Menjaga Nilai Budaya DPC GAMKI Kabupaten Kupang Hadirkan Program “GAMKI JAGA BUDAYA TENUN”

Pemred Liputan NTT
0

 

OELAMASI, LIPUTANNTT.com,Menjaga nilai budaya, terutama budaya menenun yang mulai tergerus dengan peradaban zaman, Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPC GAMKI) Kabupaten Kupang menghadirkan program “GAMKI JAGA BUDAYA TENUN” di Kabupaten Kupang. Pekerjaan menenun telah dilakukan nenek moyang di Indonesia terkhususnya Kabupaten Kupang sejak dahulu kala. 


Untuk itu, sebagai generasi muda sudah seharusnya mempertahankan nilai budaya menenun bukan saja untuk mama-mama tapi juga generasi muda saat ini. Generasi mudah, seharusnya mempelajari nilai budaya menenun sejak dini. Jika bukan generasi saat ini yang mempertahankan nilai budaya menenun maka di suatu saat gerakan menenun hanya menjadi sebuah ceritera dongeng yang diturunkan dari generasi ke Generasi. 


Zaman generasi Z saat ini, para penenun rata-rata berusia 30 tahun keatas, sementara yang berusia 30 tahun ke bawah sulit menemukan penenun. 

Untuk itu, DPC GAMKI Kabupaten Kupang mengunjungi dan memantau setiap kelompok tenun yang ada di Kabupaten Kupang. Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka memantau berapa anak usia muda saat ini yang menekuni budaya menenun. Selain itu, persoalan yang dihadapi oleh para penenun di kelompok tenun masing-masing. 


Setelah mengunjungi kelompok Tenun di Kabupaten Kupang, selanjutnya GAMKI Kabupaten Kupang akan mengambil langkah sentuhan yang akan diberikan ke kelompok tenun. Sebab, bagi GAMKI kabupaten Kupang hasil tenun harus menjadi sumber pendapatan dan juga menciptakan pasar tenun di kabupaten Kupang.  


Gerakan mengunjungi kelompok Tenun, sudah mulai di lakukan, Sabtu (11/4/2026) ke Kelompok Tenun Pasuklo di Bonen Desa Baumata Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang. Kelompok Tenun ini dibina oleh Yayasan Ume Halan yang dibentuk Mantan Ketua Sinode GMIT, Pdt. Dr Merry Kolimon.


Di kelompok Tenun Pasuklo, DPC GAMKI Kabupaten Kupang bertemu langsung dengan Ketua Kelompok Tenun Pasuklo, Yuliana Skau. 


Kelompok Tenun Pasuklo:

Di kelompok Tenun Pasuklo ini, dalam mempertahankan nilai budaya bukan saja melatih orang dewasa untuk menenun tapi juga anak usia SD-SMA bahkan hingga perguruan tinggi. Semua anak usia SD sampai perguruan tinggi di asuh dan dibina oleh Yuliana Skau. Sehingga Yuliana Skau bukan saja sebagai ketua Kelompok Pasuklo tapi juga merangkap sebagai Instruktur Tenun. 


Dihadapan, rombongan GAMKI Kabupaten Kupang yang dipimpin oleh Ketua DPC, Deasy Balo-Foeh, Yuliana Skau mengatakan bahwa saat ini kelompok Tenun mengalami kendala pemasaran. Sehingga dengan hadirnya, DPC GAMKI Kabupaten Kupang di Yayasan Ume Halan membawa secercah harapan dalam melakukan pemasaran tenun. 


Sementara itu, Direktris Yayasan Ume Halan, Pdt Dr Merry Kolimon mengatakan bahwa di Yayasan Ume Halan bukan saja melatih tenun tapi juga ada beberapa tarian tradisional Bonen yang diajarkan. 


Dia berharap DPC GAMKI Kabupaten Kupang dalam program menjaga nilai budaya tenun membawa secercah harapan bukan saja kepada kelompok tenun Pasuklo tapi juga semua kelompok tenun yang ada di Kabupaten Kupang. 

“ Pikiran-pikiran yang disampaikan GAMKI Kabupaten Kupang sungguh brilian. Dan, ini harus didukung oleh Pemerintah, gereja maupun NGO lainnya, dalam meningkatkan Pendapatan Penenun,” ujar Mantan Ketua Sinode 2 periode ini.


Budaya Menenun Mulai Ditinggalkan    

 Sedangkan Ketua DPC GAMKI Kabupaten Kupang, Deasy Ballo-Foeh mengatakan bahwa kehadiran rombongan GAMKI Kabupaten Kupang dalam rangka melihat secara dekat kelompok Tenun Pasuklo Bonen. Sebab, perkembangan zaman, budaya menenun sudah ditinggalkan. Generasi saat ini, lebih memilih pakaian toko daripada memakai hasil tenunan buatan kelompok tenun. 

  “ Melihat perkembangan ini, Kami rencana menggairahkan kembali budaya menenu sampai pada aspek pasarnya. Jika ini berjalan normal maka GAMKI Kabupaten Kupang akan menciptakan pasar tenun bagi kelompok tenun,” beber Ballo-Foeh. 

Sementara itu, Sekertaris Bidang Ekonmi Kreatif (Ekraf) DPC GAMKI Kabupaten Kupang, Yusri Lada mengatakan bahwa untuk menciptakan pasar tenun sebenarnya tidak sulit. Hanya saja membutuhkan dukungan Pemerintah, gereja, tokoh adat serta pemerintah Desa. 

“ Untuk hadirkan pasar tenun dikabupaten Kupang tidak sulit. Saya mempunyai banyak networking yang bisa dimanfaatkan,” ujar Lada. 

Sebab, di GAMKI Kabupaten Kupang sendiri telah didiskusikan banyak tahapan dan masa depan para penenun. Sehingga, hasil tenunan tidak saja laku terjual ketika ada kunjungan luar. Kunjungan luar baik dari pemerintah ataupun toko-toko penting lainya. 


Hadir dalam kunjungan tersebut, selain Ketua DPC GAMKI Kabupaten Kupang, Deasy Ballo – Foeh dan Sekertaris Bidang Ekraf, Yusri Lada tapi juga ada Ketua Harian DPC GAMKI Kabupaten Kupang Paulus Taenglote, Sekertaris Edi Dikson Kaesmetan, wakil Ketua Satu, Salomiel Arnius Buraen (Ari Buraen), Wakil Ketua Dua Yori Benu, Wakil Ketua Lima, Willy David Doko Hae, Ketua Bidang Informasi dan Teknologi, Azor Tameno, Ketua Bidang Ekonomi Kreatif Keyfins A Tameno, Ketua Bidang Pengkaderan Jande O.L Padamabi, Ketua Bidang Sosial dan Budaya Dentus Boineno, Ketua Bidang Pertanian dan Peternakan drh, Fanto Pian dan Sekertaris Bidang Pertanian dan Peternakan Ongky Poen. (GHONLY)

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

Melayani permintaan peliputan dan pemasangan iklan banner. Marketing Director (Email: redaksiliputanntt@gmail.com.Contact Person:081236630013). Alamat Redaksi: Jl. Oekam, RT 13/RW 005 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT. Email: redaksiliputanntt@gmail.com. Tlp/Hp: 081236630013 Rekening: BRI: No. Rek. 467601014931533 a.n. Hendrik Missa Bank NTT: No. Rek. 2503210258 a.n. Hendrik Missa