Kupang, LIPUTANNTT.COM,Sebuah keprihatinan mendalam menyelimuti kehidupan sebuah keluarga di pelosok Kabupaten Kupang. Marketiana Fiona Runesi, seorang anak perempuan berusia 11 tahun, sejak awal kehidupannya hingga kini tidak pernah merasakan kemampuannya untuk berdiri, berjalan, atau sekadar menggerakkan tubuhnya sendiri. Setiap hari, ia hanya terbaring lemah di tempat tidur sederhana, sesekali dapat duduk apabila dibantu penuh oleh orang tuanya, tanpa pernah mampu menikmati masa kecil yang semestinya diisi dengan tawa dan permainan.
Kondisi Marketiana yang mengalami disabilitas fisik berat sejak lahir ini menjadikannya sepenuhnya bergantung pada kasih sayang dan tenaga kedua orang tuanya. Ia tidak dapat bersekolah, tidak dapat bermain dengan teman sebayanya, dan hampir tidak pernah merasakan sentuhan dunia luar. Setiap helaan napasnya adalah bukti perjuangan yang sunyi, sementara tubuhnya terus terbaring tanpa daya di RT. 002/RW. 001 Dusun 01, Desa Pathau, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang.
Ayah kandung Marketiana, Bapak Alfonsus Runesi, dengan nada penuh kepasrahan namun menyimpan luka mendalam, menceritakan perjuangan keluarganya mengurus administrasi untuk mendapatkan bantuan sosial. Pemerintah Desa Pathau merespons permohonan mereka dengan menyatakan bahwa akta kelahiran adalah syarat mutlak. “Saya sudah mengurus semua dokumen, termasuk akta kelahiran, tetapi hingga kini tidak ada satu pun bantuan yang tersentuh kepada anak saya,” ujar Bapak Alfonsus dengan mata sembab, didampingi istrinya, Yumeti Sarlina Bunda, yang setiap hari setia membersihkan, memberi makan, dan membalikkan tubuh putrinya yang tak berdaya.
Kisah pilu ini akhirnya sampai ke telinga Ketua Bidang Sosial Masyarakat ISMAPETI (Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia), Marno Bunda. Dengan perasaan iba yang tidak dapat ditahan, ia meluangkan waktu untuk mendatangi langsung rumah yang sunyi itu. Begitu melihat Marketiana terbaring kaku dengan tubuh kurus yang membekas rasa sakit, Marno Bunda nyaris tak kuasa menahan air mata. “Ini bukan sekadar kemiskinan. Ini adalah penderitaan bisu yang harusnya menjadi tanggung jawab kita semua, terutama negara,” tuturnya dengan suara bergetar.
Marno Bunda menyampaikan rasa prihatin yang sedalam-dalamnya atas ketidakberdayaan Marketiana dan keluarganya. Ia menegaskan bahwa penderitaan anak disabilitas berat seperti Marketiana tidak dapat diukur hanya dengan angka atau formulir administrasi. “Akta kelahiran sudah ada, tetapi nyawa dan masa depan anak ini terus menunggu. Sampai kapan ia harus bertahan dalam keheningan tanpa uluran tangan dari pemerintah?” ujarnya, penuh harap sekaligus kecewa. Dalam kapasitasnya sebagai pengurus organisasi mahasiswa peternakan yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, Marno Bunda memohon dengan sangat agar pemerintah, khususnya Dinas Sosial Kabupaten Kupang, membuka mata dan hati. Ia meminta agar kebijakan bantuan bagi penyandang disabilitas tidak lagi tersendat oleh birokrasi yang dingin, tetapi tumpah secara merata sampai ke pelosok, menjangkau anak-anak seperti Marketiana yang tidak pernah bisa menyuarakan haknya sendiri.
Di tengah himpitan keprihatinan yang berkepanjangan, Bapak Alfonsus Runesi selaku ayah kandung Marketiana menyampaikan permohonan yang bersahaja namun sarat makna. Dengan nada suara lirih namun penuh harap, ia mengungkapkan bahwa keluarganya tidak berani mengimpikan bantuan yang berlebihan. “Kami tidak meminta istana atau kemewahan. Satu buah kursi roda yang sederhana pun sudah cukup untuk membantu kami memindahkan tubuh Marketiana, menjemurnya di bawah sinar matahari pagi, atau sekadar mengajaknya menikmati udara segar di luar rumah,” ujar Bapak Alfonsus dengan mata berkaca-kaca, didampingi istrinya Yumeti Sarlina Bunda yang tak henti-hentinya mengusap lembut dahi putrinya. Permohonan sederhana ini menjadi simbol betapa besar cinta orang tua kepada anaknya, sekaligus cermin betapa minimnya akses alat bantu disabilitas di wilayah terpencil seperti Desa Pathau. Marno Bunda yang mendengar langsung permohonan tersebut turut menegaskan bahwa kursi roda bukanlah barang mewah, melainkan kebutuhan dasar bagi anak disabilitas berat untuk memperoleh martabat dan kualitas hidup yang lebih manusiawi.
Lebih lanjut, Marno Bunda berharap agar seluruh elemen masyarakat, para dermawan, dan lembaga sosial segera tergerak untuk menyalurkan bantuan. Bantuan yang sangat dibutuhkan saat ini bukan hanya materi seperti makanan, susu, popok dewasa, dan perlengkapan perawatan medis, tetapi juga kehadiran moral dan pendampingan agar keluarga ini tidak merasa sendirian menghadapi penderitaan yang berkepanjangan. Sebuah kursi roda, menurut penegasannya, adalah pintu pertama menuju pemulihan martabat dan partisipasi sosial minimal bagi Marketiana. “Jangan biarkan mereka berjuang tanpa setitik cahaya harapan,” pintanya lirih.(*)

