MEMBANGUN NTT DENGAN PIKIRAN KRITIS (Sebuah Bisikan Lembut Untuk Saudara Igo Halimaking) Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil.,M.I.Kom Pejalan Sunyi Literasi NTT

Pemred Liputan NTT
0

 

KUPANG, LIPUTANNTT.com,Di hari kemarin saya menulis, “Pak Gubernur, Pendidikan NTT Mau Dibawa Kemana? (Catatan Lepas Untuk Program OSOP NTT). Ada yang menyampaikan secara lisan, mengirim pesan melalui WA dan beberapa yang lain ditulis dalam bentuk artikel untuk menyatakan, setuju dan tidak sedikit yang menyanggah. Sehari kemudian saya menulis lagi, “OSOL Dan/Atau OSOP? (Derma Gagasan Untuk Pendidikan NTT Berkualitas, Merata, Partisipatif, dan Cerdas). Kedua tulisan memiliki keterkaitan yang utuh. Di luar dugaan, semakin banyak tanggapan. Bahkan oleh masuk dalam level “trending topik”.  Secara filosofis, “kehebatan” seorang penulis mencapai puncaknya bukan saat ia menuntaskan tulisan, melainkan ketika tulisannya ditanggapi. 


Dengan demikian, tulisan itu telah melampaui dirinya sebagai teks dan berubah menjadi peristiwa makna. Ia tidak lagi sekadar rangkaian kata, tetapi telah memasuki kesadaran orang lain, mengganggu ketenangan berpikir, atau memantik dialog batin. Dalam pengertian ini, tulisan yang direspon adalah tulisan yang hidup. Terhadap Kedua judul tulisan saya, beberapa yang memberi respons tetapi tidak sedikit yang cenderung reaktif. Saya sudah di posisi (level) ini. Merespon orang atau pembaca yang memang “responsif” dan mengabaikan yang reaktif. 

Oh ya, dari sudut pandang eksistensialisme, respon adalah tanda bahwa tulisan telah menyentuh keberadaan. Responsif itu sendiri adalah sikap. Berangkat dari kesadaran dan jeda reflektif. Subjek tidak menolak rangsangan luar, tetapi mengolahnya melalui nalar, nilai, dan arah pandang. Ia bukan sekadar menjawab apa yang terjadi melainkan memilih bagaimana menjawabnya. Responsif menandakan kedewasaan eksistensial, manusia hadir penuh sebagai subjek yang sadar dan bertanggung jawab. 


Lain halnya tanggapan reaktif. Sebuah sikap yang lahir dari dorongan spontan, naluriah, dan seringkali emosional. Ia muncul ketika subjek ditarik oleh peristiwa dari luar tanpa jarak refleksi. Sikap reaktif menunjukkan manusia yang belum sepenuhnya hadir sebagai subjek bebas. Ia lebih banyak ditentukan oleh rangsangan daripada menentukan diri. Tulisannya tidak substantif dan diksi-diksi yang dipakai cenderung “kasar”. Reaktif itu cepat, tetapi miskin kesadaran. Saya bersyukur, satu-satunya yang “berhasil” merespons tulisan saya adalah Saudara Igo Halimaking (Anggota Forum Diskusi Nalar NTT) dengan judul, “OSOP, Literasi dan Kekeliruan Dikotomi Pendidikan Pasar”. 


