KUPANG, LIPUTANNTT.com,Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan kondisi sistem keuangan Indonesia tetap stabil dan terjaga sepanjang triwulan I tahun 2026 meski tekanan ekonomi global meningkat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam hasil rapat berkala KSSK II Tahun 2026, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menegaskan koordinasi lintas lembaga terus diperkuat guna menjaga ketahanan ekonomi nasional dari dampak volatilitas pasar global.
“KSSK akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini seiring risiko ketidakpastian ekonomi global yang meningkat,” demikian pernyataan resmi KSSK dalam siaran pers yang diterima media, Jumat (8/5) siang.
KSSK menyebut konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi dunia dan meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan global. Kondisi tersebut berdampak pada penguatan dolar Amerika Serikat serta terbatasnya arus modal ke negara berkembang.
Meski demikian, ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mampu tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 5,39 persen yoy. Pertumbuhan tersebut didorong oleh percepatan belanja pemerintah, konsumsi rumah tangga, serta investasi di sektor prioritas nasional.
Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Desa Nelayan, hingga Sekolah Rakyat disebut menjadi motor penggerak konsumsi dan belanja negara pada awal tahun.
Selain itu, investasi juga meningkat seiring dimulainya proyek hilirisasi Danantara serta pembangunan infrastruktur penunjang program prioritas pemerintah.
KSSK memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2026 dapat mencapai 5,4 persen atau lebih tinggi, ditopang sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan.
Di sisi eksternal, nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan akibat capital outflow. Hingga akhir Maret 2026, rupiah berada di level Rp16.995 per dolar AS dan sempat melemah dibanding posisi akhir 2025. Namun BI melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi pasar valas dan penguatan instrumen moneter.
“Dengan langkah tersebut, nilai tukar Rupiah dapat dijaga relatif stabil pada level Rp17.415 per dolar AS pada 5 Mei 2026,” tulis KSSK.
Sementara itu, inflasi nasional tetap terkendali dalam target pemerintah. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen yoy, turun dibanding Maret 2026 yang mencapai 3,48 persen yoy.
Kinerja sektor perbankan juga dinilai masih solid. Kredit perbankan tumbuh 9,49 persen yoy menjadi Rp8.659 triliun pada Maret 2026, sementara rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross tetap rendah di level 2,1 persen.
Dari sisi pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.048,22 pada akhir Maret 2026 dan mulai menunjukkan penguatan pada awal Mei 2026. Jumlah investor pasar modal juga meningkat menjadi 24,74 juta Single Investor Identification (SID).
KSSK menegaskan seluruh anggota lembaga akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional sekaligus mendukung program prioritas pemerintah dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“KSSK berkomitmen untuk terus meningkatkan sinergi dan memperkuat coordinated policy response serta kewaspadaan untuk memitigasi berbagai risiko yang dapat berdampak terhadap perekonomian dan stabilitas sistem keuangan,” tulis KSSK. (*)

