Ba'a, LIPUTANNTT.Com, Suasana haru dan isak tangis mengiringi prosesi pemakaman Nona Wili Mbuik, S.P., putri Nusa Tenggara Timur yang gugur saat menjalankan tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Almarhumah Wili Mbuik, 26 tahun, menjadi korban penembakan di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, bersama dua rekan kerjanya, Aprida Rapi dan drh. Alfonsius Albinus Mehan. Ketiganya gugur saat menjalankan tugas pelayanan publik pada Rabu sore (9/9/2026).
Jenazah almarhumah dimakamkan secara kedinasan di Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, Minggu (13/9/2026).
Prosesi pemakaman dihadiri ratusan warga, jajaran Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, unsur Forkopimda, tokoh adat, serta tokoh masyarakat dan pemuda.
Pemerintah Provinsi NTT dan seluruh masyarakat NTT menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya Wili Mbuik bersama dua rekan kerjanya yang tengah menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat di daerah pedalaman.
Pernyataan duka tersebut disampaikan Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, dalam sambutannya pada prosesi pemakaman almarhumah.
"Saya mengucapkan turut berbela sungkawa atas kepergian Anak, Saudari, kekasih kita, Nona Wili Mbuik. Perisitiwa ini sangat menyedihkan kita semua. Semoga keluarga duka diberikan ketabahan dan penghiburan, dan keadilan ditegakkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya," tegas Wagub Johni Asadoma.
*Mengenang Sosok dan Dedikasi Wili Mbuik*
Dalam sambutannya, Wagub Johni juga mengenang almarhumah sebagai representasi generasi muda NTT yang gigih dan memiliki semangat pengabdian.
Wili Mbuik merupakan lulusan penerima beasiswa Bidikmisi Fakultas Pertanian, Program Studi Agribisnis, Universitas Nusa Cendana. Ia meraih predikat cum laude dengan IPK 3,55 pada September 2023, sebelum memantapkan diri mengabdi sebagai CPNS di Kabupaten Jayawijaya dengan masa pengabdian delapan bulan.
Setiap bulan, ia tak pernah lupa menyisihkan dan mengirimkan gajinya dari tempat pengabdian di Jayawijaya untuk sang ayah, Daniel Mbuik di Rote Ndao yang kini telah tua.
Namun, impian tulus untuk menyemai kesejahteraan pangan di bumi Cenderawasih terhenti secara tragis ketika rombongan Dinas Pertanian diadang kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat menyalurkan bantuan ketahanan pangan bagi masyarakat pedalaman.
"Nona Wili Mbuik dan tim dari Dinas Pertanian Jayawijaya berada di Distrik Muliama bukan untuk angkat senjata atau memicu perpecahan. Mereka datang membawa misi kemanusiaan, mengantar bantuan demi menunjang kesejahteraan dan kemandirian pangan masyarakat setempat," ungkap Wagub Johni.
"Ia gugur sebagai martir pelayanan publik, bertaruh nyawa demi memastikan hak-hak perut masyarakat pedalaman terpenuhi," tambahnya.
Dalam penuturan adat Rote yang disampaikan oleh perwakilan keluarga, Eran Sipa, duka mendalam dilukiskan melalui syair tradisional Rote:
"Lole fai gia dale, dola dale doki ate.
Lole fai gia sama leo lole buni bo'i.
Dele do ha'a ana ma, ani fu de ana mo'o."
(Sungguh indah dan damai hari yang pernah kita lalui bersama, indah bagaikan bunga mekar yang wangi. Namun kini sang anak telah gugur, ditiup angin hingga layu dan berpulang).
"Hari ini, anak dan adik terkasih kami, Willy Mbuik, bagaikan sekuntum bunga yang layu, kering, dan tertiup angin. Ia tidak akan kembali lagi, tetapi keharuman nama dan pengabdiannya tetap mekar di tengah-tengah keluarga besar dan masyarakat Rote Ndao," ujar Eran Sipa.
