Anggota DPRD NTT dari Fraksi PDI Perjuangan Patris Laliwolo Bersama Tim Jumpa Warga di 6 Posko Pengungsi Gempa Nagekeo

Pemred Liputan NTT
0

 

Nagekeo, LIPUTANNTT.Com,Di tengah proses pemulihan pascagempa Flores yang belum sepenuhnya selesai, kehidupan warga terdampak di sejumlah wilayah Kabupaten Nagekeo masih berlangsung dalam keterbatasan. Sebagian warga masih menempati tenda-tenda darurat, sementara kebutuhan dasar seperti bahan makanan, selimut, susu, obat-obatan serta perhatian khusus bagi bayi dan balita masih menjadi persoalan yang harus terus ditangani.


Kondisi tersebut kembali dijumpai Patris Laliwolo, Sekretaris DPD PDI Perjuangan NTT, saat menyambangi enam titik posko pengungsian di Kabupaten Nagekeo, Minggu, 23 Agustus 2026, seusai mengikuti Misa Hari Minggu.


Kunjungan itu dilakukan bersama Sekretaris DPC PDI Perjuangan Nagekeo Waja Anselmus dan jajaran pengurus ranting partai. Bagi Patris, kehadiran di tengah warga terdampak bukan semata-mata tentang menyerahkan bantuan, melainkan memastikan bahwa suara, kebutuhan dan kondisi pengungsi tetap didengar.


Enam lokasi yang dikunjungi Patris Laliwolo bersama jajaran PDI Perjuangan tersebut yakni Posko Translok Iki Seo, Desa Kota Keo I; Posko Gezu, Kecamatan Nangaroro; Posko Koli, Desa Kotakeo II; Posko Dombe, Kecamatan Nangaroro; Posko Desa Wolowea Timur; serta Posko Lego 3, Kelurahan Natanage Timur, Kecamatan Boawae.


Dari titik-titik tersebut, gambaran yang ditemui relatif sama: masa tanggap darurat belum sepenuhnya berakhir bagi warga. Tenda masih menjadi tempat berlindung. Persediaan kebutuhan pokok belum sepenuhnya mencukupi. Bahkan kebutuhan yang menyangkut kelompok rentan, terutama bayi dan balita, masih membutuhkan perhatian lebih.


Di sinilah hakikat kemanusiaan menemukan maknanya.

Kemanusiaan tidak berhenti pada seberapa banyak bantuan yang diberikan. Ia juga diukur dari seberapa jauh seseorang bersedia hadir, mendengar keluhan, melihat langsung kondisi warga dan memastikan bahwa mereka tidak merasa ditinggalkan ketika bencana mulai kehilangan perhatian publik.

“PDI Perjuangan hadir untuk sesama dan tetap berbagi dari kekurangan,” demikian pesan Patris dalam kunjungannya.

Frasa tersebut menjadi penting ketika warga masih berada dalam situasi serba terbatas. Sebab dalam kondisi bencana, keberpihakan tidak selalu harus menunggu semuanya tersedia. Yang paling mendasar adalah hadir terlebih dahulu, memetakan kebutuhan, menguatkan warga dan menghubungkan kebutuhan tersebut dengan langkah penanganan berikutnya.


Dari Melihat Langsung hingga Memetakan Kebutuhan

Metode penanganan yang dilakukan Patris bersama jajaran partai tampak diarahkan pada pendekatan langsung ke lapangan. Posko didatangi, warga ditemui, kondisi tempat tinggal sementara diperiksa dan kebutuhan dasar dicatat berdasarkan keadaan faktual.


Pendekatan semacam ini penting karena kebutuhan masyarakat terdampak bencana tidak selalu seragam. Ada wilayah yang lebih membutuhkan pangan, sementara titik lainnya membutuhkan air, obat-obatan, perlengkapan bayi, selimut atau dukungan kesehatan.

Karena itu, penanganan tidak cukup hanya dengan mengirim bantuan secara umum. Bantuan perlu bergerak berdasarkan pemetaan kebutuhan, prioritas kelompok rentan, kondisi posko dan perkembangan situasi di lapangan.

Khusus bagi bayi dan balita, perhatian menjadi lebih mendesak. Kebutuhan susu, makanan yang sesuai dan dukungan kesehatan tidak dapat disamakan dengan kebutuhan umum pengungsi.


Di tengah keadaan tersebut, Patris juga memberikan penguatan kepada masyarakat. Warga diajak untuk tetap saling menopang dan saling mendoakan agar masa sulit segera berlalu.


