalam integritas dan etika akademik.


“Profesor harus mentransformasikan ilmu, mengembangkan, dan menyebarluaskan pengetahuan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.


Adrianus juga menyampaikan bahwa pemerintah melalui Kementerian telah membuka ruang yang lebih luas bagi dosen, termasuk di perguruan tinggi swasta, untuk mengembangkan karier akademik tanpa perbedaan dengan dosen ASN.


Di akhir sambutannya, ia mengingatkan pentingnya efisiensi energi di lingkungan perguruan tinggi melalui pengelolaan operasional yang lebih bijak.


Wakil Rektor IFTK Ledalero, Dr. Yohanes Hans Monteiro, menegaskan bahwa capaian Prof. Otto merupakan hasil konsistensi dalam membangun budaya akademik, termasuk disiplin dalam pengisian beban kerja dosen (BKD), penelitian, dan publikasi ilmiah.


“Menjadi profesor tidak mudah. Harus setia mengajar, aktif meneliti, dan produktif menulis di jurnal bereputasi,” ujarnya.


Ia menyebut dorongan kuat yang dibangun dalam internal kampus telah meningkatkan jumlah publikasi ilmiah dan akses dana penelitian, meskipun masih banyak dosen yang berada pada jenjang awal karier akademik.


Monteiro berharap pengukuhan ini menjadi motivasi bagi dosen lain untuk meningkatkan kualitas akademik, bukan sekadar mengejar gelar, tetapi demi keberlanjutan institusi.


“Profesor harus menjadi teladan, menjaga tradisi ilmiah, dan terus menghasilkan karya yang berdampak bagi masyarakat,” katanya.


IFTK Ledalero sendiri merupakan transformasi dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero yang telah berdiri sejak 1932, dan resmi beroperasi sebagai institut pada 2022. Lembaga ini dikenal memiliki tradisi kuat dalam refleksi filosofis serta kontribusi dalam mencetak misionaris dan pemikir yang berkiprah hingga tingkat global.


Pengukuhan Prof. Otto tidak hanya menjadi pencapaian personal, tetapi juga menegaskan peran kampus sebagai ruang produksi gagasan kritis yang relevan dalam menjawab persoalan sosial, politik, dan kemanusiaan di NTT maupun Indonesia.(*)


Tags

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

Melayani permintaan peliputan dan pemasangan iklan banner. Marketing Director (Email: redaksiliputanntt@gmail.com.Contact Person:081236630013). Alamat Redaksi: Jl. Oekam, RT 13/RW 005 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT. Email: redaksiliputanntt@gmail.com. Tlp/Hp: 081236630013 Rekening: BRI: No. Rek. 467601014931533 a.n. Hendrik Missa Bank NTT: No. Rek. 2503210258 a.n. Hendrik Missa