Literasi Manata Pikiran


Sekali lagi, terima kasih untuk Saudara Igo Halimaking. Mohon ijin untuk selanjutnya saya panggil, Om Igo. Selamat datang di jalan sunyi literasi NTT. Menanggapi tulisan saya sebagai inisiatif pribadi atau hasil diskusi bersama anggota Forum Diskusi Nalar NTT, tidaklah soal. Intinya kita berjumpa dalam satu arah pandang yang sama. Ingin memeluk dan mencintai NTT lebih lama. Saya menulis ini tidak untuk “membela diri” tetapi mari kita jujur melihat kondisi pendidikan NTT saat ini. Dalam tulisan saya berjudul, “OSOL Dan/Atau OSOP? (Derma Gagasan Untuk Pendidikan NTT Berkualitas, Merata, Partisipatif, dan Cerdas), menampilkan data nilai rata-rata, Tes Kompetensi Akademik (TKA) anak-anak SMA se-Provinsi NTT berada di angka : 33,07. Angka ini menempatkan NTT berada pada level terakhir (terendah) secara nasional.  Nilai KTA anak-anak kita berada pada posisi lima tingkat dibawah Provinsi Papua Pegunungan.

Saya menulis, “Pak Gubernur, Pendidikan NTT Mau Dibawa Kemana” terkait kebijakan program OSOP. Data ini adalah salah satu dari sekian banyak data yang menunjukan dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Judul tulisan ini adalah sebuah bisikan dalam sunyi. Dari kondisi yang mungkin tidak bisa diwakili dalam kata dan warna. Kita sedang berjalan dalam lorong gelap tanpa ujung. Di tengah situasi itulah saya bertanya, “Pak Gubernur, pendidikan NTT mau dibawa ke mana? Saya hanya meminta agar berhenti sejenak dan mari kita menata langkah (kebijakan) yang menyentuh realitas. Saya tidak ingin merespons komentar Om Igo secara detail tetapi saya mencoba meletakkan NTT pada satu peta. Mari kita menatap masa depan NTT dengan jelas, rasional dan profesional.

Salah satu bagian dalam tubuh tulisan, Om Igo menulis, “kekhawatiran bahwa OSOP akan melemahkan literasi justru berangkat dari pemahaman literasi yang terlalu sempit dan abstrak. Literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi praktik sosial yang tumbuh dari kebutuhan, pengalaman, dan relevansi”. Mari kita mulai dari titik ini. Benar bahwa literasi baca dan tulis bukanlah satu-satunya. Namun perlu diingat, membaca dan menulis adalah literasi dasar. Kita mampu memahami aneka jenis literasi lainnnya seperti literasi digital, finasial, kewargaan dan sebagainya, selalu mengandaikan kita sudah selesai dengan literasi dasar. 

Literasi dasar, membaca dan menulis menjadi fondasi bagi seluruh bentuk literasi lain karena di sanalah manusia pertama-tama belajar berelasi dengan makna, simbol, dan dunia. Membaca dan menulis bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan cara manusia memasuki realitas secara sadar. Dalam filsafat bahasa, membaca dan menulis adalah kemampuan memahami dan menghasilkan simbol bermakna. Dunia tidak hadir kepada manusia secara mentah, tetapi dimediasi oleh bahasa. Ketika seseorang mampu membaca, ia belajar menafsirkan tanda; ketika menulis, ia belajar mengendapkan pengalaman menjadi struktur makna. 


Saya ingin menganalogi, literasi dasar (membaca dan menulis) seperti sebuah fondasi cakar ayam untuk gedung bertingkat tempat beberapa literasi lainnya berdiam seperti literasi digital, numerasi, finansial, sains dan literasi budaya. Tanpa kemampuan dasar membaca dan menulis yang kokoh, manusia berhadapan dengan simbol tanpa pintu masuk makna. Membaca melatih kemampuan memahami argumen, relasi sebab-akibat, dan perspektif lain; menulis melatih kemampuan menyusun pikiran secara runtut, kritis, dan reflektif. Berpikir kritis, yang menjadi inti berbagai literasi lanjutan, tidak mungkin berkembang tanpa kebiasaan membaca yang mendalam dan menulis yang reflektif. Dengan kata lain, membaca dan menulis bukan hasil dari berpikir, justru berpikir dibentuk oleh membaca dan menulis. Paulo Freire menegaskan bahwa literasi bukan netral, ia adalah jalan menuju kesadaran kritis (conscientização). Hanya orang yang mampu membaca dan menulis mampu menamai realitasnya, dan yang mampu menamai realitasnya memiliki peluang untuk mengubahnya. Sekali lagi, mari kita jujur, bagaimana mungkin seorang anak mampu memaknai praktik sosial dalam lingkungan sosial,  pengalaman yang dialaminya dan mampu menemukan relevansinya bagi pengembangan diri jika tidak disadari ketrampilan dasar seperti membaca dan menulis. Nah, mari kita menyelam lebih dalam dalam samudra filsafat manusia. Darimanakah pikiran itu dibentuk? 


