Ruteng, LIPUTANNTT.com,Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena berkesempatan hadir secara daring pada Seminar Nasional INOPTAN IV (Inovasi Teknologi Pertanian Berkelanjutan) dengan tema "Optimalisasi Sumber Daya Lokal Melalui Digitalisasi Untuk Ketahanan Pangan”. Seminar nasional ini diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Katolik Indonesia Santo Paulus Ruteng, pada Senin 19 Januari 2026.
Seminar nasional ini diikuti oleh para akademisi, praktisi pertanian, mahasiswa, penyuluh, serta pemerintah daerah. Seminar ini bertujuan untuk memperkuat peran perguruan tinggi dengan bersinergi bersama pemerintah dalam mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan melalui penerapan teknologi digital, khususnya dalam sektor pertanian guna mendukung ketahanan pangan daerah dan nasional.
Gubernur NTT Melki Laka Lena dalam sambutannya mengungkapkan, ketahanan pangan tidak hanya tentang ketersediaan pangan, tetapi juga pengelolaan berkelanjutan, efisiensi produksi, serta pengoptimalan sumber daya lokal agar memiliki nilai tambah ekonomi.
"Nusa Tenggara Timur memiliki potensi sumber daya alam yang harus dimanfaatkan dengan inovasi dan teknologi tepat guna, khususnya digitalisasi dan pertanian presisi. Penerapan teknologi digital dan penguatan ekosistem pertanian menjadi kunci untuk mendukung ketahanan pangan dan juga meningkatkan ekonomi masyarakat," ungkap beliau.
Beliau juga menyoroti pengembangan kapasitas petani, khususnya generasi muda dan perempuan melalui pendidikan, pelatihan, dan penguatan akses pasar juga menjadi fokus penting. Selain itu, pelestarian dan hilirisasi produk lokal agar tidak dijual dalam bentuk mentah merupakan strategi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk NTT di pasar.
Gubernur mengungkapkan, seminar ini juga sejalan dengan Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 80 Tahun 2024 tentang Rencana Aksi Daerah Percepatan Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal, yang menekankan perlunya sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam mengembangkan pangan lokal secara terintegrasi.
“Saya mendorong agar para Bupati dan Wali Kota di seluruh kabupaten/kota memberikan perhatian dan dukungan anggaran yang memadai bagi pelestarian dan pengembangan pangan lokal, seperti padi lokal, jagung pulut, sorgum, kelor, ubi kayu, ubi jalar, kacang-kacangan, sayuran lokal, dan komoditas lainnya. Langkah ini merupakan bagian dari implementasi Dasa Cita Pertama Program Melki–Johni, yaitu “Dari Ladang dan Laut menuju Pasar”, dari hulu hingga hilir, melalui penguatan produk OVOP (One Village One Product) yang kini berkembang lebih luas dengan OCOP (One Community One Product) dan OSOP (One School One Product) sebagai inovasi baru dalam mendukung ketahanan pangan ke depan,” ungkap Melki.
Ia menjelaskan pentingnya Optimalisasi Produksi dan Hilirisasi Produk dengan tidak hanya dengan penjualan produk mentah melainkan dengan meningkatkan pengolahan dan kemasan untuk menambah nilai jual produk.
“Selain itu, kita juga perlu mendorong keterlibatan aktif generasi muda untuk aktif menggerakkan sektor pertanian dengan bergerak bersama terutama mendorong mahasiswa dan pelajar untuk magang dan berlatih langsung di lapangan pertanian,” ungkap Gubernur Melki.
Untuk diketahui, cakupan-cakupan yang dibahas dalam seminar tersebut diantaranya Sosial Ekonomi Pertanian, Agribisnis, Sistem dan Kelembagaan Agribisnis, Sosiologi Pertanian, Komunikasi dan Penyuluhan Pertanian, Pemasaran dan Tata Niaga Pertanian, Budidaya, Teknologi Benih, Pemuliaan Bioteknologi Tanaman, Hama dan Penyakit Tanaman, Arsitektur, Lanskap Pertanian, Produksi Ternak, Nutrisi Ternak, Teknologi Hasil Ternak, Sosial Ekonomi Peternakan, dan Kesehatan Hewan.( MN)

