KUPANG, LIPUTANNTT.com,Tahun 2019, pada forum orasi dan pertemuan di Kupang, Nagekeo dan Malaka, saya sudah menyuarakan peringatan agar NTT tidak terjebak dalam romantisme angka luas lahan potensial. Sejak 2025 sampai sekarang, berbagai media elektronik dan cetak meliput pernyataan dari investor, politisi dan pemimpin daerah yang menggaungkan serapan ribuan tenaga kerja lokal, telah mampu membangun kepercayaan publik demi mewujudkan ambisi besar untuk menjadikan NTT menjadi lumbung garam nasional. Melalui kacamata empiris dan akademis, saya kembali ingin mengingatkan semua kita agar menjadi "melek" sebab masih ada jurang pemisah antara potensi lahan di atas kertas, luas lahan eksisting yang siap dikerjakan dan rasio ketahanan kerja masyarakat lokal. Jika disparitas ini diabaikan, maka kita hanya menanam bom waktu kekecewaan bagi masyarakat kita sendiri dan beban finansial bagi investor.
Mengapa Rasio Lahan dan Tenaga Kerja Tidak Klop?
Klaim penyerapan puluhan ribu tenaga kerja gagal memahami konteks produktivitas tenaga kerja dan rasio teknis agrobisnis. Kebutuhan tenaga kerja industri garam tidak linier dengan luas wilayah administratif, melainkan sangat bergantung pada desain tata air dan tingkat mekanisasi. Luas lahan potensial adalah luas kotor (gross area) sebab bisa saja setelah dikurangi ladang sawah, saluran air, tanggul, jalan produksi, dan kawasan mangrove, luas efektif (net area) tambak kristalisasi sering kali menyusut hingga tinggal 40%–50%. Jika masih terpaku dengan angka puluhan ribu maka hanya akan menumpuk ribuan pekerja di lahan terbatas tanpa ada peningkatan kapasitas produksi, yang akan menurunkan produktivitas. Contohnya, mempekerjakan 10 orang tenaga kerja di petak yang hanya butuh 2 orang tenaga kerja, justru menciptakan inefisiensi biaya.
NTT Belum Memiliki Budaya Kerja Garam
Aspek krusial yang kerap dilupakan adalah faktor sosiologi dalam bekerja. Dalam orasi saya yang lalu, saya sudah menyoroti, mayoritas masyarakat lokal belum memiliki etos kerja di bawah terik matahari ekstrem secara konstan. Secara antropologis, masyarakat NTT adalah petani lahan kering atau nelayan tradisional yang pola kerjanya bersifat musiman. Bekerja di tambak garam modern menuntut transformasi kultural yang radikal dan ini bukan sekadar tentang "datang dan bawa pulang uang", melainkan komitmen terhadap presisi dan disiplin tinggi. Bekerja di tambak garam adalah perpaduan sains dan ketahanan fisik. Beberapa gambaran pekerjaan dilapangan menuntut manajemen lokasi untuk memastikan tidak ada kebocoran tanggul dan menjaga kebersihan petakan, pemantauan air masuk yang mengatur suplai air laut (feed water) sesuai pasang surut berkala, pengaturan uliran yang mengalirkan air antar-meja evaporator untuk menaikkan kepekatan air tua, pengukuran kadar garam, memanen pada waktu presisi agar kualitas NaCl tinggi, mengarungkan garam dan semua ini dilakukan dibawah terik panas matahari. Ketika para pemangku kepentingan menuntut penyerapan tenaga kerja lokal secara masif, pertanyaannya : Apakah masyarakat kita sudah siap secara fisik dan keahlian untuk ritme kerja seberat yang saya sebutkan diatas? Ketahanan bekerja di ladang garam adalah beban tersendiri bagi pekerja yang belum terbiasa.
Hubungan pemerintah daerah dan investor seharusnya bersifat saling menguntungkan. Jika tenaga kerja lokal hanya bertahan 2–3 jam karena faktor cuaca ekstrem, sementara standar industri menuntut 7–8 jam kerja efektif, maka biaya produksi pembayaran tenaga kerja akan melonjak. Perusahaan sangat dibatasi dengan laba-rugi sehingga tidak mungkin mempekerjakan ribuan tenaga kerja yang tidak produktif, sebab memaksa mitra pemerintah memikul beban finansialnya sendiri. Dampaknya, jelas, investor akan angkat kaki dan proyek menjadi mangkrak.
Solusi Pembangunan Garam yang Rasional
Pokok pikiran saya pada waktu bertemu dengan beberapa tokoh politik dan pemimpin daerah, dapat dijadikan pijakan untuk merumuskan strategi melalui langkah konkrit : a). Melakukan Rekayasa Budaya (Cultural Engineering), dengan membangun pusat pelatihan vokasi garam sebelum menerjunkan masyarakat ke tambak untuk melatih mental, disiplin, dan sains pergaraman; b). Mekanisasi Bertahap yang dilakukan untuk mengatasi keterbatasan fisik pekerja, dengan penerapan teknologi pompa air bertenaga surya dan alat pemanen mekanis (mechanical harvester); c). Jujur melakukan Komunikasi Publik dimana para pemangku kepentingan harus lebih realistis menyampaikan angka serapan tenaga kerja lokal agar tidak berakibat pada menurunnya kepercayaan publik. Lebih baik mengatakan kemampuan menyerap tenaga kerja secara realistis yang terampil dari pada menyampaikan kebutuhan 26.000 ribu pekerja yang serabutan.
Ini bukan pesan pesimisme melainkan optimisme yang rasional. Industri garam NTT memiliki masa depan cerah jika dikelola dengan akal sehat, sains dan kejujuran sosiologis. Mari kita siapkan sumberdaya manusianya, siapkan budaya kerjanya dan ukur lahannya secara presisi agar garam NTT benar-benar menjadi sumber berkat nyata, bukan sekadar komoditas politik.(*)

