Kota kupang, LIPUTANNTT.com,Perayaan Milad Muhammadiyah ke-113 di Nusa Tenggara Timur tidak hanya berlangsung meriah, tetapi juga menggugah. Lewat rangkaian kegiatan akbar yang dipusatkan di Universitas Muhammadiyah Kupang, para pimpinan, kader, dan ribuan warga Muhammadiyah menunjukkan bahwa gerakan dakwah dan sosial tidak boleh berhenti pada seremonial semata.
Ketua Panitia, Dr. Ir. Syamsul Bahri, MM, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada PW Muhammadiyah NTT sekaligus menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sarana pembinaan kualitas kader. “Banyak mata lomba yang kami gelar bukan hanya untuk memperebutkan juara, tetapi untuk mendorong kader berani tampil pada event-event akademik dan organisasi,” ujarnya.
Rangkaian acara berlangsung besar-besaran: volleyball, badminton, lomba salat sesuai tuntunan Tarjih, tilawah, pidato, MC, hingga baksos renovasi masjid dan WC, pengobatan gratis, donor darah, pengajian, Tabligh Akbar, sunatan massal, dan jalan sehat ribuan warga yang disertai pembagian hadiah—mulai dari motor hingga peralatan rumah tangga.
Mewakili Rektor Muhammadiah Kupang, Abdul Majid, S.Pi., M.M. menegaskan kesiapan kampus untuk kembali menjadi tuan rumah di tahun mendatang. “Milad ini menguatkan sinergi PWM dan amal usaha. UMK akan terus mendukung,” tegasnya.
Namun pidato Ketua PW Muhammadiyah NTT, Muksin, S.Ag., MH, menjadi sorotan malam puncak. Dengan gaya tegas sekaligus menggugah, ia memaparkan sejarah panjang perjuangan Muhammadiyah di NTT sejak 1930-an, sekaligus menyerukan agar kader tidak terjebak pada kenyamanan organisasi.
“Saya ingatkan, jangan hanya menikmati fasilitas Muhammadiyah tetapi ibadahnya tidak sesuai tuntunan Muhammadiyah,” tegasnya dalam sambutan yang mendapat banyak tepuk tangan.
Bagian paling penting adalah dorongan keras PWM NTT kepada Pimpinan Pusat agar segera membangun Rumah Sakit Muhammadiyah di Kupang.
“Ini bukan hanya permintaan Muhammadiyah, tetapi permintaan umat Islam di NTT,” ujarnya.
PWM bahkan telah melaporkan langsung kondisi keamanan wilayah sebagai bentuk keseriusan percepatan pembangunan.
Di akhir acara, ia kembali mengingatkan karakter kader Muhammadiyah: jujur, ikhlas, santun, terbuka, dan penuh gagasan—sembari memohon doa agar perjuangan panjang Muhammadiyah di NTT menambah amal jariyah yang tak terputus.(*)