Dialog kemanusiaan seperti ini sederhana, tetapi memiliki arti penting. Sebab bencana bukan hanya merusak rumah dan fasilitas, tetapi juga meninggalkan kecemasan, ketidakpastian dan kelelahan psikologis bagi warga yang mengalaminya.

Maka, kehadiran di posko bukan sekadar menghadirkan barang bantuan. Ia juga menghadirkan rasa bahwa masih ada yang peduli.


Kerja Kemanusiaan Tidak Berhenti di Satu Titik

Kunjungan Patris di Nagekeo berlangsung di tengah kerja kemanusiaan PDI Perjuangan yang juga dilakukan secara berjenjang melalui struktur partai di wilayah terdampak.


Sementara dalam laporan penanganan bencana yang disampaikan Ketua Baguna DPD PDI Perjuangan NTT, Simon Petrus Nilli, jajaran DPC telah menginstruksikan PAC di tiga kecamatan, yakni Lamba Leda Utara, Sambi Rampas dan Elar, untuk memusatkan penanganan di wilayah Pantura dengan membuka dapur umum.

Total terdapat 14 dapur umum yang diarahkan untuk melayani masyarakat terdampak gempa, terutama di lokasi pengungsian yang mengalami dampak cukup berat.


Tim DPC kemudian melakukan kunjungan ke dapur-dapur umum yang telah dibangun sekaligus menginstruksikan agar pasokan sembako segera didistribusikan ke seluruh dapur sebagai bagian dari langkah konkret memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.


Pada 17 hingga 18 Agustus 2026, tim DPP, DPD, DPC dan PAC juga melakukan kunjungan ke empat dapur umum sebagai sampel dari total 14 dapur yang berada di tiga kecamatan tersebut.


Langkah itu memperlihatkan bahwa penanganan bencana membutuhkan kerja yang terstruktur: membuka titik pelayanan, memastikan pasokan, memantau pelaksanaan dan mengevaluasi kebutuhan masyarakat secara berkala.


Dalam situasi bencana, dapur umum bukan sekadar tempat memasak. Ia menjadi simpul pelayanan dasar yang menjaga agar warga tetap memperoleh makanan ketika kehidupan normal belum dapat berjalan kembali.


Ketika Tenda Masih Menjadi Rumah

Kembali ke enam posko di Nagekeo, realitas yang ditemukan Patris Laliwolo menjadi pengingat bahwa proses pemulihan belum selesai hanya karena gempa telah berlalu.


Bagi warga yang masih tidur di tenda darurat, bencana belum menjadi cerita masa lalu. Bagi keluarga yang masih mencari selimut, susu dan obat-obatan, keadaan darurat masih terasa nyata. Dan bagi orang tua yang memiliki bayi serta balita, setiap hari tetap menghadirkan kebutuhan yang harus dipenuhi.

Karena itu, kerja kemanusiaan membutuhkan kesinambungan.

Bukan hanya datang ketika bencana menjadi berita utama, tetapi tetap hadir ketika kamera mulai pergi dan perhatian publik mulai berkurang.


Patris Laliwolo memilih untuk terus bergerak dari satu posko ke posko lainnya. Bersama jajaran partai di daerah, ia tidak hanya membawa pesan tentang bantuan, tetapi juga membawa penguatan bahwa masyarakat tidak berjalan sendirian menghadapi masa sulit.

Sebab pada akhirnya, hakikat kemanusiaan bukanlah berdiri di tempat yang paling nyaman dan berbicara tentang penderitaan orang lain.


Kemanusiaan adalah kesediaan untuk datang, melihat, mendengar, merasakan dan kemudian melakukan sesuatu.

Dari tenda-tenda darurat di Nagekeo, pesan itu kembali terdengar sederhana: ketika rakyat masih membutuhkan, kerja kemanusiaan belum boleh berhenti.

PDI Perjuangan hadir untuk sesama—berbagi dari kekurangan, menguatkan dalam keterbatasan dan terus bergerak sampai warga benar-benar mampu kembali berdiri. (Ft/tim) 

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

Melayani permintaan peliputan dan pemasangan iklan banner. Marketing Director (Email: redaksiliputanntt@gmail.com.Contact Person:081236630013). Alamat Redaksi: Jl. Oekam, RT 13/RW 005 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT. Email: redaksiliputanntt@gmail.com. Tlp/Hp: 081236630013 Rekening: BRI: No. Rek. 467601014931533 a.n. Hendrik Missa Bank NTT: No. Rek. 2503210258 a.n. Hendrik Missa