Tak Lagi Menunduk di Jalan Terjal: Warga RT 02(Pathau) Buktikan Kemandirian Air Bersih Berkat Kolaborasi dengan JPCC Foundation

Pemred Liputan NTT
0

 

Pathau, LIPUTANNTT.com,Setiap senja, pemandangan paling melelahkan di RT 02 adalah deretan punggung warga, dari ibu hingga anak-anak, yang tertunduk perlahan mendaki jalan berbatu dan menanjak. Di pundak mereka, tergalang jeriken-jeriken berat berisi air yang harus diambil dari titik rendah di bawah lembah. Selama bertahun-tahun, keluhan ini hanya berbalas satu kata: "sabarlah." Kini, kata itu tak lagi memiliki ruang. Sebuah kolaborasi strategis antara masyarakat setempat dan JPCC Foundation telah mengubah medan berat itu menjadi saksi bisu lahirnya kemandirian sekaligus fondasi ketahanan pangan lokal.


Berawal dari pengamatan mendalam, JPCC Foundation—lembaga sosial yang tidak terikat struktur pemerintahan—melihat sebuah ironi. Di RT 02, potensi sumber daya air sebenarnya melimpah. Namun, sarana yang tak terawat dan akses jalan yang ekstrem membuat air itu seolah "terpenjara". Setiap hari, warga harus menuruni jalan terjal, mengisi wadah, lalu memikul beban puluhan kilogram kembali mendaki ke pemukiman yang berada di dataran tinggi.


"Permasalahan mendasarnya bukan pada ketersediaan air, tetapi pada pemeliharaan, akses jalan yang menguras tenaga, dan beban luar biasa yang dipikul warga setiap hari," jelas Pak Morly Lerrick, perwakilan JPCC Foundation.


Maka, muncullah sebuah solusi konkret: perbaikan total mata air, penataan ulang sistem, serta pemasangan pompa bertenaga listrik untuk menaikkan air secara otomatis ke pemukiman. Dengan satu sentuhan, air kini bisa mengalir tanpa perlu lagi ada yang memikul di jalan terjal. Model kolaborasinya pun unik. JPCC Foundation bertindak sebagai penyedia material teknis, sementara warga bergerak sebagai tulang punggung gotong royong.


Pak Morly menegaskan, program ini dirancang untuk dampak jangka panjang. "Air yang mudah diakses bukan hanya untuk mandi dan masak. Ini adalah pintu masuk menuju pertanian dan peternakan. Ketahanan pangan nasional harus dimulai dari gerakan desa," tegasnya.


"Kami Bosan Memikul di Jalan Terjal, Kami Memilih Bergerak"


Pernyataan paling tajam keluar dari Bapak Mus Ora, tokoh masyarakat. Baginya, aliran air yang berhasil sampai ke puncak tanpa perlu lagi dipikul adalah sebuah deklarasi kemerdekaan.


"Selama ini, setiap hari kami membuang energi hanya untuk menaklukkan jalan menanjak sambil memikul air. Sementara anak-anak kami kecil sudah terbiasa dengan beban itu. Jawaban yang kami terima hanya 'sabarlah'. Tapi sampai kapan?" ujarnya.


Bapak Mus menyimpan rencana simbolis: "Begitu air sudah mengalir di atas tanpa perlu dipikul lagi, kami akan undang pemerintah. Biar mereka lihat, masyarakat biasa bersama yayasan bisa menyelesaikan masalah yang selama ini menghancurkan tenaga kami."


Prinsip yang dipegangnya keras: "Jauh lebih bermartabat mengurus diri sendiri, daripada diurus orang lain tapi hasilnya tidak jelas."


Bapak Sem Omatan, mengakui bahwa upaya serupa pernah gagal. "Kami sambut baik JPCC Foundation. Teknologi pompa listrik ini jauh lebih andal. Ini inisiatif murni dari masyarakat dan yayasan. Pemerintah berperan sebagai pendukung," paparnya.


Kini, setiap tetes air yang naik ke pemukiman tidak lagi dibayar dengan keringat berlebih di jalan terjal. Mata air yang dulu menjadi sumber sengsara harian, sedang bertransformasi menjadi fondasi peternakan, pertanian, dan ekonomi masa depan RT 02.(MB)

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

Melayani permintaan peliputan dan pemasangan iklan banner. Marketing Director (Email: redaksiliputanntt@gmail.com.Contact Person:081236630013). Alamat Redaksi: Jl. Oekam, RT 13/RW 005 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT. Email: redaksiliputanntt@gmail.com. Tlp/Hp: 081236630013 Rekening: BRI: No. Rek. 467601014931533 a.n. Hendrik Missa Bank NTT: No. Rek. 2503210258 a.n. Hendrik Missa