TANGERANG, LIPUTANNTT.Com,Sebuah pemantik kepedulian sosial kembali menyala dari kalangan generasi muda. Berawal dari membaca rilis berita mengenai seruan Ketua Bidang Sosial Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (ISMAPETI) yang memohon perhatian pemerintah bagi seorang anak penyandang disabilitas berat di Pathau, Kupang, Nusa Tenggara Timur, seorang mahasiswa asal Kabupaten Kupang yang ada di Tangerang langsung tergerak untuk mengambil tindakan nyata.
Namun, yang paling menusuk kalbu adalah satu kalimat sederhana dari sang ayah: "Saya hanya ingin anak saya bisa merasakan udara di luar ruangan." Selama 11 tahun, anaknya hanya terbaring di dalam rumah, terkurung dari hangatnya matahari dan semilir angin. Kalimat itulah yang menjadi pemantik utama bagi Keane Timothy Liufeto, yang akrab disapa Ken, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci, untuk tidak tinggal diam.
Sebagai pihak yang pernah menjalankan International Relations Enrichment Program, Ken memahami betul bahwa membangun hubungan kemasyarakatan internasional yang kuat haruslah berakar dari kepekaan dan solidaritas sosial yang kokoh di dalam negeri sendiri. Dan solidaritas itu, menurut Ken, harus diwujudkan dalam bentuk yang paling dibutuhkan.
Tanpa ragu, aktivis Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UPH ini langsung menyisihkan sebagian uang dari tabungan pribadinya. Namun berbeda dari sekadar bantuan uang tunai, Ken memilih untuk membelikan satu unit kursi roda khusus yang dapat memungkinkan anak tersebut diajak keluar rumah dengan aman. Kursi roda itu menjadi jawaban atas doa sang ayah yang selama 11 tahun hanya bisa melihat anaknya terkurung di dalam ruangan.
Bagi Ken, aksi ini bukan sekadar tentang nominal, melainkan bentuk manifestasi nyata dari kemanusiaan yang melintasi batas geografis. Ken menilai bahwa perhatian terhadap anak-anak disabilitas berat merupakan tanggung jawab moral bersama, dan memberikan mereka kesempatan untuk merasakan kehidupan di luar ruangan adalah sebuah hak dasar yang selama ini terabaikan.
"Aksi peduli sosial ini adalah wujud nyata dari apa yang kami pelajari. Kami belajar untuk menciptakan hubungan kemasyarakatan yang harmonis, dan itu dimulai dengan merangkul mereka yang paling membutuhkan perhatian. Sang ayah hanya minta anaknya merasakan angin. Selama 11 tahun tidak ada yang mendengar. Sekarang, lewat kursi roda ini, setidaknya ada satu mimpi yang terwujud," ungkap Ken.
Melalui kursi roda yang disalurkan dari tabungannya ini, Ken menyelipkan sebuah harapan yang mendalam. Ken sangat berharap agar bantuan ini dapat meringankan beban, memberikan kenikmatan dan sukacita tersendiri bagi orang tua yang berjuang merawat, dan lebih khusus lagi, bagi adik penyandang disabilitas terkasih di Pathau—yang kini untuk pertama kalinya dalam 11 tahun dapat merasakan hangatnya sinar matahari dan semilir angin sore di luar ruangan.
Langkah kecil yang diinisiasi oleh seorang mahasiswa HI UPH ini menjadi sebuah langkah inspiratif. Ken membuktikan bahwa jarak antara Karawaci dan Kupang bukanlah penghalang untuk saling berbagi kasih. Sebuah kursi roda, satu hati yang mendengar, dan sebelas tahun yang akhirnya berlalu—itulah wujud nyata dari sentuhan hati yang bergerak.(MB)

