Kupang, LIPUTANNTT.Com, Pundak yang letih oleh hiruk-pikuk pengabdian kerap menemukan penawarnya pada tanah kelahiran. Ketika melangkahkan kaki kembali ke kampung halaman, ada hasrat mendalam untuk merayakan waktu secara berbeda. Membaca fenomena, berbagi cerita, mendengar, serta mencoba memaknai setiap peristiwa dan narasi yang berdenyut di akar rumput. Di belasan tahun terakhir, kesempatan untuk hadir secara utuh bersama kedua orang tua dan saudara-saudara menjadi sebuah kemewahan yang langka. Terlebih lagi, Bapa dan Mama telah menginjak usia senja. Hampir delapan puluh tahun.
Dalam dekapan kehangatan mereka, saya bermanja ria, merasakan kembali kucuran cinta yang berlimpah, dan menerima warisan berharga secara cuma-Cuma, petuah yang mendalam, cerita yang kaya makna, hingga perkenalan kembali dengan sanak keluarga yang sempat merenggang oleh jarak. Namun sebagai pejalan sunyi literasi NTT, kesadaran saya tidak pernah tidur. Liburan ini bukan sekadar jeda fisik, melainkan sebuah retret intelektual dan spiritual untuk menatap wajah realitas sosial kami dari dekat.
Pertemuan dengan Romo Arfan: Diskursus Iman, Praktik Beragama dan Literasi
Di tengah ruang nostalgia itu, takdir mempertemukan saya dengan sosok pastor muda yang dinamis. Romo Yosefan Arwandi Dadus, Pr, atau yang akrab disapa Romo Arfan. Ia adalah Pastor Kapelan di Paroki Santu Markus Pateng Rego yang belum lama ini dipercaya mengemban amanat sebagai Kepala Sekolah SMA St. Markus Pateng. Nama Romo Arfan telah lama bertiup di telinga saya sebagai figur imam muda yang bersemangat, cerdas, dan multitalenta. Rasa penasaran itu akhirnya terjawab secara gamblang.
Kesempatan pertama menyimak kapasitasnya hadir saat perayaan Misa Kudus empat hari meninggalnya salah seorang umat di lingkungan tetangga. Khotbahnya mengalir, lugas, dan autentik. Romo Arfan mengajar serta mendidik umat dengan karakter yang khas. Menyentuh selaput berpikir manusiawi, tanpa pernah mau meninabobokan jiwa dengan pendekatan sentimentalistis semata. Ia berbicara to the point, jujur, dan sangat kontekstual.
Perjumpaan berlanjut dalam suasana yang lebih karib. Rupanya, Romo Arfan pun pernah mendengar rekam jejak saya. Dari percakapan kami, terkuak bahwa tesis akademisnya diangkat dari pengalaman hidup sewaktu menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) sebagai Frater di Rego. Romo Arfan mengamati sebuah fenomena iman yang unik. Benih iman di hati umat bertumbuh dengan sangat subur. Indikator paling kasatmata adalah antusiasme umat yang luar biasa tinggi untuk memohon perayaan Misa Kudus dalam hampir setiap peristiwa hidup. Suka maupun duka seolah belum sah atau terasa hampa jika tidak dimeteraikan oleh Misa Kudus. Akibatnya, Pastor Paroki dan Pastor Kapelan kerap kewalahan mengatur jadwal, waktu, dan energi, hingga harus meminta "bala bantuan" dari pastor-pastor lain yang sedang berlibur atau yang bertugas di lembaga pendidikan.
Namun, di balik gairah liturgis yang membumbung tinggi itu, Romo Arfan menyodorkan sebuah catatan kritis yang amat mendasar. Ada ketimpangan yang perlu dikaji secara mendalam. Gairah merayakan sakramen tidak berbanding lurus dengan semangat memberi atau berderma. Padahal, secara rasional dan teologis, kedua hal ini seharusnya linier. Jika kerinduan akan Misa Kudus meningkat, hal itu mestinya mewujud dalam sikap iman yang konkrit seperti kerelaan untuk berderma, baik bagi penataan kemandirian Gereja maupun bagi kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan. "Meningkatkan semangat berderma dari umat adalah tugas reflektif kami sebagai pastor, menyadarkan mereka untuk bersama-sama menghidupkan Gereja yang mandiri," ujarnya seraya tersenyum.
Suatu sore, saya melangkah ke Pastoran untuk mengunjungi Romo Arfan secara khusus. Diskusi kami meluncur deras, bertransformasi dari persoalan pastoral hingga berlabuh pada satu muara yang amat vital. Literasi dasar. Sebagai pribadi yang telah belasan tahun menerobos "(*)

