Matim, LIPUTANNTT.Com,Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur terus bergerak mempercepat penanganan dan perbaikan infrastruktur yang terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Hingga 22 Agustus 2026, gempa tersebut telah diikuti sebanyak 5.335 kali gempa susulan.
Salah satu infrastruktur yang mengalami dampak cukup serius adalah jalan dan Jembatan Dampek pada ruas Jalan Provinsi Reo–Dampek–Pota, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Kerusakan berupa retakan pada oprit jembatan terjadi akibat bencana tektonik tersebut dan sempat mengganggu kelancaran akses masyarakat.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi NTT, Benyamin Nahak, menjelaskan bahwa penanganan kerusakan jalan dan Jembatan Dampek telah dilakukan secara bersama-sama oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT dan Dinas PUPR Provinsi NTT, dengan dukungan mitra kerja, TNI, Polri, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat.
“Perbaikan retakan oprit Jembatan Dampek sudah kita laksanakan. Saat ini pekerjaan terus dipercepat dan ditargetkan pada 23 Agustus 2026 besok, jalan dan jembatan pada ruas jalan provinsi ini sudah kembali normal dan dapat dilalui kendaraan umum,” jelas Benyamin Nahak.
Percepatan penanganan infrastruktur tersebut tidak terlepas dari langkah cepat Gubernur Melki Laka Lena yang terus membangun koordinasi dengan pemerintah pusat dan seluruh unsur terkait dalam penanganan dampak gempa Flores.
"Kami dapat arahan langsung dari Bapak Gubernur Melki Laka Lena setelah kemarin beliau bersama Wapres mengunjungi wilayah Dampek dan kami langsung segera menindaklanjuti arahan beliau," jelasnya.
Gubernur Melki terus mendorong agar penanganan tidak hanya berfokus pada kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga memastikan infrastruktur vital segera dipulihkan. Jalan dan jembatan menjadi perhatian penting karena merupakan jalur utama mobilitas masyarakat sekaligus akses distribusi bantuan logistik ke wilayah-wilayah terdampak.(*/ BS)

