Dari Panggung Literasi ke Medan Agrikultur: Marno Tunaikan Janji di TK Kristen, Lanjutkan Diseminasi Sistem Pertanian Sirkular bagi Komunitas Peternak Tuapukan

Pemred Liputan NTT
0

 

OELAMASI, LIPUTANNTT.com,12 Mei 2026– Seorang figur muda kembali menegaskan bahwa hakikat pengabdian adalah menjawab panggilan di berbagai lini kehidupan. Ia adalah Marno, yang dalam satu rangkaian waktu memperlihatkan spektrum tanggung jawab intelektual dan sosial yang saling melengkapi. Minggu 10/05/2026 lalu, Marno hadir dan menepati janjinya di sebuah Taman Kanak-Kanak (TK) Kristen  Sandi Ati, menjalankan perannya sebagai Duta Bahasa. Namun, begitu sesi literasi tersebut usai, ia tidak menarik diri dari tengah masyarakat. Sebaliknya, ia bertransformasi menjadi fasilitator diskusi agraris yang intens bersama warga Tuapukan, mengangkat isu-isu krusial di sektor peternakan rakyat.


Kehadiran Marno di TK Kristen bukan sekadar seremoni, melainkan manifestasi tanggung jawab moral seorang Duta Bahasa untuk menanamkan benih kecintaan terhadap bahasa dan literasi sejak usia emas. Dalam interaksi yang hangat dan edukatif tersebut, ia menegaskan bahwa bahasa adalah fondasi peradaban, sekaligus instrumen pemersatu dalam keberagaman. Akan tetapi, yang membuat langkahnya hari itu menjadi istimewa adalah kontinuitasnya: segera setelah menuntaskan agenda literasi, ia bertolak menuju pusat komunitas peternak di Tuapukan. Di sana, ia menanggalkan peran simbolik Duta Bahasa dan menyingsingkan lengan baju sebagai pemikir dan penggerak di bidang peternakan.


Dalam kapasitas formalnya sebagai Ketua Bidang Sosial Masyarakat pada Ikatan Mahasiswa Peternakan Indonesia (ISMAPETI) dan Ketua Badan Legislatif Mahasiswa Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan (UNDANA)serta dengan bekal akademik sebagai mahasiswa program studi Peternakan, Marno memimpin sebuah forum diskusi partisipatif. Forum tersebut menjadi ruang artikulasi bagi para pelaku usaha ternak lokal yang selama ini bergulat dengan dua tantangan laten: volatilitas harga pakan dan prevalensi penyakit ternak yang berpotensi melumpuhkan produktivitas.


Secara sistematis, warga menyampaikan keresahan mereka. Fluktuasi harga pakan komersial yang cenderung meningkat telah menekan margin keuntungan secara signifikan. Di sisi lain, ancaman penyakit seperti PMK pada sapi potong, ASF pada Babi dan flu burung pada unggas kampung, kerap muncul sebagai faktor mortalitas yang sulit diprediksi dan dikendalikan. Dalam banyak kasus, keterbatasan pengetahuan teknis dan akses terhadap input produksi yang terjangkau memperparah kerentanan ekonomi rumah tangga peternak.


Menanggapi persoalan multidimensional tersebut, Marno tidak menawarkan solusi instan yang bersifat simtomatik. Ia justru membawa satu kerangka pikir yang holistik dan berorientasi jangka panjang: pertanian-peternakan terintegrasi berbasis sistem sirkular. Dalam pemaparannya yang bernas, ia menjelaskan bahwa model konvensional yang linear di mana input diperoleh dari luar dan limbah dibuang begitu saja adalah akar dari inefisiensi dan kerentanan. “Kita harus mengubah cara pandang. Kotoran ternak bukan residu, melainkan bahan baku untuk energi dan kesuburan lahan. Sisa hasil pertanian bukan sampah, tetapi potensi pakan yang belum dioptimalkan,” ujarnya dengan diksi yang terukur dan argumentatif.


Marno mengurai bahwa sistem sirkular ini mengandalkan keterkaitan sinergis antara subsektor tanaman dan ternak. Limbah organik ternak diolah melalui teknologi sederhana seperti biodigester untuk menghasilkan biogas sebagai sumber energi rumah tangga, sekaligus menghasilkan slurry—pupuk organik cair maupun padat berkualitas tinggi. Pupuk tersebut kemudian diaplikasikan pada lahan budi daya hijauan pakan ternak (HPT) unggul. Dengan demikian, terjadi siklus tertutup: nutrisi tidak hilang, biaya produksi untuk pembelian pakan kimiawi dan pupuk sintetis dapat direduksi, serta ketergantungan terhadap rantai pasok eksternal diminimalkan. Lebih jauh, ekosistem kandang yang bersih karena pemanfaatan limbah yang terkelola akan menekan prevalensi patogen, sehingga risiko wabah penyakit dapat diturunkan secara signifikan.


Para peternak menyambut pemaparan tersebut dengan antusiasme intelektual yang tinggi. Diskusi pun berkembang menjadi dialog dua arah yang konstruktif. Seorang peternak menyatakan, “Ini bukan sekadar teori yang tercetak di jurnal. Ini adalah jalan keluar yang aplikatif. Selama ini kami terjebak pada beban pakan dan obat-obatan. Kalau sistem ini bisa diterapkan bertahap, kami yakin kemandirian pakan dan kesehatan ternak bisa tercapai.”


Menutup sesi, Marno menekankan bahwa kehadirannya bukanlah insidental. Ia menginisiasi rencana pendampingan teknis berkelanjutan yang meliputi pelatihan fermentasi pakan berbasis limbah pertanian, pembuatan pupuk organik, dan manajemen kesehatan ternak preventif. “Pemberdayaan masyarakat peternak harus bertumpu pada transfer pengetahuan dan penguatan kapasitas lokal. Inilah esensi dari tanggung jawab intelektual kami,” tegasnya. 


Kisah Marno pada hari itu merepresentasikan potret ideal seorang mahasiswa sekaligus pemimpin komunitas: luwes menebar inspirasi literasi di depan anak-anak usia dini dengan tutur yang santun, namun sigap dan tajam merumuskan solusi agraris berbasis sains di tengah para peternak. Dualitas peran ini menegaskan bahwa di tangan generasi muda yang adaptif dan berwawasan luas, batas antara dunia bahasa dan dunia peternakan bukanlah sekat, melainkan medan pengabdian yang saling memperkaya.(*)

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

Melayani permintaan peliputan dan pemasangan iklan banner. Marketing Director (Email: redaksiliputanntt@gmail.com.Contact Person:081236630013). Alamat Redaksi: Jl. Oekam, RT 13/RW 005 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT. Email: redaksiliputanntt@gmail.com. Tlp/Hp: 081236630013 Rekening: BRI: No. Rek. 467601014931533 a.n. Hendrik Missa Bank NTT: No. Rek. 2503210258 a.n. Hendrik Missa