OELAMASI, LIPUTANNTT.com,Sebuah pertemuan yang berawal dari ruang diskusi di Kupang berujung pada kunjungan bersejarah di tanah Amfoang. Satu hari sebelumnya, saat berdialog dengan sejumlah mahasiswa NTT di Kupang, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendengar langsung cerita memilukan tentang kondisi Amfoang. Para mahasiswa itu dengan semangat dan kepedulian tinggi menyampaikan bahwa di wilayah perbatasan, ribuan warga hidup dalam keterisolasian yang menyayat hati. Suara mahasiswa inilah yang membakar hati Wapres Gibran untuk tidak sekadar mendengar di ruang pertemuan, melainkan turun langsung melihat kenyataan di lapangan.
Hari ini, Jumat (22/5/2026), Wapres Gibran akhirnya menginjakkan kaki di Amfoang. Di tengah hamparan pesisir yang sunyi namun menyimpan jeritan panjang, ia disambut antusias ratusan warga yang telah lama menanti uluran tangan pemerintah pusat. Momen inilah yang dimanfaatkan tokoh masyarakat setempat, Sepryanus Bani, untuk menyampaikan lima aspirasi krusial yang selama ini menjadi luka menganga bagi warga Amfoang.
Di hadapan Wapres Gibran yang dikelilingi warga, Sepryanus membuka penyampaiannya dengan penuh haru. "Bapak Wapres, terima kasih telah mendengar suara mahasiswa kami di Kupang, dan terima kasih telah datang langsung ke tanah Amfoang. Hari ini, izinkan saya menyampaikan jeritan hati masyarakat yang sudah terlalu lama terpendam," ucapnya.
Poin pertama yang ia angkat adalah infrastruktur jalan dan jembatan yang nyaris lumpuh. Dua jembatan vital, Jembatan Termanu dan Jembatan Kapsali, menjadi saksi bisu penderitaan warga. "Jembatan ini adalah urat nadi kami, Pak Wapres. Setiap musim hujan, distribusi bahan pangan terputus total. Beras, minyak goreng, obat-obatan terlambat sampai ke kampung. Warga kami sering menangis bukan karena tak punya uang, tapi karena jalannya putus," paparnya.
Isu berikutnya adalah kelangkaan BBM dan harga yang mencekik leher. Di tengah musim panen yang seharusnya membawa sukacita, petani justru meratap. "Sawah kami menguning, Pak. Tapi mesin perontok padi tak bisa beroperasi karena tak ada BBM. SPBU sangat jauh, distribusi tersendat. Yang lebih menyakitkan, harga Pertalite di kampung kami tembus Rp25.000 per liter. Hasil panen terancam membusuk. Ini bencana bagi petani kami," keluhnya.
Selanjutnya, Sepryanus menyampaikan permohonan mendesak agar status Jalan Amfoang Pesisir dinaikkan dari jalan provinsi menjadi jalan nasional. "Kami mohon jalan ini diambil alih negara. Dengan status nasional, perhatian dan anggaran akan lebih pasti. Jalan ini adalah harapan satu-satunya agar Amfoang tidak terus terisolasi dari peradaban," tegasnya.
Isu kedaulatan pun mengemuka. Sepryanus menyoroti batas negara antara Indonesia dan Timor Leste yang berbatasan langsung dengan Amfoang yang hingga kini belum tuntas. "Kami hidup di tapal batas NKRI, tapi kepastian batas negara masih menggantung. Ini rawan gesekan dan membuat warga resah. Kami mohon pemerintah segera menyelesaikan perundingan batas negara, agar tanah yang kami pijak ini jelas kedaulatannya," pintanya.
Tak ketinggalan, Sepryanus juga menyuarakan ketidakmerataan jaringan listrik dan telekomunikasi. Di era digital, banyak dusun di Amfoang masih gelap gulita, sementara sinyal Telkomsel nyaris tak tersentuh. "Anak-anak kami ingin belajar, warga ingin berkomunikasi dalam keadaan darurat, tapi semua terhambat. Pemerataan listrik dan sinyal seluler adalah hak kami. Jangan biarkan kami terus menjadi daerah gelap di republik ini," ucapnya.
Menutup penyampaiannya, Sepryanus Bani menatap Wapres Gibran dengan mata penuh harap. "Suara mahasiswa kami di Kupang telah membuka jalan bagi Bapak untuk hadir di sini. Hari ini, suara Amfoang telah kami letakkan langsung di hadapan Bapak. Kami percaya, di tangan Bapak Wapres, jeritan ini akan berubah menjadi kebijakan yang menyelamatkan kami," tutupnya disambut tepuk tangan dan haru warga.
Wapres Gibran Rakabuming Raka yang mendengarkan dengan saksama tampak mencatat setiap poin. "Saya bertemu mahasiswa di Kupang, mereka bicara tentang Amfoang dengan penuh semangat. Hari ini saya lihat sendiri. Aspirasi ini akan segera kami tindaklanjuti dengan kementerian terkait. Tidak boleh ada wilayah Indonesia yang merasa ditinggalkan," tegas Wapres Gibran, memberi secercah asa bagi warga Amfoang yang telah lama menanti.(MB)

