Ketua DPD PDIP NTT Yunus Takandewa Gerakan Gotong Royong Baguna dan Struktur PDI Perjuangan Menyusuri Jejak Penderitaan Warga Flores

Pemred Liputan NTT
0



Ende, LIPUTANNTT.Com, Bencana tidak hanya meninggalkan rumah-rumah yang rusak dan warga yang harus bertahan di tenda pengungsian. Di balik itu, ada kebutuhan dasar yang mendesak untuk segera dipenuhi: air bersih, pangan, tempat berlindung, dan pelayanan kemanusiaan.
Dalam situasi tersebut, Ketua DPD PDI Perjuangan NTT, Yunus Takandewa, menggerakkan kerja gotong royong kader, struktur partai, dan Badan Penanggulangan Bencana (BAGUNA) PDI Perjuangan untuk menyusuri sejumlah lokasi terdampak gempa M7,7 di Flores.

Kerja kemanusiaan itu bergerak dari satu kebutuhan ke kebutuhan lainnya. Dari distribusi air bersih di Maukaro, Kabupaten Ende, penyaluran pangan di Lela, Kabupaten Sikka, hingga aktivitas dapur umum yang melibatkan langsung jajaran pimpinan partai dan kader di lapangan.


Maukaro: Ketika Air Bersih Menjadi Kebutuhan Mendesak
Rabu (19/8/2026), Yunus Takandewa bergerak menuju Kecamatan Maukaro, wilayah bagian utara Kabupaten Ende.
Selain membawa bantuan sembako, Yunus membawa dua buah tandon air dan dua mobil tangki berisi air bersih untuk membantu warga terdampak yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Kebutuhan air bersih tersebut diketahui melalui informasi yang disampaikan Ketua PAC PDI Perjuangan Maukaro. Informasi dari lapangan itu kemudian menjadi dasar bagi struktur partai untuk menghadirkan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan warga.

Dalam pergerakan tersebut, Yunus Takandewa turut didampingi dua anggota DPRD Kabupaten Ende dari Fraksi PDI Perjuangan, Vinsen Sangu dan Nando Watu.
Langkah itu memperlihatkan satu prinsip sederhana dalam kerja kemanusiaan: bantuan semestinya berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.
Ketika warga membutuhkan air, maka air harus dihadirkan. 


Ketika warga membutuhkan pangan, maka pangan harus disalurkan. Dan ketika warga masih bertahan di tenda, maka kerja kemanusiaan harus tetap berada di tengah mereka.

Air bersih dalam situasi pascabencana bukan sekadar bagian dari bantuan logistik. Ia menyentuh kebutuhan paling dasar warga, mulai dari kebutuhan untuk minum hingga menjaga kebersihan dan kesehatan selama berada di lokasi pengungsian.
Dari Maukaro ke Tarungawan, Lela
Kerja gotong royong itu tidak berhenti di Kabupaten Ende.
Di Dusun Tarungawan, Desa Iligai, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Lusia Adinda Dua Nurak dan Emanuel Kolfidus turut bergerak menyambangi warga terdampak.

Bantuan yang disalurkan berupa beras, telur, dan air minum. Bantuan tersebut menyasar kebutuhan dasar warga yang masih menghadapi dampak bencana.
Penyaluran bantuan turut dihadiri Camat Lela, Kons Saru, serta aparatur Desa Iligai.
Kehadiran pemerintah kecamatan dan aparatur desa dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari koordinasi di lapangan, sekaligus memperlihatkan bahwa penanganan warga terdampak membutuhkan kerja bersama dengan mengutamakan kebutuhan masyarakat.
Beras dan telur menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan pangan. Sementara air minum menjawab kebutuhan yang tidak dapat ditunda dalam kondisi darurat.
Di tengah keterbatasan akibat bencana, bantuan tersebut bukan hanya soal jumlah barang yang disalurkan. Lebih dari itu, ia menjadi bentuk kehadiran untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap mendapat perhatian.

BAGUNA dan Struktur Bergerak dari Kebutuhan Lapangan
Di sejumlah titik terdampak lainnya, BAGUNA PDI Perjuangan bersama struktur dan kader partai juga mengambil bagian dalam kerja kemanusiaan.
Pergerakan dilakukan sesuai kebutuhan yang ditemukan di lapangan, mulai dari distribusi bantuan, dukungan terhadap posko, hingga pelayanan kepada warga terdampak.

Pola kerja seperti ini menjadi penting karena kebutuhan masyarakat di setiap lokasi tidak selalu sama.

