TTS, LIPUTANNTT.Com,Hanya bermodalkan dua bulan persiapan, sebuah gerakan rekonsiliasi besar-besaran antara orang tua dan anak kini bergema di seluruh pelosok Timor. Di balik gerakan ini, ada sosok penggerak utama: Ci Helen. Bersama tim relawan, ia berhasil mengubah ide mustahil menjadi kenyataan yang menyentuh nyaris 25.000 jiwa.
Kegiatan yang penuh kasih ini resmi dibuka di SD Katolik Benlutu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Lokasi ini mencakup tiga sekolah sekaligus—TK dan SD yang terintegrasi di tempat yang sama. Dari titik awal itulah, semangat rekonsiliasi dinyalakan untuk menjangkau ribuan anak dan orang tua di seluruh penjuru Timor.
Setelah pembukaan di SD Benlutu, tim volunteer langsung bergerak dan berpencar ke sejumlah daerah, antara lain:
Kabupaten TTS, Amfoang Raya, Kabupaten Kupang, tepatnya di Amarasi Timur serta sejumlah tempat di sekitarnya
Dengan sistem penyebaran ini, pelayanan menjangkau titik-titik yang lebih luas dan merata—memastikan tak ada anak dan orang tua yang terlewat dari sentuhan kasih.
Apa yang dikerjakan Ci Helen dan tim sungguh di luar batas normal. Berawal dari ide agar 10.000 anak merasakan kasih Tuhan, tim melakukan pendataan ke 148 sekolah yang tersebar di lokasi terpencil dan sulit dijangkau. Sebagian besar orang tua tidak memiliki ponsel, sehingga koordinasi dilakukan secara manual dengan upaya ekstra. Tim juga menangani negosiasi harga barang, pembuatan program, penggalangan dana, hingga strategi distribusi.
Hasilnya, kegiatan ini resmi berlangsung mulai hari ini hingga 17 April 2026, mencakup 44 titik kumpul di seluruh wilayah Timor. Data terbaru mencatat jumlah siswa mencapai 10.000 anak. Jika digabung dengan orang tua dan para guru, total peserta yang mendapat pelayanan mencapai hampir 25.000 jiwa.
Kegiatan ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap pola asuh tradisional di Timur yang hanya menekankan pendisiplinan keras tanpa cukup kasih sayang. Akibatnya, hubungan orang tua dan anak terasa janggal ketika harus menunjukkan afeksi.
"Kami di Timur itu biasanya hubungan antara orang tua dan anak dididiknya keras. Banyak didikan, tapi tidak terlalu banyak kasih. Padahal seharusnya orang tua mengasihi dulu, lalu mendidik. Kebanyakan di orang timur, kita hanya mendidik. Makanya kalau harus sayang-sayangan sama anak, itu terasa janggal," ujar Ci Helen.
Melalui program ini, setiap keluarga diproses untuk mengalami budaya surga: saling mengasihi, menghormati, dan mencintai. "Kami tidak hanya melakukan pengajaran, tapi mereka akan berproses dengan anaknya untuk mengalami kasih sebagaimana yang seharusnya orang tua dan anak alami," tambahnya.
Agar perubahan berlanjut di rumah, setiap peserta didorong untuk mengenal Tuhan secara pribadi. Alkitab bersuara disediakan untuk menjangkau mereka yang terbiasa dengan tradisi lisan atau terkendala akses baca sebagai wujud kasih nyata.
Tidak berhenti di situ, tim Ci Helen juga menggelar sesi pembagian bantuan alat tulis dan logistik yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak dan orang tua. Mulai dari buku, pensil, tas sekolah, hingga kebutuhan pokok dan perlengkapan sehari-hari—semua diberikan secara terukur agar tepat sasaran. Bantuan logistik ini menjadi napas tambahan bagi keluarga yang selama ini hidup dalam keterbatasan di pelosok Timor.
"Keseluruhan acara ini kita persiapkan hanya dua bulan. Dua bulan itu maksudnya dari pertama kali tercetus ide 10 ribu anak untuk Timor. Itu terjadi tanggal 5 Februari. Tuhan benar-benar bukain bahwa Aku mau 10 ribu anak di Timor merasakan kasih-Ku," kenang Ci Helen.
Ia menceritakan, ide itu muncul satu minggu setelah peristiwa yang melibatkan seseorang bernama Yohanes. Sejak saat itu, tim bergerak mencari dana, membeli barang, mengadakan pendataan ke 147 sekolah (yang kemudian berkembang menjadi 148 sekolah) di pelosok dengan medan ekstrem.
"Hubungannya sangat sulit. Orang tua tidak banyak yang punya handphone. Tapi dari dana, pengumpulan data, pembuatan program, negosiasi harga barang—lalu akhirnya bertubi-tubi bantuan datang," ungkapnya.
Dengan hanya dua bulan persiapan, tanpa infrastruktur modern, di tengah keterbatasan akses dan jarak tempuh yang ekstrem, Ci Helen bersama teman-temannya berhasil menyusun strategi yang membuat kegiatan ini berjalan hari ini. Mulai dari pembukaan di SD Katolik Benlutu, menyebar ke Ampang Raya, Amarasi, dan seluruh 44 titik. Di setiap titik, anak-anak menerima bantuan uang, alat tulis, dan logistik sembari orang tua mengikuti sesi rekonsiliasi yang menghangatkan kembali hubungan keluarga.
Sebanyak 148 sekolah, 10.000 siswa, dan hampir 25.000 jiwa akan merasakan suasana surga yang kelak mereka teruskan di rumah masing-masing.
"Semuanya untuk kemuliaan nama Tuhan."(MB)

