OELAMASI, LIPUTANNTT.Com,Harga pakan ternak yang terus melambung sering bikin peternak gigit jari. Tapi, Kelompok Tani Sejahtera di Desa Oesusu kini punya jurus jitu: beternak cacing tanah sebagai sumber protein alternatif. Inisiatif ini datang dari Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) yang turun langsung membimbing para peternak.
Bayangkan, kotoran sapi yang selama ini dianggap limbah, kini disulap menjadi media subur untuk mengembangbiakkan cacing _Lumbricus sp_ . Hasil panen cacing inilah yang nantinya diolah menjadi campuran pakan ternak ayam hingga ikan lele. Dengan begitu, biaya pembelian pakan komersil yang mahal bisa ditekan drastis. Efisiensi usaha tani pun meningkat.
Ketua Tim PKM Undana, I Kadek Yoga Kertiyasa, S.Pt, M.Pt, mengaku perjalanan awal program ini tidak semudah membalik telapak tangan. Tantangan terbesar? Telur cacing atau kokon yang harus didatangkan langsung dari Pulau Jawa.
"Budidaya cacing ini cukup _challenging_ bagi mitra kami. Kokon cacing harus kita datangkan dari Jawa, jadi butuh pendampingan super intensif. Kami fokus pada pengaturan suhu, kelembaban media, hingga pengawasan rasio penetasan telur. Ini kunci agar cacing bisa beradaptasi dan berkembang biak dengan mandiri di Oesusu," ujar Yoga dengan semangat.
Tak main-main, program yang dikawal oleh para ahli, termasuk Dewi Elfrida Sihombing, M.Si dan Dr. Tomycho Olviana, S.P., M.M.A., ini didanai penuh oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdiktisaintek melalui skema pendanaan bergengsi BIMA Tahun 202.
Dengan adanya pendampingan ini, Kelompok Tani Sejahtera tak hanya berhemat, tapi juga belajar mengelola sumber daya lokal untuk kemandirian pangan. Siapa sangka, cacing kecil di tanah Oesusu justru jadi pahlawan ekonomi baru bagi para peternak. (*/Marno)

