Sekretaris PDI Perjuangan NTT Patris Laliwolo Kembali Turun ke Lapangan Temui Warga Terkena Gempa

Pemred Liputan NTT
0

 

NAGEKEO, LIPUTANNTT.Com,Bencana boleh meninggalkan puing, tetapi kepedulian tidak boleh ikut runtuh. Di tengah masyarakat yang masih berjuang memulihkan kehidupan pascagempa, Sekretaris DPD PDI Perjuangan NTT, Patris Laliwolo, kembali turun menemui warga.

Sabtu, 5 September 2026, bersama jajaran DPC PDI Perjuangan Kabupaten Nagekeo dan Ngada, Patris bergerak dari satu titik ke titik lain. Bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa pesan bahwa warga terdampak tidak boleh berjalan sendirian menghadapi panjangnya masa pemulihan.
Ada terpal yang dibawa ke sekolah. 


Ada sembako yang diserahkan kepada warga. Dan ada satu hal yang terus dikawal: pendataan kerusakan rumah warga harus dilakukan secara transparan, adil, dan tidak boleh menyisakan mereka yang benar-benar terdampak.
“Menemui masyarakat, berbagi kasih dengan memberikan semangat serta mengawal pendataan kerusakan rumah,” demikian inti kegiatan yang disampaikan Patris dalam pembaruan kegiatannya, Sabtu malam.

Terpal untuk Sekolah, Agar Anak-anak Tak Kehilangan Ruang Belajar
Di Nagekeo, bantuan terpal diarahkan ke sejumlah lembaga pendidikan yang membutuhkan ruang kelas darurat.

Terpal diserahkan untuk SDK Kelimado, TKK Satap Kelimado, SDI Wudu, dan SMA FX Boawae. Bantuan serupa juga diberikan kepada SDK Nagesepadhi dan TKK St. Bernadus, Kecamatan Boawae.
Pesannya sederhana, tetapi penting: kegiatan belajar-mengajar harus kembali berjalan meski kondisi bangunan sekolah belum sepenuhnya pulih.
Sebab bagi anak-anak penyintas, bencana bukan hanya soal rumah yang rusak. Bencana juga dapat memutus rutinitas, memindahkan ruang belajar, bahkan mengganggu harapan mereka untuk kembali menjalani kehidupan normal.

Di titik itulah terpal bukan sekadar lembaran penutup ruang. Ia menjadi atap sementara bagi keberlanjutan pendidikan.
Dari Nagekeo Bergerak ke Ngada
Perjalanan kemanusiaan itu berlanjut ke Kabupaten Ngada.

Bersama DPC PDI Perjuangan setempat, Patris menyerahkan sembako kepada masyarakat di Desa Beja, Kecamatan Bajawa.

Distribusi kemudian bergerak ke Kampung Bowio, Desa Ngoranale, serta Kampung Warusoba, Desa Beiwali, Kecamatan Bajawa.
Bantuan yang dibawa terdiri atas kebutuhan dasar masyarakat, antara lain beras, telur ayam, mi instan, selimut tidur, dan susu balita.
Selain sembako, sebanyak 20 terpal juga disalurkan untuk mendukung kebutuhan 10 sekolah di Kabupaten Ngada.

Di tengah situasi pascabencana, bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar kebutuhan paling dasar masyarakat tetap terpenuhi, sembari proses pemulihan berlangsung.

Bukan Sekadar Membagi Bantuan
Yang membuat kegiatan Patris berbeda adalah pesan yang selalu menyertai kehadiran bantuan itu: data kerusakan harus benar-benar menggambarkan kondisi warga di lapangan.
Sebab di balik angka kerusakan rumah terdapat manusia. 

Ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal, ada anak-anak yang kehilangan ruang belajar, dan ada warga yang masih menunggu kepastian tentang bagaimana kehidupan mereka akan dipulihkan.
Karena itu, menurut Patris, pendataan menjadi bagian penting dari proses pemulihan.

Data yang tidak akurat berpotensi melahirkan ketidakadilan. Sebaliknya, pendataan yang terbuka dan sesuai kondisi faktual di lapangan menjadi fondasi agar kebijakan serta anggaran penanganan pascabencana dapat menyentuh mereka yang memang berhak.

Di sinilah perjalanan Patris bersama masyarakat menemukan maknanya: bantuan hari ini untuk meringankan beban, sementara pengawalan data dilakukan untuk memastikan keadilan pada hari-hari berikutnya.
“Terima Kasih Karena Terus Bersama Rakyat”
Kehadiran berulang di tengah masyarakat terdampak juga mendapat apresiasi dari warga.

Masyarakat menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar PDI Perjuangan yang dinilai terus hadir bersama rakyat dalam situasi sulit.
“Terima kasih kepada keluarga besar PDI Perjuangan, yang terus berada bersama rakyat yang lagi menderita dan kesulitan,” demikian ungkapan masyarakat yang disampaikan dalam laporan kegiatan tersebut.

Kalimat itu sederhana. Namun di tengah suasana pascabencana, ia seperti mengetuk ruang batin yang lebih dalam: ketika rumah belum sepenuhnya pulih, ketika ruang kelas masih darurat, ketika kebutuhan pokok masih harus dipenuhi, kehadiran menjadi bahasa kemanusiaan yang paling mudah dipahami.

Patris Laliwolo pun kembali memilih jalan itu—turun, menemui, mendengar, membantu, sekaligus mengawal.
Dari Nagekeo hingga Ngada, dari terpal sekolah hingga sembako bagi keluarga penyintas, langkah itu terus bergerak.
Sebab bagi warga yang sedang berjuang bangkit, terkadang yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan yang datang, tetapi keyakinan bahwa mereka tidak dilupakan. (Ft/tim)

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

Melayani permintaan peliputan dan pemasangan iklan banner. Marketing Director (Email: redaksiliputanntt@gmail.com.Contact Person:081236630013). Alamat Redaksi: Jl. Oekam, RT 13/RW 005 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT. Email: redaksiliputanntt@gmail.com. Tlp/Hp: 081236630013 Rekening: BRI: No. Rek. 467601014931533 a.n. Hendrik Missa Bank NTT: No. Rek. 2503210258 a.n. Hendrik Missa