Kupang, LIPUTANNTT.com,Ada kisah inspiratif dari balik jeruji kandang dan tumpukan buku kuliah di Universitas Nusa Cendana (Undana). Marno, seorang pemuda sederhana asal Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, berhasil mematahkan stigma bahwa mahasiswa eksakta kaku dalam berbahasa. Ia sukses menyabet gelar bergengsi Terbaik 3 Putra Duta Bahasa Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2026.
Prestasi ini terasa begitu kontras. Di satu sisi, tangan Marno terbiasa memegang alat peraga anatomi ternak di Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan Undana. Di sisi lain, ia mampu merangkai diksi dan retorika memukau di atas panggung pemilihan Duta Bahasa, mengalahkan ratusan peserta lain dari berbagai latar belakang keilmuan.
Di balik aktivitasnya sebagai mahasiswa peternakan, Marno ternyata bukan sosok yang berkutat sendirian di laboratorium. Ia dikenal sangat aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan. Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Ketua Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) FPKP Undana, di mana ia memimpin jalannya fungsi legislasi dan pengawasan di tingkat fakultas. Tak hanya di dalam kampus, di tingkat nasional ia juga dipercaya sebagai Ketua Bidang Sosial Masyarakat pada Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (ISMAPETI).
Kesibukan organisasi tersebut tidak menyurutkan nyalinya untuk tetap menyentuh tanah kelahiran. Jauh sebelum meraih gelar Duta Bahasa, Marno adalah bagian aktif dari Tim Peduli Kasih, sebuah gerakan sosial kemanusiaan yang berhasil menyalurkan bantuan dan kepedulian bagi 25.000 jiwa di berbagai pelosok Pulau Timor. Pengalaman turun langsung ke masyarakat inilah yang membentuk kepekaan sosial dan empatinya, sekaligus menjadi bekal berharga dalam menyusun program pengabdian Duta Bahasa.
"Saya tidak pernah menyangka bisa sampai di titik ini. Saya hanya mahasiswa peternakan biasa yang suka membaca dan mendengar cerita orang tua di kampung," ujar Marno, Sabtu (18/4/2026).
Dalam pernyataannya yang penuh kerendahan hati, Marno mengungkapkan rasa syukur mendalam atas pencapaian yang diraihnya. Ia menegaskan bahwa gelar ini bukan sekadar hasil kerja keras pribadi, melainkan campur tangan ilahi dan dukungan moril dari orang-orang terdekat.
"Tuhan sudah atur yang terbaik. Puji Tuhan, saya diamanahkan menjadi juara Terbaik 3 Putra tahun ini. Semua berkat doa dari keluarga, dan semua pihak yang telah mendukung saya dalam semua tahap," tutur Marno.
Keberhasilan Marno menjadi catatan manis bagi Undana, khususnya Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan. Sosoknya kini menjadi simbol bahwa mahasiswa sains pun mampu berdiplomasi dan melestarikan budaya melalui jalur kebahasaan. Dengan latar belakang kepemimpinan di BLM dan ISMAPETI, serta rekam jejak kemanusiaan di Timor, ia membawa misi kuat untuk memadukan pelestarian bahasa daerah Amarasi dengan program pemberdayaan sosial.
Sebagai Duta Bahasa Terbaik 3 Putra NTT 2026, Marno akan mengemban tugas selama satu tahun ke depan untuk mengkampanyekan Trigatra Bangun Bahasa: Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing. Sebuah amanah mulia yang siap ia emban dengan bekal ketekunan ala anak peternakan.
"Pesan saya untuk teman-teman mahasiswa, jangan batasi dirimu hanya pada satu bidang studi. Kejarlah semua potensi. Kalau saya yang dari kandang dan sibuk berorganisasi bisa juara bahasa, kalian pasti juga bisa," pungkas Marno sambil tersenyum lebar.(*)

