KUPANG, LIPUTANNTT.com,Di tengah hiruk-pikuk gerakan kasih yang menjangkau 44 titik dan hampir 25.000 jiwa di pelosok Timor, satu nama menarik perhatian: Marno Bunda. Bukan hanya karena ia mahasiswa aktif Universitas Nusa Cendana (Undana), tetapi juga karena ia menjalankan amanah sebagai Ketua Bidang Sosial Masyarakat ISMAPETI (Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia) Wilayah V.
Dari Meja Organisasi ke Lorong-Lorong Pelosok
Sebagai Ketua Bidang Sosial Masyarakat ISMAPETI Wilayah V, Marno sebenarnya terbiasa dengan kerja-kerja kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat. Namun, skala kegiatan ini lain dari biasanya. Hanya dua bulan persiapan, medan ekstrem, ribuan anak dan orang tua yang harus dijangkau – semua itu menjadi ujian nyata bagi kemampuan organisasi dan empati.
"Di ISMAPETI, kami dididik untuk tidak hanya pintar di kandang dan ternak, tetapi juga peka terhadap sosial kemasyarakatan. Wilayah V mencakup NTT,Maluku, Sulawesi dan Papua. Ketika panggilan datang dari Timor, saya tidak bisa tinggal diam," ujar Marno.
Menjembatani ISMAPETI dan Aksi Nyata.
Pendataan keluarga peternak yang anak-anaknya bersekolah di 148 sekolah terpencil – karena sebagian besar orang tua bekerja sebagai peternak sapi atau kambing di padang savana Timor.
Distribusi bantuan logistik dan alat tulis yang disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak dari keluarga peternak.
Pendampingan sesi rekonsiliasi khusus bagi para peternak yang selama ini dikenal dengan budaya keras dalam mendidik anak.
Dari Bidang Sosial ke Hati Masyarakat
Marno mengakui bahwa pengalamannya di ISMAPETI membantunya membaca kebutuhan masyarakat dengan lebih tajam. "Kami biasa turun ke kandang-kandang, berbicara dengan peternak yang mungkin tidak tamat SD. Di sini, tantangannya mirip: bagaimana membuat orang tua yang keras hati mau memeluk anaknya sendiri."
Ia juga memastikan bahwa bantuan yang diberikan – mulai dari Alkitab bersuara, hingga perlengkapan sekolah – benar-benar sampai ke tangan anak-anak peternak yang paling membutuhkan. "Jangan sampai bantuan hanya nikmat di kota. Pelosok Timor adalah prioritas kami," tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, kegiatan masih berlangsung di 44 titik kumpul hingga 17 April 2026. Marno berkomitmen untuk terus berada di lapangan, memastikan setiap keluarga – terutama yang berprofesi sebagai peternak – merasakan budaya surga: kasih antara orang tua dan anak.
"Ini adalah bentuk pengabdian saya sebagai mahasiswa peternakan, sebagai putra Timor, dan sebagai pengurus ISMAPETI. Kami ingin masyarakat tahu bahwa organisasi mahasiswa hadir, bukan hanya dalam seminar, tetapi dalam duka dan suka di pelosok," pungkas Marno.
Gerakan kasih terus bergulir. Dan di setiap sudut Timor yang terlupakan, ada Marno Bunda – Ketua Bidang Sosial Masyarakat ISMAPETI Wilayah V – yang diam-diam menuliskan kisah nyata tentang organisasi, hati, dan pengorbanan.(*/ MB)

