Mengakhiri Keheningan Aset Gereja: Jalan Baru Menuju Kemandirian Pelayanan Ricky Ekaputra Foeh.,MM Akademisi dan Pengamat Manajemen

Pemred Liputan NTT
0

 

KUPANG, LIPUTANNTT.com,Di banyak kota, gedung gereja tampak mencolok dan menjadi penanda kawasan, tempat berkumpul, dan simbol iman. Setiap akhir pekan, suasana begitu hidup: kursi terisi penuh, musik mengalun, dan berbagai pelayanan berjalan bersamaan. Namun begitu hari-hari itu berlalu, kesibukan sirna. Ruang-ruang luas yang telah dibangun dengan biaya besar kembali sepi hampir sepanjang minggu.


Situasi ini memunculkan pertanyaan yang makin relevan: sampai kapan gereja bertumpu hampir sepenuhnya pada persembahan jemaat? Biaya operasional terus naik seperti listrik, internet, perawatan gedung, keamanan, staf, hingga program sosial. Jika hanya mengandalkan satu sumber dana bukan hanya tidak realistis, tetapi juga membuat gereja rentan. Bahkan sering muncul tekanan tak langsung kepada jemaat untuk terus menopang kebutuhan pelayanan.


Gereja membutuhkan sumber pendapatan mandiri karena pelayanan yang kuat tidak bisa dibangun hanya dengan niat baik. Segala bentuk pelayanan berupa ibadah, kegiatan sosial, pendidikan, hingga pastoral memerlukan fondasi keuangan yang stabil. Ketergantungan penuh pada persembahan menciptakan fluktuasi dan membatasi ruang gerak. Ketika keuangan goyah, pelayanan berubah menjadi reaksi, bukan langkah strategis yang terencana.


Gereja masuk ke dunia usaha bukan demi mengejar keuntungan, melainkan memberi ruang gerak yang lebih bebas bagi gereja. Dengan pendapatan mandiri, gereja tidak perlu menekan jemaat, tidak bergantung pada donatur tertentu, dan dapat mengambil keputusan penting tanpa dihantui kekhawatiran akan pemasukan. Unit usaha menjadi penopang finansial yang menjaga martabat jemaat sekaligus memastikan keberlanjutan pelayanan dari bantuan sosial hingga pembinaan rohani.


Pada akhirnya, usaha gereja adalah alat untuk memperkuat pelayanan, bukan menjadikan gereja sebuah korporasi. Ini tentang kemandirian, profesionalisme, dan tanggung jawab moral dalam mengelola aset. Gereja yang sehat secara finansial dapat bergerak lebih cepat, menjangkau lebih luas, dan memberikan dampak nyata. Dengan landasan keuangan yang kuat, pelayanan tidak hanya berlangsung akan tetapi bertumbuh. Jika gereja ingin tetap relevan, sudah saatnya menata ulang cara memanfaatkan aset dan talenta yang dimilikinya. Bukan untuk menjadikan gereja pusat bisnis, melainkan sebagai bentuk pengelolaan yang bijak atas apa yang telah dipercaya.


Menghidupkan Aset Gereja: Fasilitas yang Bisa Berfungsi Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah


Gedung gereja sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kehidupan masyarakat sepanjang pekan. Dengan aturan yang jelas dan pengelolaan profesional, gereja dapat membuka fasilitasnya bagi berbagai kegiatan. Ini bukan perubahan fungsi, tetapi memperluas manfaat.


Peluang yang dapat dijalankan:


1. Penyewaan Ruangan


Aula untuk seminar, latihan seni, pertemuan komunitas, atau workshop profesional.


Ruang kelas untuk kursus sore, pelatihan keterampilan, dan kelas bahasa.


Ruang ibadah untuk konser kecil, rekaman video, atau konferensi rohani lintas organisasi.


2. Penyewaan Fasilitas Penunjang


Sound system, LED screen, proyektor, dan alat musik.


Ruang musik lengkap untuk latihan band atau paduan suara.


3. Pemanfaatan Area Parkir


Sewa parkir harian atau bulanan bagi pekerja kantor sekitar.


Kerja sama dengan layanan parkir digital.


Hasilnya? Banyak gereja di kota besar mampu menutup biaya operasional hanya dari pemanfaatan aset ini.


Talenta Jemaat: Sumber Daya yang Selama Ini Belum Dioptimalkan


Gereja memiliki kekayaan yang tidak dimiliki banyak lembaga lain: keahlian jemaat yang beragam. Ada pengajar, desainer, fotografer, musisi, konselor, programer, hingga praktisi bisnis. Selama ini, banyak talenta ini hanya aktif di hari Minggu.


Dengan mengorganisasir mereka secara sehat, gereja dapat membuka berbagai program berkualitas.


Jenis usaha berbasis kemampuan jemaat:


Les musik dan vokal.


Pelatihan desain grafis, editing video, coding.


Workshop fotografi dan videografi.


