AIR MATA DI BALIK TOPI WISUDA : Marno Korbankan Tabungan Wisuda Untuk Sembako, Demi Mahasiswa Flores Yang Orang Tuanya mengungsi dan Hilang Kontak

Pemred Liputan NTT
0

 


KUPANG, LIPUTANNTT.Com,Di tengah hiruk-pikuk persiapan wisuda yang seharusnya menjadi panggung kebanggaan, seorang mahasiswa pascasarjana Universitas Nusa Cendana (Undana) justru memilih jalan yang membuat bulu kuduk merinding. Marno, pria kelahiran Amarasi Timur yang baru saja menyelesaikan studi sarjana dan langsung melesat ke jenjang pascasarjana, dengan berani mengorbankan seluruh tabungan persiapan wisudanya bukan untuk kemeja putih atau gaun, melainkan untuk membeli sembako bagi saudara-saudaranya yang sedang terluka.



Gempa dahsyat yang mengguncang Flores beberapa waktu lalu tidak hanya merobohkan ribuan rumah, tapi juga merobohkan semangat belajar puluhan mahasiswa di perantauan. Mereka adalah anak-anak rantau asal Flores yang kuliah di Kupang. Kini, mereka terjepit di antara tuntutan akademik dan kabar duka dari kampung halaman.


"Ada yang rumahnya luluh lantak. Ada yang orang tuanya masih mengungsi di tenda darurat. Bahkan, ada beberapa teman yang sampai hari ini belum juga mendapat kabar dari orang tua mereka karena jaringan listrik dan sinyal di desa mereka benar-benar putus total," tutur Marno dengan mata berkaca-kaca, Rabu (26/8/2026).


Mereka adalah mahasiswa yang selama ini menggantungkan biaya hidup dan kuliah dari kiriman orang tua. Namun kini, kiriman itu tak kunjung tiba. Sang ayah dan ibu yang biasanya menjadi penopang, kini justru berjuang untuk bertahan hidup di pengungsian. Mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tapi juga kehilangan sumber penghasilan karena lahan pertanian dan kebun mereka rusak tertimbun tanah longsor.


Saat rekan-rekannya sibuk memilih kemeja dan jas untuk wisuda, Marno justru sibuk menghitung rupiah di rekeningnya. Ia menguras hampir seluruh tabungan yang dikumpulkan susah payah selama menjadi mahasiswa uang yang seharusnya ia pakai untuk biaya persiapan wisuda. 


"Apa artinya wisuda mewah jika ada saudara saya yang menangis kelaparan di kos-kosan?" tegasnya.


Dari tabungan itu, ia membeli karung-karung beras, mi instan, telur, dan kebutuhan dapur lainnya. Satu per satu, ia datangi teman-temannya yang berasal dari Kabupaten Sikka, Ende, dan Manggarai yang kini terdampak.


"Membantu bukan berarti saya kaya. Saya lahir dan tumbuh dalam kekurangan. Saya cukup tahu dan paham bagaimana rasanya sulit. Karena itulah, ketika melihat ada yang membutuhkan bantuan, bantulah semampu kita. Saya tidak mau orang lain merasakan derita yang dulu saya rasakan," ujarnya dengan suara bergetar penuh ketegaran.


Memang benar, saat ini semua mata dunia tertuju ke Flores. Bantuan berdatangan dari mana-mana untuk para korban di lokasi bencana. Namun, ada satu kelompok yang sering terlupakan : mahasiswa asal Flores yang berada di perantauan.


Mereka adalah korban tidak langsung gempa. Secara fisik mereka selamat, tapi secara psikis dan ekonomi mereka hancur. Mereka harus tetap kuliah, mengerjakan tugas, dan ujian, sementara hati mereka tercabik-cabik memikirkan orang tua yang belum pasti kabarnya.


"Saya hanya ingin mengingatkan. Saat semua orang mengirim bantuan ke Flores, jangan lupakan anak-anak Flores yang sedang berjuang di kota ini. Mereka butuh sandang, pangan, dan papan. Mereka butuh kepastian," pungkas Marno.


Bagi Marno, gelar sarjana memang penting. Tapi baginya, keberkahan sebuah ilmu adalah ketika ia bisa digunakan untuk menebar kebaikan, bahkan di hari yang seharusnya menjadi hari terbaik dalam hidupnya.


"Wisuda bisa diulang, tapi nyawa dan perut teman-teman saya tidak bisa menunggu," katanya lirih.


Kisah Marno mengajarkan kita semua bahwa kepedulian tidak pernah menunggu gelar. Ketika nanti ia akhirnya mengenakan toga dan berjalan di panggung wisuda, yang paling bersinar bukanlah gaun atau medalinya. Tapi hatinya yang rela mengorbankan segalanya bahkan momen paling berharga sekalipun demi menahan air mata saudara-saudaranya.(*)

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

Melayani permintaan peliputan dan pemasangan iklan banner. Marketing Director (Email: redaksiliputanntt@gmail.com.Contact Person:081236630013). Alamat Redaksi: Jl. Oekam, RT 13/RW 005 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT. Email: redaksiliputanntt@gmail.com. Tlp/Hp: 081236630013 Rekening: BRI: No. Rek. 467601014931533 a.n. Hendrik Missa Bank NTT: No. Rek. 2503210258 a.n. Hendrik Missa