*Desak Jaminan Keselamatan Sipil dan Penegakan Hukum*
Dalam ungkapan hati yang penuh haru dari mimbar duka, perwakilan keluarga, menegaskan merelakan kepergian almarhum Wili Mbuik, namun menuntut jaminan keamanan nyata dari pemerintah bagi warga NTT lainnya yang masih berada di daerah konflik.
"Kami keluarga ingin menyampaikan kepada Bapak Wakil Gubernur bahwa masih ada empat hingga lima orang anak kami yang satu kampung masih berada di sana. Semalam, menelepon dan mengabarkan bahwa mereka saat ini diteror dan tidak bisa keluar dari rumah," ujar perwakilan keluarga saat menyampaikan permohonan di hadapan para pejabat yang hadir.
"Beruntung ada pendeta setempat, warga asli Papua yang saat ini menjaga dan melindungi mereka di sana. Untuk itu, kami menitipkan keselamatan adik-adik kami sepenuhnya di pundak Bapak Pemerintah (Wagub)," lanjutnya sambil menahan tangis.
Keluarga menegaskan harapan besar mereka agar almarhum WilI Mbuik menjadi korban terakhir dari peristiwa tragis tersebut dan meminta langkah cepat dari pemerintah maupun aparat keamanan untuk mengevakuasi atau memberikan perlindungan maksimal bagi warga NTT lainnya.
"Kami tidak mau ada korban berikutnya. Cukup sudah Adik Wili yang menjadi korban," tegas Eran Sipa.
Atas tragedi memilukan ini, Wagub Johni menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi perhatian serius bagi pemangku kebijakan dan aparat keamanan dalam melindungi warga sipil dan abdi negara yang bertugas di daerah berisiko tinggi.
"Kematian Nona Wili harus menjadi alarm keras bagi pemerintah dan aparat keamanan. Seringkali dalam pusaran konflik politik dan teritorial, suara dan keselamatan warga sipil serta para abdi negara yang tidak bersenjata terabaikan. Berapa banyak lagi sarjana-sarjana muda potensial, dokter, guru, dan penyuluh pertanian yang harus menjadi korban di tanah Papua?" ujar Wagub Johni.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk memetik keteladanan dari pengabdian almarhumah serta terus mendoakan kedamaian di Tanah Papua.
"Mengenang Wili berarti menuntut jaminan keselamatan bagi setiap manusia yang melangkahkan kaki ke pelosok negeri demi memajukan peradaban. Senyum ramah nona Rote yang cerdas ini mungkin telah tiada, namun dedikasi, keberanian, dan ketulusan hatinya akan selalu hidup, memanggil kita untuk tidak pernah lelah mencintai kemanusiaan," tutup Wagub.
Merespons kekhawatiran keluarga terkait keberadaan beberapa anggota keluarga yang masih berada di daerah konflik di jayawijaya , Pemprov NTT menegaskan komitmen penuh untuk mengambil langkah-langkah terbaik demi menjamin keselamatan warga asal NTT.
"Kita sudah mendengar harapan dari keluarga terhadap beberapa anggota keluarga yang masih ada di Papua. Kita berjanji untuk melakukan hal yang terbaik bagi keluarga Mbuik yang masih berada di Papua, yang saat ini hidup dalam ancaman, ketakutan, dan kekhawatiran. Pemprov NTT akan melakukan yang terbaik," tegas Wagub Johni.
Pemerintah Provinsi NTT juga memastikan akan memenuhi hak-hak almarhumah dan keluarga.
Turut hadir dalam acara pemakaman tersebut Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi NTT, Noldy Hosea Pellokila; Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi NTT, Adi E. Mandala; Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Rote Ndao, Daniel Welhelmus Nalle; Kapolres Rote Ndao, AKBP Henry Eko Irawan; perwakilan Kodim 1627/Rote Ndao; perwakilan Lanal Pulau Rote; para pimpinan perangkat daerah Kabupaten Rote Ndao.(*)

