KUPANG, LIPUTANNTT.Com,(bullying) serta pengawasan ketat keterwakilan gender ini membawa dampak perubahan kultural yang sangat fundamental bagi ekosistem akademik di NTT. Selama bertahun-tahun, lingkungan perguruan tinggi di daerah kerap menormalisasi praktik perundungan terselubung dan kekerasan senioritas atas nama “pembinaan karakter” atau tradisi ospek.
Banyak korban dari kalangan mahasiswa maupun tendik memilih bungkam karena tidak adanya sistem pelaporan yang aman, sehingga memicu gangguan kesehatan mental massal (mental health crisis) yang menurunkan produktivitas riset dan mutu akademik kampus.
Panitia Seleksi (Pansel) Satgas PPKPT Undana, Dr. dr. Nicolas Edwin Handoyo, M.Med.Ed.,
Melalui legalitas Satgas PPKPT yang bersertifikasi kementerian ini, Undana secara radikal sedang mematikan ruang gerak bagi para pelaku kekerasan berkedok senioritas atau relasi kuasa akademik tersebut.
Dampak jangka panjangnya, pembentukan satgas ini memberikan garansi ruang aman, sehat, dan inklusif bagi seluruh sivitas akademika tanpa bayang-bayang trauma psikologis. Ketegasan hukum ini secara instan akan memulihkan citra Undana di mata publik sebagai institusi humanis, yang tidak hanya mencetak sarjana cerdas secara kognitif, melainkan menjamin keselamatan moral dan fisik generasi muda NTT selama menempuh pendidikan.(*)

