SOE, LIPUTANNTT.com,Hamparan sabana Timor Tengah Selatan (TTS) era 1980-an bukan sekadar lanskap ilalang yang membentang. Ia adalah lumbung kesejahteraan, saksi bisu keperkasaan Sapi Timor (Bos indicus) yang menjadi pilar ekonomi kerakyatan. "Sebagai anak TTS, saya adalah saksi sekaligus produk dari kejayaan itu," ungkap Franchy Christian Liufeto, seorang akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana) yang dibesarkan dari cucuran keringat orang tua peternak.
Gelar akademik yang ia raih hari ini lahir dari usaha penggemukan sapi yang dilakukan keluarganya. Namun, menatap realitas TTS saat ini, Franchy mengaku hatinya bergetar cemas. Sapi Timor, sang motor penggerak ekonomi, kini berdiri di persimpangan jalan yang mengarah pada kepunahan. Sebuah ironi akut yang telah diperingatkan seperempat abad lalu, namun kini kian menjadi kenyataan pahit.
Pada tahun 2001, sebuah laporan komprehensif pembangunan pertanian di wilayah kering Indonesia telah membunyikan alarm keras: rendahnya pengetahuan teknis dan degradasi kualitas ternak. Kini, catatan itu seolah menjadi naskah yang membeku. Penurunan populasi dan kualitas genetik bukan lagi sekadar prediksi.
Fenomena negative selection terjadi di depan mata. Sapi-sapi yang dikirim keluar daerah tampak kerdil jika dibandingkan dengan raksasa sabana tahun 80-an. Tuntutan kuota dan ekonomi memaksa peternak menjual sapi terbaik mereka, menyisakan ternak "kurang berkualitas" di desa untuk dijadikan indukan. "Tanpa intervensi pemuliaan, kita sedang memproduksi generasi sapi yang secara genetik kian melemah," tegas Franchy.
Tragedi ini diperparah oleh kebijakan predatoris Pemerintah Daerah. Pengejaran Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi pengantarpulauan sapi telah menjadi "berhala" baru. Franchy telah mengingatkan di media online tahun 2025, “Mengejar PAD dari Sapi: Jangan Sampai Mengorbankan Masa Depan Peternakan TTS”. Mirisnya, pengiriman massal ini dipaksakan tanpa pernah ada sensus ternak yang akurat. "Kita berdagang di atas ketidaktahuan," ujarnya, menyoroti celah manipulasi kuota dan izin pengiriman yang seringkali tidak mencerminkan populasi riil di lapangan.
Jika populasi terus dikuras demi target retribusi tanpa upaya restocking yang serius, maka menunggu waktu bagi Sapi Timor untuk menyusul nasib wangi Cendana yang kini hanya tinggal cerita. Dalam teori pembangunan berkelanjutan, Franchy menyebut praktik di TTS ini sebagai extractive institution , di mana pemerintah bertindak sebagai predator yang memanen tanpa pernah menanam.
Padahal, Sapi Timor memiliki potensi besar sebagai produk premium. Karakteristik dagingnya yang rendah lemak dan organik mampu bersaing di pasar nasional. Namun, daya saing itu tidak lahir dari pengiriman massal sapi-sapi kurus, melainkan dari standarisasi kualitas melalui manajemen ternak yang terukur dan modern.
Peta Jalan Penyelamatan: Memutus Rantai Kegagalan
Agar Sapi Timor tidak menjadi dongeng bagi generasi mendatang, Franchy Christian Liufeto mendesak langkah radikal berikut:
1. Transformasi Pembibitan: Inseminasi Buatan (IB) digalakkan, namun tidak boleh menjadi tumpuan tunggal. Harus ada program seleksi pejantan lokal unggul (bull station) di tingkat desa untuk mengembalikan kebanggaan terhadap sapi bibit berkualitas.
2. Kemitraan Inti-Plasma Beretika: Perusahaan penggemukan dan pedagang besar wajib bertransformasi dari sekadar "pengumpul" menjadi "pembina" yang bertanggung jawab terhadap ketersediaan bibit di wilayah plasma.
3. Investasi Teknologi dan Riset: Pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten TTS harus berkolaborasi dengan universitas mitra seperti Undana dalam riset data genetik dan nutrisi yang presisi untuk meningkatkan bobot badan sapi. "Kolaborasi riset ini harus menjadi kewajiban, bukan sekadar opsi," tambahnya.
4. Komitmen Transparansi: Hentikan permainan kuota. Lakukan sensus ternak secara transparan dan berkomitmenlah meningkatkan value chain Sapi Timor, bukan sekadar memanen komoditas curah.
Sebagai anak yang "dibesarkan" oleh Sapi Timor, Franchy Christian Liufeto menanti komitmen kuat para pemangku kebijakan. PAD memang penting, namun jangan sampai diraih dengan mengorbankan masa depan. "Mari menanam hari ini, agar 25 tahun mendatang, anak-anak Timor masih bisa mengenyam pendidikan layak dari sisa kejayaan yang berhasil kita selamatkan. Jangan biarkan Sapi Timor punah," pungkasnya.(Marno)

