OEL’EKAM, LIPUTANNTT.Com, Bayang-bayang tingginya biaya pakan pabrikan yang selama ini mencekik leher para pembudidaya ikan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) perlahan mulai sirna. Bertempat di Desa Oel'ekam, Kecamatan Mollo Tengah, fajar baru akuakultur ramah lingkungan dan berbiaya murah resmi disemai. Melalui sentuhan inovasi Low Input Sustainable Aquaculture (LISA), Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) Universitas Nusa Cendana (Undana) hadir membawa angin segar perubahan.
Tim Pengabdian Masyarakat Undana, Dr. Franchy Christian Liufeto, bersama Dr. Sunadji, Kadek Sumiasa, S.Pi., M.Si., dan Gabriella Suleman, S.Pi., M.Si melalui program pemberdayaan masyarakat ini berfokus pada kemandirian pakan alami berbasis pengelolaan limbah organik lokal.
Secara intensif, rangkaian pelatihan dan pendampingan terstruktur telah dilaksanakan dalam beberapa gelombang kegiatan, yakni pada 30 Mei, 12 Juni, serta 09–10 Juli 2026 lalu. Sebanyak 10 Kepala Keluarga (KK) pembudidaya di Desa Oel'ekam dipilih sebagai garda terdepan penerima manfaat program percontohan ini.
Transfer Teknologi Sirkular: Dari Sampah Dapur Hingga Pakan Protein Tinggi
Pelatihan yang disajikan tim FPKP Undana tidak sekadar berkutat pada teori di atas kertas, melainkan eksekusi teknis learning by doing yang langsung menyentuh akar permasalahan warga. Ke-10 KK peserta dilatih secara cermat dalam pemasangan wadah rumah maggot (biopond), persiapan teknis kolam ikan, teknik penetasan telur lalat Black Soldier Fly (BSF), hingga siklus pemeliharaan larva maggot.
Kunci keberhasilan inovasi ini terletak pada pemanfaatan limbah organik domestik yang sebelumnya terbuang sia-sia dan mencemari lingkungan. Kulit pisang, busukan buah pepaya, hingga sisa-sisa bahan dapur rumah tangga disulap menjadi media tumbuh yang sangat kaya nutrisi bagi BSF. Larva BSF yang dihasilkan memiliki kandungan protein kasar mencapai 40–50%, menjadikannya bahan pakan alternatif ideal untuk menyubstitusi pelet komersial yang harganya terus melambung.
Tak berhenti di situ, konsep ekosistem tertutup (closed-loop system) diterapkan secara penuh. Limbah padat dan air kaya amonia hasil budidaya dialirkan menuju unit fitoremediasi untuk menumbuhkan tanaman air lokal seperti Azolla pinnata dan Lemna. Selain menjernihkan kembali air kolam secara alami, tanaman Azolla dan Lemna dipanen secara rutin sebagai sumber protein nabati tambahan bagi ikan. Sinergi maggot BSF dan tanaman air ini secara nyata terbukti menekan biaya pakan pelet pabrikan secara signifikan, sehingga margin keuntungan masyarakat dapat melonjak tajam.
Senyum Optimisme Mitra: Siap Jadi Pusat Edukasi Pakan Mandiri TTS
Manfaat nyata dari program intervensi IPTEK Undana ini dirasakan langsung oleh masyarakat penerima bantuan. Pak Odi Pay, salah satu warga peserta pelatihan, tidak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Ia mengaku mendapatkan wawasan baru yang sangat praktis dan berdampak langsung pada pengeluaran usahanya.
"Kami sangat senang dan bersyukur mendapat pelatihan yang sangat bermanfaat ini dari Bapak dan Ibu Dosen Undana. Sekarang kami tahu bahwa sampah di sekitar kita bisa diubah jadi pakan berkualitas. Saya siap membagikan ilmu ini dan siap membantu masyarakat sekitar di Desa Oel'ekam maupun masyarakat luas di Kabupaten TTS dalam penyediaan maggot, baik untuk pakan ikan maupun ternak ayam," ujar Pak Odi penuh semangat.
Rasa optimisme serupa terpancar dari Ibu Magdalena Sanam, penerima bantuan lainnya. Ia terkesan melihat bagaimana telur lalat BSF yang begitu kecil bisa menetas dan berkembang menjadi tumpukan maggot kaya protein dalam waktu singkat menggunakan limbah dapur.
"Pelatihan ini sangat membuka mata kami. Saya sangat senang melihat keberhasilan aktivitas ini di rumah sendiri. Kami berupaya untuk terus menjaga kelangsungan budidaya maggot dan ikan ini secara konsisten, agar lokasi kami bisa menjadi contoh nyata bahwa masyarakat desa secara mandiri bisa melanjutkan upaya ini tanpa tergantung pakan toko," tutur Ibu Magdalena Sanam.
Pemantauan Oktober 2026: Mengukur Dampak dan Integrasi Wisata Oehala
Pada bulan Oktober 2026 ini, Tim FPKP Undana kembali turun ke lapangan di Desa Oel'ekam untuk melakukan evaluasi dan pemantauan berkala (monitoring). Pemantauan fokus pada pengukuran laju pertumbuhan harian ikan, efisiensi pakan maggot, serta diversifikasi penggunaan maggot untuk pakan ternak unggas seperti ayam kampung milik warga.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Franchy Christian Liufeto, menjelaskan bahwa keberhasilan pada 10 KK awal ini baru merupakan pijakan pertama dari visi besar pembangunan akuakultur sirkular di wilayah TTS. Dr. Franchy menyoroti potensi besar keberadaan kawasan pariwisata Air Terjun Oehala yang berada di wilayah Desa Oel'ekam.
"Limbah organik yang dihasilkan dari aktivitas ekonomi dan sisa kuliner para wisatawan di lokasi wisata Oehala sebenarnya merupakan pasokan bahan baku yang sangat melimpah untuk pengembangan maggot ini," ungkap Dr. Franchy yang biasanya disapa Tian saat ditemui sebelum pemantauan nanti.
Lebih jauh, Dr. Franchy menegaskan bahwa integrasi antara pengelolaan sampah pariwisata dan teknologi LISA dapat mentransformasi kawasan tersebut.
"Jika limbah Oehala dikelola secara sistematis melalui biokonversi BSF, kita tidak hanya menjaga kebersihan dan kelestarian air terjun Oehala dari pencemaran sampah, tetapi juga menjadikan Desa Oel'ekam sebagai penyedia wisata jasa lingkungan yang terintegrasi. Desa ini akan dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, melainkan sebagai pusat inovasi perikanan ramah lingkungan berbasis pemberdayaan masyarakat di Nusa Tenggara Timur," pungkas Dr. Franchy optimistis. (*/Marno)