Pertama, pikiran kritis dibentuk melalui bahasa, terutama melalui membaca dan menulis. Bahasa memberi struktur pada pikiran. Dengan membaca, seseorang berjumpa dengan gagasan lain, perbedaan sudut pandang dan logika yang tidak selalu sejalan dengan pikirannya. Seperti halnya yang sedang kita bangun saat ini. Sebuah dialektika yang “hidup”. Om Igo merespons tulisan saya dan sebaliknya, saya menanggapinya maka pada saat yang sama pikiran kritis itu dibangun. Maaf saja, seorang yang menanggapi tulisan saya secara reaktif maka bisa dipastikan pola hidup kualitas bacaannya rendah. Setelah budaya baca ini dihidupkan maka kita didorong atau terdorong untuk menulis. Menulis itu merapikan pikiran, menguji argumen, dan menyadari celah berpikirnya sendiri. Tanpa latihan bahasa yang reflektif, pikiran mudah jatuh pada repetisi, bukan kritik.

Kedua, pikiran kritis lahir dari pengalaman yang diolah bukan sekadar dialami. Pengalaman menanam terung, cabe dan sebagainya tanpa “diolah” hanya akan melahirkan kebiasaan. Sementara pengalaman yang direfleksikan akan melahirkan pemahaman. Dalam tradisi filsafat Dewey, berpikir kritis tumbuh ketika manusia berhenti sejenak, bertanya mengapa dan bagaimana atas apa yang dialaminya. Pendidikan yang hanya menuntut jawaban benar justru mematikan ruang ini.

Ketiga, pikiran kritis dibentuk oleh keberanian mempertanyakan otoritas. Sejak Socrates, kritik lahir dari sikap aporiori, sebuah kesadaran bahwa kita tidak sepenuhnya tahu. Pikiran kritis tidak identik dengan sikap melawan, tetapi dengan kerendahan hati intelektual untuk tidak menerima sesuatu hanya karena “sudah biasa”, “kata guru”, atau “kata sistem”. Ruang dialog dan perbedaan menjadi rahimnya. Pertanyaan sederhana dengan nada lembut, adakah para guru dan kepala sekolah berani dan mampu mempertanyakan urgensi OSOP kepada Pak Gubernur? Atau adakah anak-anak kita berani kritis terhadap para gurunya atas apa yang dibuatnya di sekolah? Sejauh ini, program OSOP berjalan tanpa ruang kritik. Di titik ini, pikiran kritis tidak bertumbuh. 


Pikiran Membentuk Imajinasi


Pendidikan itu berdiri kokoh pada pikiran sehingga mampu membentuk imajinasi dan proyeksi masa depan. Pada bagian lain, Om Igo menulis, “Dalam banyak bagian (dalam tulisan saya) kritik terhadap OSOP dibangun di atas dikotomi konseptual yang keliru, generalisasi naratif, dan proyeksi ketakutan yang belum memiliki dasar kebijakan faktual. Akibatnya, OSOP diposisikan sebagai ancaman pendidikan humanistik, padahal secara konseptual ia justru berpotensi menjadi jembatan antara pendidikan, realitas sosial, dan literasi kontekstual”. Sebelum menulis, saya sudah berimajinasi, pembaca termasuk Om Igo akan menyoroti titik ini. Mari kita kupas perlahan. Saya baru selesai menjelaskan basis pikiran tulisan saya, bahwa dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Kita belum “selesai” dengan literasi dasar. 


