TTS, LIPUTANNTT.COM, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berbagi teknologi pupuk hayati kepada para petani di Desa Nobi-Nobi, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Senin (16/2/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari riset dan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan produksi pertanian di lahan kering.
Dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM, Henik Sukorini bersama Erny Ishartati menjelaskan bahwa teknologi yang dibagikan kepada petani telah melalui proses penelitian yang matang.
“Bagian dari penelitian kami itu, sebelum ke petani, kami buktikan dulu kalau bagus baru kami bagikan. Karena temuan kami ini baru pertama kali dicoba di lahan kering di luar Jawa. Selama ini kami uji di lahan kering di Pulau Jawa yang masih relatif subur,” jelas Henik di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, tahun ini UMM bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dalam pelaksanaan penelitian di TTS. Penelitian tersebut dipimpin oleh Ir. I N Prijo Soetedjo, MS, PhD, bersama mahasiswa.
Henik menyebutkan, terdapat empat produk yang dikembangkan, yakni dua jenis pupuk hayati dan dua jenis bakteri. Salah satunya adalah bakteri Mikoriza, yang merupakan temuan tim UMM.
“Miogorisa ini kami kombinasikan untuk memperbaiki pertumbuhan tanaman, terutama dalam kondisi kekeringan dan cekaman air. Hasilnya sangat bagus dan perbedaannya sangat jauh. Di lahan uji coba di Nobi-Nobi ada yang diberi pupuk hayati dan ada yang tidak. Tongkol jagung yang diberi pupuk jauh lebih besar dibanding yang tidak diberi,” ungkapnya.
Dengan hasil tersebut, UMM merasa yakin untuk memperkenalkan dan membagikan teknologi tersebut kepada petani secara lebih luas.
Henik menegaskan, pemilihan Nusa Tenggara Timur sebagai lokasi penelitian bukan tanpa alasan. UMM memiliki prioritas untuk mendukung ketahanan pangan di daerah yang rentan kekurangan pangan.
“Di kampus Muhammadiyah Malang ada tujuan membantu ketahanan pangan untuk mengatasi kekurangan pangan. Dari prioritas itu dipilih NTT. Di NTT bisa Soe, bisa TTU, intinya di wilayah yang mengalami kekeringan. Karena bakteri yang kami temukan khusus untuk mengatasi kekeringan, maka kami minta Undana memilih daerah yang tanahnya kering. Dipilihlah TTS karena musim hujannya lambat datang,” jelasnya.
Desa Nobi-Nobi menjadi lokasi pertama penelitian dan uji coba di TTS. Selain melakukan uji lapangan, tim UMM dan Undana juga mengajarkan secara langsung cara pembuatan pupuk hayati kepada masyarakat.
Bahan untuk membuat pupuk ini sangat banyak di TTS. Jangan bergantung kepada kami. Kami sudah kasih tahu caranya supaya mandiri dan bisa buat sendiri. Tetapi untuk bakteri itu bagian dari teknologi, jadi petani tidak sembarangan membuatnya. Untuk yang masih ragu, silakan buktikan sendiri di lahannya.
Sementara itu, Ir. I N Prijo Soetedjo, MS, PhD dari Undana Kupang mengaku telah mendampingi proses penelitian di Nobi-Nobi selama enam bulan, mulai dari persiapan lahan hingga mendekati panen.
“Saya enam bulan di Nobi-Nobi, dari persiapan lahan sampai panen nantinya. Dari awal petani masih terlihat ragu karena belum lihat hasil. Tetapi setelah melihat hasil seperti tadi, mudah-mudahan mereka tergugah. Musim tanam berikutnya saya harap mereka sudah bisa membuat pupuk ini sendiri,” ujarnya.
Prijo menyadari bahwa dalam proses belajar, petani mungkin belum langsung berhasil sepenuhnya.
“Saya yakin mungkin tidak langsung 100 persen benar. Tapi dari belajar itu mereka akan semakin benar. Kami akan terus mendampingi agar bisa menjadi kebiasaan dan terus dicoba,” tambahnya.
Ia juga menilai kondisi tanah di wilayah TTS sangat beragam, yang justru menjadi potensi untuk pengembangan bioform atau mikroorganisme yang lebih variatif.
“Di Niki-Niki atau khususnya di TTS, tanahnya sangat beragam. Keragaman ini justru memungkinkan bioform-nya lebih beragam di sini,” katanya.(/WL)

