Sikka, LIPUTANNTT.Com, Enam hari setelah gempa mengguncang Flores, jejak penderitaan warga di kawasan pesisir Dusun Waipare, Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, masih menyisakan kebutuhan mendasar. Di tengah situasi itu, Lusia Adinda Dua Nurak dan Emanuel Kolfidus bersama tim DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka turun langsung mengantar bantuan kepada warga pengungsi.
Bantuan yang disalurkan pada Jumat (21/8) itu berupa beras, telur ayam, dan air mineral. Bagi warga Waipare, bantuan tersebut bukan sekadar bahan kebutuhan pokok. Berdasarkan keterangan yang diperoleh di lapangan, bantuan dari PDI Perjuangan menjadi bantuan pertama yang mereka terima sejak gempa terjadi enam hari sebelumnya.
Dari wilayah pesisir itu, kerja kemanusiaan kembali menemukan maknanya: ketika kebutuhan warga belum sepenuhnya terjangkau, maka bantuan harus bergerak mendatangi mereka. Bukan sebaliknya, menunggu warga yang sedang berada dalam kondisi rentan datang mencari pertolongan.
Selain mendistribusikan bantuan ke pengungsi Waipare, tim juga menambah peralatan untuk Dapur Umum DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka. Penambahan tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas dapur umum dalam menyediakan kebutuhan pangan bagi masyarakat terdampak bencana.
Langkah itu merupakan bagian dari kerja gotong royong antara struktur DPD PDI Perjuangan NTT dan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka melalui tim Baguna. Kerja lapangan dilakukan dengan mendatangi titik-titik pengungsian sekaligus melihat secara langsung kebutuhan warga setelah gempa.
Bagi Lusia Adinda Dua Nurak dan Emanuel Kolfidus, kerja kemanusiaan tidak berhenti pada distribusi bantuan di satu titik. Bersama Tesa Nurak dan Abul, Sekretaris PAC PDI Perjuangan Alok Timur, mereka terpantau bergerak dari satu tenda darurat ke tenda darurat lainnya, serta dari satu posko ke posko lainnya.
Pergerakan tersebut menjadi cara untuk memastikan bantuan tidak berhenti di satu tempat, tetapi menjangkau warga yang membutuhkan di tengah keterbatasan pascabencana.
Kepada media ini, Emanuel Kolfidus mengatakan bahwa keberpihakan dalam situasi bencana harus diwujudkan dengan memastikan warga yang belum tersentuh bantuan tetap menjadi perhatian.
“Yang paling penting adalah memastikan warga yang terdampak gempa, terutama yang belum tersentuh bantuan, tetap kita jangkau. Karena dalam situasi bencana, kebutuhan mereka tidak bisa menunggu,” kata Emanuel Kolfidus.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kerja kemanusiaan membutuhkan kepekaan terhadap situasi di lapangan. Sebab, di balik data mengenai jumlah warga terdampak dan lokasi pengungsian, terdapat kebutuhan nyata yang harus segera dijawab, mulai dari pangan hingga air minum.
Waipare menjadi salah satu gambaran bahwa respons terhadap bencana membutuhkan gerak yang cepat dan terarah. Ketika enam hari berlalu dan kebutuhan dasar warga masih menjadi persoalan, kehadiran di tengah pengungsi menjadi bagian penting dari kerja kemanusiaan.
Dari tenda-tenda darurat di Waipare, pesan itu terasa sederhana, tetapi kuat: bantuan harus sampai kepada mereka yang membutuhkan. Karena dalam situasi bencana, keberpihakan tidak cukup diucapkan. Ia harus hadir dalam langkah, dalam distribusi kebutuhan dasar, dan dalam kesediaan untuk mendatangi warga yang sedang bertahan melewati masa sulit.
Melalui penguatan Dapur Umum dan distribusi bantuan secara langsung, DPD PDI Perjuangan NTT bersama DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka terus menempatkan kerja kemanusiaan sebagai bagian dari respons terhadap penderitaan warga terdampak gempa Flores—dengan bergerak dari posko ke posko, dari tenda ke tenda, dan dari kebutuhan warga menuju tindakan nyata. (Ft/tim)