Hemat saya, kebijakan yang ditawarkan seharusnya menjawabi kondisi yang ada. Kalau Om Igo jujur dan membaca tulisan saya secara utuh, saya tidak sedang “menjauhkan anak-anak dari lingkungan sekitar”. Anak-anak harus bebas dengan imajinasinya termasuk berwirausaha. Tetapi mari kita letakkan  fondasi pijakannya. Saya menulis, “jangan sampai “logika pasar” datang terlalu dini di halaman sekolah sementara fondasi pikiran peserta didik belum matang dan kokoh. Jika itu terjadi maka bencana segera kita terima seperti hasil TKA anak-anak jauh berada dibawah garis rata-rata. Bencana di pendidikan itu mulai berdatangan. Inilah proyeksi ketakutan saya. Jelas, logis dan mendasar. 

Saya sepakat saat Om Igo mengutip tradisi filsafat pendidikan modern seperti John Dewey yang menegaskan bahwa pendidikan kehilangan maknanya ketika terlepas dari pengalaman hidup peserta didik. Selain itu, ada Paulo Freire yang memandang kesadaran kerja dan ekonomi sebagai bagian dari pedagogi pembebasan. Seyogianya demikian. Saya tidak sedang meremehkan atau menaburkan pikiran negatif tetapi faktanya, pikiran dari kedua pemikir yang saya hormati ini, konteksnya berbeda dengan kondisi pendidikan NTT saat ini. Sekali lagi, kita belum selesai dengan literasi dasar. Menghadirkan pengalaman produksi di sekolah tanpa fondasi pikiran kritis maka warga sekolah bakal menjadi “kuda Beban” untuk meningkatkan PAD NTT. Padangan ini memang tidak bisa digeneralisasi untuk semua sekolah, saya sepakat di titik itu. Masih ada sekolah yang memiliki kemampuan literasi dasar yang cukup bahkan luar biasa. Tetapi generalisasi naratif dinilai perlu selama dalam bingkai prinsip “maju bersama, hebat semua”. 

Hmm, Om Igo pasti tidak percaya, jika tanya anak SMA kelas 3, apa cita-citanya. Bakal menemukan jawaban yang hampir sama. Saya tidak tahu atau tergantung bapa-mama. Kelas 3 SMA/SMK dan tidak tahu/belum tahu cita-cita, menurut saya, sinyal lumpuhnya imajinasi anak. Ia seperti mobil baru yang mulus tetapi mesinnya mati. Ia berjalan di tempat dan membiarkan “semesta” membawanya berlari. Minta maaf saja, jika kemudian setiap tahun kita terima Kado “peti mati” dari luar negeri, bisa dipastikan ini alasannya. Om Igo, Pak Gubernur berkuasa hanya lima tahun dan kalau rakyat masih percaya dan masih sehat, bisa sampai sepuluh tahun. Namun kebijakan yang tidak dikritisi dan diprogramkan secara matang, bakal merusak generasi NTT hingga puluhan tahun ke depan. 

Bersama Bangun NTT Dengan Pikiran Kritis


Saya merespons Om Igo karena dua alasan. Pertama, menanggapi secara responsif. Sedikit berbeda dengan yang lain. Cendereng reaktif dan lebih mengarah ke sikap “menjilat dan cari muka”. Saya berbayangkan, Pak Gubernur dikelilingi oleh keluarga atau kenalan seperti ini. Api pikiran sudah lemah dan ditambah lagi, “parasit” dengan Pak Gubernur dari sisi ekonomi dan jabatan. Saya yakin, Om Igo tidak berada di posisi ini. Kedua, Om Igo bergabung di sebuah forum diskusi. Namanya juga keren, Nalar NTT. Jika semesta mengijinkan saya ingin ngopi di forum ini. Saya sangat yakin, NTT bakal bertumbuh dan maju jika banyak masyarakatnya bergabung dalam forum diskusi. Bukan forum debat yang hanya sekadar mencari siapa yang benar atau salah. Padahal secara filosofis, tidak ada kebenaran mutlak tetapi yang benar mutlak adalah tidak ada kebenaran mutlak. Kita adalah pejalan kaki yang ingin terus bertumbuh dalam satu cara. 


