Pekarangan Berkarang Disulap Jadi Kebun Subur! Mahasiswa dan Dosen Undana Kenalkan Teknik _Hugelkultur_ di Desa Oesao

Pemred Liputan NTT
0


KUPANG, LIPUTANNTT.Com, Di tengah hamparan tanah kering yang didominasi batu karang dan sinar matahari yang menyengat, sekelompok perempuan di Desa Oesao, Kabupaten Kupang, justru tersenyum ceria. Di pekarangan rumah mereka, yang dulu dianggap tandus, kini tumbuh subur tanaman cabai, tomat, dan kacang-kacangan. Sulap? Bukan. Ini adalah hasil inovasi bernama _Hugelkultur._ 


Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) berhasil membuktikan bahwa lahan kritis sekalipun bisa disulap menjadi kebun produktif. Dengan pendanaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdiktisaintek melalui skema BIMA 2026, mereka memperkenalkan teknologi pertanian ramah lingkungan yang sederhana namun luar biasa.


Ketua tim PKM, Dewi Elfrida Sihombing, M.Si, menjelaskan bahwa _hugelkultur_ bukanlah sekadar menanam biasa. Teknik ini menggunakan batang kayu lapuk sebagai fondasi bedengan, lalu ditutup dengan kompos dan tanah fermentasi.


"Bayangkan kayu lapuk itu seperti spons raksasa. Saat hujan, ia menyerap air, dan saat kemarau, ia melepaskannya kembali ke akar tanaman. Ini solusi cerdas untuk iklim kering seperti di Oesao," ujar Dewi dengan antusias.


Tak butuh cangkul besar atau penggalian batu karang. Ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Indah, dengan sigap dibantu oleh pemuda Karang Taruna, merakit struktur bedengan di atas permukaan tanah. Hasilnya? Lahan sempit di sekitar rumah kini menjelma menjadi lumbung pangan keluarga.


Salah satu anggota KWT Mekar Indah, mengaku takjub. "Dulu kami pikir tanah kami tidak bisa ditanami apa-apa kecuali rumput. Sekarang, kami bisa panen cabai dan tomat sendiri. Ini sangat membantu ekonomi keluarga," tuturnya dengan mata berbinar.


Pendampingan langsung dari tim dosen Undana yang terdiri dari I Kadek Yoga Kertiyasa, S.Pt, M.Pt, dan Erry Ersani, M.Pd, tidak hanya berhenti pada teknis pembuatan. Mereka juga memberikan pelatihan perawatan hingga pengelolaan hasil panen. Program ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara akademisi dan masyarakat mampu menciptakan ketahanan pangan dari akar rumput.


Lebih dari sekadar proyek, program ini dirancang untuk berkelanjutan. Dengan memanfaatkan potensi pekarangan secara mandiri, KWT Mekar Indah kini tidak hanya menjadi kelompok tani, tetapi juga agen perubahan di desanya. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah halangan, melainkan panggilan untuk berinovasi.


Dukungan penuh dari DRTPM Kemdiktisaintek melalui BIMA 2026 pun menjadi angin segar bagi pengabdian dosen Undana. "Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat. Kami berharap teknik ini bisa menyebar ke desa-desa lain di NTT," pungkas Dewi.


Kisah Oesao adalah pengingat bahwa di balik tanah kering, masih ada harapan yang tumbuh selama ada niat, ilmu, dan kerja sama yang tulus. (*/Marno)

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

Melayani permintaan peliputan dan pemasangan iklan banner. Marketing Director (Email: redaksiliputanntt@gmail.com.Contact Person:081236630013). Alamat Redaksi: Jl. Oekam, RT 13/RW 005 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT. Email: redaksiliputanntt@gmail.com. Tlp/Hp: 081236630013 Rekening: BRI: No. Rek. 467601014931533 a.n. Hendrik Missa Bank NTT: No. Rek. 2503210258 a.n. Hendrik Missa