PRS, LIPUTANNTT.Com,Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD PDI Perjuangan NTT, Nelson Obed Matara, mengajak seluruh kader partai dan masyarakat menjadikan peringatan Haul Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, sebagai momentum memperkokoh semangat kebangsaan dengan tetap setia pada nilai-nilai perjuangan bangsa.
Hal tersebut disampaikan dalam peringatan Haul Bung Karno yang berlangsung di Halaman Kantor DPD PDI Perjuangan NTT Sabtu, 27/06/2026.
Momen bersejarah itu dihadiri langsung oleh seluruh jajaran pengurus DPD PDI Perjuangan NTT, DPC PDI Perjuangan Kota Kupang, serta DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kupang.
Dengan mengusung tema "Setialah pada Sumbermu", yang mengajak seluruh anak bangsa kembali kepada akar perjuangan, berpihak kepada rakyat, dan menjadikan Pancasila sebagai arah perjalanan Indonesia.
Dalam suasana penuh penghormatan, rangkaian kegiatan diawali dengan salam kebangsaan serta doa bersama sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan kepada Sang Proklamator yang telah mengantarkan Indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaan.
Menurut Nelson Obed Matara, Bulan Juni memiliki makna yang sangat istimewa dalam perjalanan sejarah bangsa.
Tiga momentum besar yang melekat pada Bung Karno menjadikan bulan ini sebagai Bulan Bung Karno, yakni lahirnya Lahirnya Pancasila pada 1 Juni, hari kelahiran Bung Karno pada 6 Juni, serta wafatnya pada 21 Juni.
"Karena itu, Bulan Bung Karno bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Ini adalah ruang refleksi untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan yang menjadi fondasi berdirinya Republik Indonesia," ungkapnya.
Nelson menegaskan bahwa tema "Setialah pada Sumbermu" mengandung pesan yang sangat mendalam.
Kesetiaan kepada sumber berarti tetap berpijak pada cita-cita kemerdekaan, berpihak kepada rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, serta menjaga Pancasila sebagai ideologi yang mempersatukan bangsa.
Menurutnya, Bung Karno menggali seluruh kekuatan perjuangannya dari rakyat.
Oleh sebab itu, generasi penerus bangsa juga harus terus menjadikan rakyat sebagai pusat pengabdian dan pembangunan nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Nelson kembali mengingatkan pesan legendaris Bung Karno, "JAS MERAH, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah."
Namun, lebih dari sekadar mengingat sejarah, Bung Karno juga mengajarkan agar generasi penerus mewarisi apinya, bukan abunya.
"Yang harus kita warisi bukan sekadar nama besar Bung Karno ataupun simbol-simbol perjuangannya, melainkan api semangatnya; keberanian berpikir, keberanian melawan ketidakadilan, semangat persatuan, gotong royong, dan cinta tanpa syarat kepada tanah air," tegas Nelson.
Ia mengatakan, api perjuangan tidak pernah padam oleh zaman. Api itu terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menunggu anak-anak bangsa yang siap menjaganya tetap menyala.
Karena itu, Nelson mengajak generasi muda agar tidak hanya mengenal Bung Karno melalui foto, patung, atau nama jalan. Bung Karno harus dikenang melalui gagasan-gagasannya yang hingga kini tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman.
Nilai-nilai nasionalisme, gotong royong, kemandirian ekonomi, keberanian menjaga persatuan, serta keberpihakan kepada rakyat, menurutnya, harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan berbagai tantangan sosial, Nelson menilai bangsa Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter, integritas, serta keberanian menjaga persatuan nasional.
Ia juga mengutip pesan Bung Karno yang hingga kini masih sangat relevan, bahwa perjuangan generasi sekarang sesungguhnya jauh lebih berat dibanding perjuangan melawan penjajah.
"Jika dahulu musuh terlihat jelas, maka kini tantangan terbesar datang dari dalam bangsa sendiri, seperti perpecahan, egoisme, korupsi, ketidakadilan, intoleransi, serta lunturnya semangat persaudaraan," ujarnya.
Karena itu, Nelson mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Haul Bung Karno sebagai momentum mempererat persaudaraan lintas suku, agama, budaya, dan golongan.
"Indonesia hanya akan menjadi bangsa besar apabila seluruh anak bangsa memilih bergandengan tangan, memperkuat gotong royong, dan mengutamakan persatuan di atas segala perbedaan," katanya.
Menutup sambutannya, Nelson Obed Matara mengajak seluruh masyarakat memperbarui komitmen terhadap cita-cita kemerdekaan dengan tetap setia kepada sumber perjuangan bangsa.
"Setia kepada sumber berarti setia kepada rakyat, menjaga Pancasila sebagai dasar negara, serta terus melanjutkan perjuangan mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat," pungkasnya.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, memohon agar Bung Karno memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa serta agar api perjuangan yang telah dinyalakannya terus hidup di hati setiap anak bangsa.
"Selama rakyat tetap menjadi sumber kekuatan bangsa, selama Pancasila menjadi napas kehidupan bernegara, dan selama api perjuangan Bung Karno tetap menyala di dada generasi penerus, Indonesia akan selalu menemukan jalannya menuju kejayaan.(*)

