KUPANG, LIPUTANNTT.com,Euforia kemenangan belum sepenuhnya sirna. Baru dua hari berselang sejak dinobatkan sebagai Terbaik III Putra Duta Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur, sosok Marno sudah tak lagi terlihat di pusat kota. Alih-alih merayakan gelar prestisius tingkat provinsi itu, ia memilih menembus jalanan terjal menuju kampung halamannya di pedalaman Amarasi Timur.
Pada Selasa (21/4) pagi, Marno sudah berada di ruang kelas X A SMAN 2 Amarasi Timur. ia datang bukan untuk nostalgia belaka, melainkan langsung menjalankan tugas konstitusional sebagai Duta Bahasa NTT: Membawa semangat literasi ke wilayah-wilayah yang selama ini luput dari sorotan.
Di tengah keterbatasan sinyal dan fasilitas yang serba sederhana, Marno langsung menggelar koordinasi maraton bersama Kepala SMAN 2 Amarasi Timur, Bapak Aloysius Klau, Nahak, S.Pd.,beserta jajaran guru dan Staf Kesiswaan.
Dengan lantang, Marno menyampaikan konsep "Trigarta Bangun Bahasa" sebagai roh pengabdiannya. Ia menekankan bahwa posisi Indeks Literasi NTT yang masih tertinggal secara nasional tidak akan berubah jika program hanya berpusat di kota.
"Saya hadir di tengah daerah pedalaman ini dengan penuh kesadaran. Literasi kita di NTT masih rendah. Maka dari itu, program ini harus hidup di setiap sekolah, dan yang paling penting adalah pelibatan orang tua," tegas Marno.
Menurutnya, mustahil membangun budaya baca dan tulis yang kuat jika rumah dan sekolah berjalan sendiri-sendiri. "Orang tua adalah penentu. Sekolah hanya jembatan, tetapi fondasinya ada di rumah," imbuhnya.
Kehadiran "Kaka Marno" yang kini resmi menyandang status Duta Bahasa Provinsi NTT disambut penuh haru. Kepala Sekolah, Aloysius Klau, Nahak.
"Saya menerima dengan baik dan siap berupaya maksimal untuk menghidupkan kembali literasi di sekolah ini. Sejujurnya, dulu kami sudah punya program serupa, tapi memang jalannya belum optimal. Mungkin ini jawaban atas doa kami, dikirimkan seorang Duta Bahasa yang peduli pada daerah pedalaman," ujar Bapak Aloysius.
Ia berjanji akan segera berkoordinasi dengan Bidang Kesiswaan agar program yang dibawa Marno masuk dalam Program Kerja Prioritas Sekolah. "Ini bukan sekadar wacana, ini adalah mimpi besar kita bersama untuk anak-anak Amarasi Timur," tegasnya.
Sementara itu, Staf Kesiswaan, Bapak Andre Dubu, menyatakan komitmen penuh dari sisi teknis pembinaan siswa. "Saya siap berkoordinasi di bidang kesiswaan. Ini menjadi program kerja kami ke depan.
"PR terbesar kita adalah membangkitkan kesadaran siswa-siswi itu sendiri. Program ini akan sia-sia jika mereka hanya jadi penonton pasif," Tambah Pak Thitus Baok.
Di tengah anggapan umum bahwa Duta Bahasa hanya bertugas di acara-acara seremonial provinsi, Marno mematahkan stigma itu. Baginya, gelar Terbaik III Duta Bahasa Provinsi NTT adalah kunci untuk membuka lebih banyak pintu di pelosok desa.
Kunjungan di Selasa pagi itu menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap literasi di NTT harus dimulai dari ujung negeri. Dengan semangat "Trigarta Bangun Bahasa" (Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah dan Kuasai Bahasa Asing) , Marno berharap gerakan ini menjadi percikan api yang tak kunjung padam di SMAN 2 Amarasi Timur.(*)

