Boawae, LIPUTANNTT.Com, Malam telah larut. Namun, bagi warga yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian pascagempa Flores, malam bukan sekadar pergantian waktu. Ia adalah ruang panjang tempat rasa cemas, lapar, sakit dan harapan bercampur menjadi satu.
Di tengah suasana itu, pergerakan bantuan kemanusiaan terus dilakukan. Hingga larut malam, Patris Laliwolo, Sekretaris DPD PDI Perjuangan bersama istrinya, masih menyusuri sejumlah titik pengungsian untuk melihat langsung kondisi warga sekaligus memastikan kebutuhan dasar mereka terpetakan.
Akses fajartimor.com mencatat, sedikitnya tiga posko menjadi titik kunjungan pada malam tersebut, yakni Posko Lingkungan Boagu Nagesepadhi, Posko Bidiau Natanage, dan Posko Natanage Timur RT 09.
Kunjungan itu bukan sekadar datang, melihat, lalu pergi.
Di tenda-tenda pengungsian, ada warga lanjut usia yang sedang sakit. Ada pula keluarga yang menyampaikan kebutuhan susu bagi bayi. Di sisi lain, kebutuhan bahan makanan masih menjadi permintaan yang terus disuarakan warga.
“Di sini ada yang sakit. Ada bayi yang membutuhkan susu. Bahan makanan juga masih dibutuhkan,” demikian gambaran kebutuhan warga yang diterima dalam rangkaian kunjungan tersebut.
Persoalan itu kemudian tidak berhenti pada catatan.
Kebutuhan obat bagi warga lanjut usia dan susu menjadi bagian yang sedang diupayakan agar segera dapat terpenuhi.
Di situlah kerja kemanusiaan menemukan maknanya: mendengar keluhan yang mungkin sederhana di telinga orang lain, tetapi menjadi sangat berarti bagi mereka yang sedang kehilangan rasa aman.
Satu tenda, satu lansia yang sakit. Satu keluarga, satu bayi yang membutuhkan susu. Satu posko, satu kebutuhan pangan yang harus dijawab.
Bencana memang datang dalam hitungan detik. Tetapi pemulihan tidak pernah selesai dalam satu malam.
Karena itu, kehadiran di posko-posko pengungsian menjadi penting, terutama untuk memastikan bahwa warga yang berada dalam kondisi paling rentan tidak luput dari perhatian.
Pergerakan Patris Laliwolo bersama istrinya pada malam itu memperlihatkan satu hal sederhana: bantuan kemanusiaan bukan hanya tentang seberapa besar yang dibawa, tetapi juga tentang seberapa jauh seseorang bersedia berjalan untuk mendengar dan melihat langsung penderitaan warga.
Dari Boagu Nagesepadhi hingga Bidiau Natanage, kemudian berlanjut ke Natanage Timur RT 09, malam menjadi saksi bahwa masih ada pekerjaan kemanusiaan yang belum selesai.
Di balik gelapnya malam, ada tenda yang belum tidur. Ada lansia yang menunggu obat. Ada bayi yang menunggu susu. Dan ada keluarga-keluarga yang masih berharap bahan makanan datang.
Harapan itu kini sedang diusahakan untuk dijawab.
Semoga ikhtiar kecil di tengah kepungan duka tersebut dapat menjadi bagian dari jalan panjang menuju pemulihan warga terdampak gempa.
Karena dalam situasi bencana, hadir adalah awal dari keberpihakan; mendengar adalah awal dari pertolongan; dan memastikan kebutuhan warga terpenuhi adalah bentuk nyata dari kerja kemanusiaan.
Dari tenda pengungsian, kami mencatat suara mereka yang masih menunggu. (Ft/tim)