Hemat saya, saatnya NTT dibangun dengan akal sehat. Mungkin Om Igo masih ingat program, “Tanam Jagung, Panen Sapi” dan “sekolah jam lima pagi”. Lagi-lagi yang selalu jadi korban adalah pihak sekolah. Jika kemudian saya tulis, para kepala sekolah sedang resah, gelisah dan bingung, maka itulah alasannya. Para kepala sekolah dan guru memang harus selalu ber-transformasi tetapi minimal ada basis rasional dibaliknya. Saat ini mereka harus bertransformasi ganda karena harus menyesuaikan kebijakan nasional dan pada saat yang sama harus “mengamankan” program atasan. Benar yang Om Igo tulis bahwa tidak ada regulasi yang mewajibkan sekolah menyetor keuntungan ke PAD, tidak ada indikator kinerja kepala sekolah berbasis laba dan tidak ada juknis OSOP yang mengukur mutu dari nilai ekonomi produk. Sekali lagi untuk konteks NTT saat ini, siapa kepala sekolah yang tidak mau “mengamankan” kebijakan atasan apalagi sekelas gubernur. Para guru dan kepala sekolah NTT itu patuh, tetapi jangan sampai melemahkan posisi tawar mereka hanya karena tidak atau belum memiliki prodak unggulan di sekolah. 


Mari kita bangun NTT. Jangan biarkan Pak Gubernur jalan sendiri dengan satu langkah yang salah. Menulis, mengkritis dan menawarkan solusi adalah cara saya dan kita semua membangun NTT. Daerah ini punya sejuta potensi yang tidak akan pernah habis untuk digali dan dimaknai. Biarlah generasi muda NTT tetapi seperti mobil baru dengan mesin pikiran yang masih segar dan berkualitas. NTT Butuh kita semua.


Epilog


Literasi sebagai syarat praksis, bukan pelengkap. Karl Marx menegaskan bahwa praksis adalah kesatuan refleksi dan tindakan. Membaca dan menulis adalah medium refleksi itu. Praktik sosial yang hanya bertumpu pada kebutuhan langsung tanpa literasi cenderung pragmatis jangka pendek. Literasi membuat kebutuhan dikritisi, diprioritaskan, dan diproyeksikan ke masa depan. Sekali lagi, Paulo Freire menolak literasi yang mekanis. Baginya, membaca dan menulis adalah proses penyadaran kritis. Ketika orang membaca realitasnya dan menuliskannya kembali, ia tidak lagi sekadar korban struktur, tetapi subjek sejarah. Praktik sosial seperti OSOP, tumbuh dari kebutuhan pengalaman tetapi hanya menjadi emansipatoris kalau tidak ditopang literasi kritis.


Akhirnya, praktik sosial yang tumbuh dari kebutuhan pengalaman akan rapuh tanpa literasi. Membaca dan menulis menjadikannya bermakna, terwariskan, kritis, dan adaptif. Literasi bukan tujuan akhir, tetapi fondasi agar pengalaman manusia tidak berhenti sebagai kejadian, melainkan berkembang menjadi kebijaksanaan sosial. Ayo, bangun NTT dengan hati dan pikiran.(*)

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

Melayani permintaan peliputan dan pemasangan iklan banner. Marketing Director (Email: redaksiliputanntt@gmail.com.Contact Person:081236630013). Alamat Redaksi: Jl. Oekam, RT 13/RW 005 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT. Email: redaksiliputanntt@gmail.com. Tlp/Hp: 081236630013 Rekening: BRI: No. Rek. 467601014931533 a.n. Hendrik Missa Bank NTT: No. Rek. 2503210258 a.n. Hendrik Missa