Kelas bahasa Inggris, Mandarin, atau Jepang.


Pelatihan public speaking dan kepemimpinan.


Kelas sound engineering untuk remaja dan pemuda.


Pelatihan administrasi dan literasi keuangan dasar.


Gereja menyediakan tempat dan sistem; para profesional mengajar; hasilnya dibagi secara transparan. Jemaat berkembang, gereja terbantu, dan masyarakat mendapat manfaat.


Pendidikan dan Konseling: Dua Pilar yang Sudah Alami bagi Gereja


Pendidikan adalah salah satu sektor yang alamiah bagi gereja. Begitu pula konseling keluarga.


Jenis usaha pendidikan:


PAUD, TK, dan daycare profesional.

Bimbingan belajar sore untuk anak-anak sekolah.

Kelas persiapan ujian penting.

Kelas baca-tulis untuk anak prasekolah.

Jenis usaha konseling:

Konseling pranikah dan keluarga.

Konseling remaja dan isu adiksi digital.

Pelatihan parenting dan pengelolaan emosi.

Program pendampingan pemulihan relasi.


Bidang ini bukan hanya memberi pemasukan, tetapi juga memperkuat pelayanan gereja secara langsung.


Membentuk Ekonomi Jemaat: Ketika Gereja dan Jemaat Bertumbuh Bersama


Gereja yang peduli pada kemandirian jemaat akan merasakan dampaknya secara langsung. Pemberdayaan ekonomi jemaat bukan hanya bentuk kasih, tetapi strategi keberlanjutan gereja.


Jenis usaha kolaboratif:

1. Bazar UMKM Jemaat


Stand makanan, perlengkapan rumah tangga, produk kreatif, hingga fashion lokal. Gereja mendapat kontribusi kecil yang stabil.


2. Koperasi Gereja


Program simpan-pinjam sehat, alat produksi bersama, hingga toko kebutuhan harian.


3. Café atau Kedai Kopi Mini


Tempat santai bagi jemaat dan masyarakat sekitar; bisa menjadi ruang diskusi dan pertemuan komunitas.

4. Rumah Produksi Kreatif


Merchandise rohani

Konten video atau podcast

Studio foto sederhana untuk UMKM jemaat


5. Kantin Gereja


Dikelola profesional, melayani pengunjung kantor sekitar pada hari kerja.


6. Co-working Space


Ruang kelas yang kosong dapat diubah menjadi tempat kerja fleksibel dengan tarif terjangkau.


7. Layanan Kebersihan dan Perawatan Lingkungan


Unit layanan berbasis jemaat yang dapat melayani masyarakat sekitar.


8. Laundry Mini


Menggunakan salah satu ruang yang jarang dipakai dan dikelola secara profesional.


Semua usaha ini dapat berjalan tanpa mengganggu fungsi utama gereja.


Menjaga Etika: Gereja Tetap Menjadi Gereja


Di tengah berbagai peluang usaha, garis etis harus tetap dijaga: pelayanan rohani tidak boleh diperjualbelikan. Gereja harus memisahkan unit usaha dari pelayanan, menjalankannya secara legal, transparan, dan profesional. Keuntungan usaha harus kembali untuk kepentingan pelayanan dan sosial.


Kemandirian bukan soal bisnis, melainkan tata kelola yang sehat.


Mengapa Kemandirian Gereja Sangat Diperlukan?


Kemandirian finansial memberi gereja ruang untuk fokus pada panggilannya. Gereja tidak lagi harus menggalang dana terus-menerus, tidak menambah beban jemaat, dan tidak khawatir setiap kali biaya operasional naik.


Dengan keuangan yang kuat, gereja dapat:

memperkuat program sosial,

meningkatkan kualitas fasilitas ibadah,

mempekerjakan staf profesional,

memperluas program pendidikan,

bergerak cepat dalam situasi darurat,

dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

Gereja yang mandiri adalah gereja yang lebih siap melayani.


Penutup: Momentum Baru untuk Gereja

Gedung gereja bisa menjadi pusat aktivitas masyarakat. Talenta jemaat yang terpendam bisa menjadi sumber manfaat. Ekonomi jemaat yang berkembang dapat menjadi kekuatan gereja.


Kemandirian finansial bukan hanya tentang pemasukan, tetapi tentang masa depan. Gereja yang mampu menghidupi dirinya akan lebih leluasa menghidupi misinya yaitu melayani, memberdayakan, dan membawa harapan bagi banyak orang.(*)



Tags

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

Melayani permintaan peliputan dan pemasangan iklan banner. Marketing Director (Email: redaksiliputanntt@gmail.com.Contact Person:081236630013). Alamat Redaksi: Jl. Oekam, RT 13/RW 005 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT. Email: redaksiliputanntt@gmail.com. Tlp/Hp: 081236630013 Rekening: BRI: No. Rek. 467601014931533 a.n. Hendrik Missa Bank NTT: No. Rek. 2503210258 a.n. Hendrik Missa