KUPANG, LIPUTANNTT.Com,Malam itu, semangat kebangsaan terasa berbeda. Di halaman Kantor DPD PDI Perjuangan NTT, nama Bung Karno kembali bergema.
Namun, yang dihidupkan bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan api perjuangan yang ingin dititipkan kepada generasi muda.
Dengan suara penuh keyakinan, Melsy Juliana Bunga, Ketua Panitia yang memperingati Bulan Bung Karno Tahun 2026, yang sekaligus Wakil Sekretaris DPD PDI Perjuangan NTT, mengajak anak-anak muda NTT memandang Bung Karno bukan sebagai sosok yang hanya hidup dalam foto-foto sejarah.
"Bung Karno bukan hanya untuk dikenang. Bung Karno harus dihidupkan di dalam hati, di dalam pikiran, dan di dalam setiap langkah perjuangan anak-anak muda Indonesia," ujarnya.
Kalimat itu menjadi roh dari seluruh rangkaian Bulan Bung Karno 2026 yang mengusung tema "Setialah Pada Sumbermu" dengan subtema "Kekuatan Kita Harus Tetap Bersumber Kepada Kekuatan Rakyat, Tetap Apinya Semangat Rakyat."
Bagi Melsy, sejarah bukan sekadar deretan tanggal dalam buku pelajaran. Sejarah adalah cahaya yang menerangi masa depan.
"Kami ingin generasi muda mengenal Bung Karno, memahami bagaimana beliau melahirkan Pancasila, memperjuangkan kemerdekaan bersama Bung Hatta, dan mengajarkan bahwa bangsa besar hanya akan berdiri tegak apabila mencintai rakyatnya."
Namun ia menegaskan, warisan terbesar Bung Karno bukanlah cerita.
"Jangan hanya mewarisi kisahnya. Warisilah apinya. Warisilah keberaniannya mencintai Indonesia tanpa syarat."
Itulah sebabnya DPD PDI Perjuangan NTT menghadirkan ruang-ruang kreatif bagi generasi muda.
Moral, lomba pidato, musikalisasi puisi, teatrikal, stand-up comedy, hingga mimbar bebas bukan sekadar perlombaan, tetapi panggung untuk menyampaikan suara hati tentang Indonesia.
Menurutnya, setiap sapuan kuas di tembok, setiap bait puisi, setiap kalimat pidato, adalah bentuk cinta kepada bangsa.
"Anak muda tidak boleh hanya menjadi penonton sejarah. Mereka harus menjadi penulis sejarah zamannya sendiri."
Melsy juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali ajaran Trisakti Bung Karno yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
"Jangan takut berpolitik, karena politik adalah jalan memperjuangkan kepentingan rakyat. Jangan takut berkarya, karena kreativitas adalah kekuatan ekonomi masa depan. Dan jangan pernah malu mencintai budaya sendiri, sebab bangsa yang kehilangan budayanya akan kehilangan jati dirinya."
Di tengah derasnya arus globalisasi, ia mengajak generasi muda NTT tetap bangga menjadi anak bangsa.
"Boleh kita mengikuti perkembangan dunia, tetapi jangan sampai melupakan akar tempat kita tumbuh."
Semangat itu pula yang melahirkan rencana akan ada pondok baca di depan DPD PDIP NTT, disinilah Kopi Marhaen, sebuah pojok baca yang akan menjadi ruang diskusi, membaca, dan bertukar gagasan tentang Bung Karno, Pancasila, dan masa depan Indonesia.
"Di sana nanti kita ingin anak-anak muda datang bukan hanya untuk minum kopi, tetapi juga mengisi pikirannya dengan gagasan besar tentang Indonesia di Pondok Baca DPD PDIP NTT," tegasnya.
Menutup pesannya, Melsy mengajak seluruh generasi muda menjadikan Bulan Bung Karno sebagai titik awal membangun Indonesia dari Nusa Tenggara Timur.
"Mari kita menjadi generasi yang tidak hanya pandai mengagumi Bung Karno, tetapi juga berani melanjutkan perjuangannya. Karena Indonesia tidak membutuhkan anak muda yang diam. Indonesia membutuhkan anak muda yang berpikir, berkarya, bersatu, dan berani memperjuangkan rakyat. Selama api perjuangan itu tetap menyala di hati kita, Bung Karno tidak pernah benar-benar pergi," tutupnya.(*)