Di satu tempat, warga membutuhkan air bersih. Di tempat lain, kebutuhan paling mendesak berupa makanan dan bahan pangan. Ada pula warga yang membutuhkan dukungan karena rumah mereka mengalami kerusakan dan kehidupan sehari-hari belum kembali normal.
Karena itu, kerja kemanusiaan tidak cukup hanya mengandalkan satu pola bantuan.
Data menjadi dasar gerak. Kondisi lapangan menjadi penentu. Dan kebutuhan warga menjadi arah pelayanan.

Prinsip tersebut membuat kerja gotong royong tidak berhenti pada kehadiran simbolik, tetapi diarahkan pada tindakan yang dapat langsung dirasakan masyarakat.
Emelia Julia Nomleni Membaur di Dapur Umum

Semangat gotong royong juga terlihat dalam kerja Ketua DPRD NTT, Emelia Julia Nomleni, yang secara terpisah turut terlibat dalam pelayanan kemanusiaan di dapur umum yang dibangun PDI Perjuangan.
Emelia tidak sekadar hadir menyaksikan aktivitas dapur umum.

 Ia turut membaur dan mengambil bagian dalam menyiapkan makanan siap saji bagi warga terdampak.

Dapur umum menjadi salah satu simpul pelayanan penting dalam situasi bencana. Ketika sebagian warga kehilangan akses terhadap dapur rumah tangga dan harus bertahan di lokasi pengungsian, penyediaan makanan siap saji menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan harian mereka.
Keterlibatan Emelia memperlihatkan bahwa kerja kemanusiaan dapat mengambil banyak bentuk.
Ada yang membawa air bersih. Ada yang mengangkut sembako. Ada yang menyalurkan bahan pangan. Ada yang bergerak bersama BAGUNA. Dan ada pula yang memilih membaur di dapur umum untuk memastikan makanan dapat disiapkan bagi warga.
Semuanya bertemu dalam satu semangat: meringankan beban masyarakat Flores yang sedang menghadapi dampak bencana.
Air, Pangan, dan Kehadiran
Rangkaian kegiatan di Maukaro, Tarungawan, Lela, serta sejumlah titik lainnya memperlihatkan bahwa kerja kemanusiaan membutuhkan kesinambungan.
Di Maukaro, dua tandon dan dua mobil tangki air bersih didatangkan untuk membantu warga yang masih bertahan di tenda.

Di Tarungawan, Lela, beras, telur, dan air minum disalurkan kepada warga dengan disaksikan unsur pemerintah kecamatan dan aparatur desa.
Di berbagai lokasi lainnya, BAGUNA PDI Perjuangan dan struktur partai bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat terdampak.
Sementara di dapur umum, Emelia Julia Nomleni ikut membaur menyiapkan makanan siap saji.

Rangkaian tindakan tersebut menempatkan gotong royong bukan sekadar sebagai slogan, tetapi sebagai kerja yang membutuhkan tenaga, logistik, koordinasi, dan kehadiran langsung di tengah masyarakat.

Sebab, bagi warga yang masih bertahan di tenda pengungsian, air bersih bukan sekadar bantuan. Air adalah kebutuhan hidup.
Bagi keluarga yang kehilangan akses terhadap dapur rumahnya, makanan siap saji bukan sekadar konsumsi. Ia menjadi bagian dari penyangga kehidupan sehari-hari.

Dan bagi warga yang sedang menghadapi kerusakan rumah serta ketidakpastian pascabencana, kehadiran di tengah mereka membawa pesan bahwa penderitaan mereka tidak dibiarkan berjalan sendirian.
Dari Maukaro hingga Lela, dari air bersih hingga dapur umum, kerja gotong royong itu terus bergerak.
Di tengah Flores yang sedang berduka, solidaritas tidak cukup diucapkan. Ia harus hadir dalam tindakan: air dialirkan, pangan disalurkan, makanan dimasak, bantuan dibagikan, dan tangan-tangan kemanusiaan tetap berada di tengah rakyat.
#PrayForFlores#PDIPHadir#PDIPerjuanganNTT. (Ft/tim) 

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

Melayani permintaan peliputan dan pemasangan iklan banner. Marketing Director (Email: redaksiliputanntt@gmail.com.Contact Person:081236630013). Alamat Redaksi: Jl. Oekam, RT 13/RW 005 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT. Email: redaksiliputanntt@gmail.com. Tlp/Hp: 081236630013 Rekening: BRI: No. Rek. 467601014931533 a.n. Hendrik Missa Bank NTT: No. Rek. 2503210258 a.n. Hendrik Missa