Kupang, LIPUTANNTT.Com, Gagasan sederhana untuk mengolah limbah peternakan dan dedaunan kering menjadi bokashi berhasil mengantar tim mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan (FPKP) Universitas Nusa Cendana (Undana) meraih Juara I dalam lomba esai tingkat nasional yang diselenggarakan Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Prestasi ini diumumkan pada 2 November 2026 setelah melalui rangkaian penilaian ketat. Sebelumnya, batas akhir pengumpulan naskah esai jatuh pada 15 Oktober 2026. Tim Undana berhasil menarik perhatian dewan juri melalui gagasan berjudul “Transformasi Limbah Peternakan dan Limbah Dedaunan Menjadi Bokashi Serasa Bernilai Ekonomi untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan dan SDG 12 di NTT.”
Tim tersebut diketuai Pius Rio Glen Atok, bersama dua anggota, yaitu Oktavianus P. N. Jemparu dan Maria Ismawati, di bawah bimbingan Ir. Yakob Robert Noach, MP. Mereka mengangkat persoalan pengelolaan limbah peternakan dan limbah dedaunan yang belum dimanfaatkan secara optimal di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut Pius, ide tersebut berawal dari kegiatan nyata yang sedang dikembangkan, yakni pembuatan bokashi berbahan serasah atau dedaunan kering melalui proses fermentasi. Dari kegiatan sederhana itu, tim melihat potensi besar yang dapat dikembangkan menjadi gagasan inovatif untuk mengikuti kompetisi esai nasional.
“Untuk meningkatkan kreativitas mahasiswa, tentu diperlukan sebuah ruang kreasi yang mampu mendukung lahirnya berbagai inovasi. Ide-ide yang dimiliki mahasiswa harus terus dikembangkan dan dibawa ke ajang perlombaan agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas,” ungkap Pius.
Inovasi ini diharapkan mampu mengurangi penumpukan limbah organik, mendorong pemanfaatan bahan lokal, serta membuka peluang ekonomi melalui produksi pupuk organik. Gagasan tersebut juga dinilai mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG) 12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Tim menekankan bahwa pengembangan bokashi perlu didukung formulasi bahan yang tepat, pengujian mutu, pendampingan masyarakat, serta perhitungan kelayakan usaha agar dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Keberhasilan meraih Juara I menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu harus berawal dari sesuatu yang besar. Gagasan dapat tumbuh dari kegiatan sederhana yang dikembangkan secara konsisten. Prestasi ini pun diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa Undana untuk terus berkarya, mengembangkan potensi lokal, dan menghadirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat serta pembangunan berkelanjutan di NTT. (*/Marno)

