KUPANG, LIPUTANNTT.Com,Bendera Merah Putih berkibar. Lagu kebangsaan bergema. Di tengah gemerlap perayaan HUT RI yang kita sambut dengan suka cita, ada getar- getar halus yang tak terlihat getaran yang berasal dari ribuan kilometer di timur Indonesia, di mana Flores, Nusa Tenggara Timur, baru saja diguncang gempa berkekuatan 7,7 magnitudo.
Saya menulis ini bukan sebagai pengamat, tetapi sebagai anak bangsa yang lahir dari tanah Timur, yang kini tengah menahan tangis. Dirgahayu Indonesia bukan sekadar ucapan manis di podium, melainkan hening sejenak untuk merasakan bagaimana tanah Ibu Pertiwi berguncang di bawah kaki saudara-saudari kita.
Ada paradoks yang menusuk di sini. Di saat orasi kemerdekaan menggema, di saat bendera naik dengan gagah, saudara-saudari kita di Flores justru sedang berlari keluar rumah, berteriak histeris, dan menangis di tengah puing-puing. Mereka merayakan nafas, bukan keriaan. Hari kemerdekaan bagi mereka mungkin bukan soal upacara, tetapi soal bertahan hidup.
Sebagai mantan Ketua BLM FPKP Undana dan sekarang bagian dari Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (ISMAPETI), saya mengajak kita semua untuk memaknai ulang esensi "Kemerdekaan" . Kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab. Kita merdeka agar bisa merasakan duka sesama. Kita merdeka agar tangan kita tidak hanya mengepal di jalanan, tetapi juga terulur untuk membantu.
Saya tidak ingin berbicara tentang statistik korban. Saya ingin berbicara tentang denyut nadi kemanusiaan.
Flores adalah ladang harapan. Di sana ada peternak yang sapinya menjadi tulang punggung ekonomi, ada ibu-ibu yang pagi buta memerah susu, ada pemuda-pemudi yang bermimpi. Namun hari ini, gempa telah merobek sebagian mimpi itu. Karena itu, biarlah perayaan kemerdekaan kali ini kita hadiri dengan lilin, bukan hanya kembang api. Biarlah doa kita panjatkan dengan air mata, bukan hanya tepuk tangan.
Mari turut merasakan duka yang mendalam. Jika kita tidak bisa berada di sana menyentuh puing-puing, setidaknya kita bisa menghangatkan mereka dengan perhatian. Jika kita tidak bisa membangun rumah mereka, setidaknya kita bisa membangun kembali harapan mereka melalui kepedulian kita.
Kepada segenap mahasiswa peternakan, kepada seluruh elemen bangsa: Jadikan kemerdekaan ini sebagai momentum "Kebangkitan Empati" . Karena Indonesia yang kuat bukanlah Indonesia yang hanya mampu merayakan, tetapi Indonesia yang mampu menangis bersama dan bangkit bersama.
Selamat Hari Kemerdekaan. Semoga Ibu Pertiwi tidak hanya berjaya dalam perayaan, tetapi juga lembut dalam pelukannya untuk saudara-saudari kita di Flores. NTT kuat. Indonesia tangguh.
"Kami menangis bukan karena lelah, tapi karena cinta kami pada negeri ini terlalu dalam."(*)

