KUPANG, LIPUTANNTT.com,Populasi sapi potong di Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Timor, menunjukkan tren pertumbuhan positif dengan jumlah mencapai 622,28 ribu ekor pada tahun 2025 atau naik 6,9 persen dalam dua tahun terakhir. Namun, peningkatan kuantitatif ini belum disertai perbaikan manajemen pemeliharaan di tingkat desa yang masih tradisional. Praktik beternak sekadar melepas di padang alam tanpa pengelolaan kandang, pakan, reproduksi, dan kesehatan masih dominan. Akumulasi ternak tanpa tata kelola memadai justru menciptakan jebakan produktivitas dan mengancam keberlanjutan usaha peternakan rakyat. Diperlukan pergeseran fundamental dari paradigma ekstensif menuju intensif-terpadu.
Pulau Timor memiliki iklim kering dengan musim kemarau panjang selama 8–9 bulan dan musim hujan pendek yang eratik. Kondisi ini membatasi ketersediaan hijauan pakan dan air secara drastis, sementara jenis tanah liat, kapur poreus, dan tanah berbatu memperparah daya dukung lingkungan. Pada puncak kemarau, ternak hanya mengonsumsi rumput kering, dedaunan kering, bahkan kulit kayu untuk bertahan hidup. Meskipun demikian, keterbatasan biofisik ini harus dipandang sebagai tantangan yang menuntut solusi adaptif, bukan hambatan mutlak. Pendekatan pengelolaan agroekosistem yang tepat, seperti padang rumput terkelola dan integrasi tanaman legum, terbukti mampu memperbaiki performa produksi sapi Bali di Timor.
Pengamatan di desa-desa pelosok Pulau Timor memperlihatkan bahwa sistem pemeliharaan ternak sangat rendah input, tanpa kandang layak dan tanpa budidaya pakan terencana. Sistem semi intensif yang diterapkan di beberapa lokasi masih menggantungkan pada penggembalaan alam sehingga suplai nutrisi tidak kontinu. Ketiadaan kandang menyebabkan ternak rentan terhadap cuaca ekstrem dan penyakit, serta menghalangi pengumpulan kotoran untuk pupuk. Fluktuasi pakan antara musim hujan dan kemarau tajam karena teknologi pengawetan tidak diterapkan. Dengan demikian, transformasi menyeluruh pada aspek perkandangan, pemberian pakan, dan pencatatan menjadi syarat mutlak peningkatan produktivitas.
Wakil Ketua Komisi II DPRD NTT menyoroti pakan, ketersediaan air, dan infrastruktur kesehatan hewan sebagai tiga persoalan kritis. Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang pernah digagas belum berkelanjutan, sementara pabrik pakan ternak belum tersedia di wilayah Timor. Saat kemarau, ternak hanya mendapat nutrisi rendah dari rumput kering sehingga pertumbuhan terhambat. Upaya peternak seperti membuat sumur atau cekdam masih berskala kecil dan belum mampu mengatasi kekeringan secara fundamental. Melimpahnya biomassa musim hujan yang terbuang sia-sia menjadi paradoks yang harus diselesaikan melalui introduksi teknologi hay, silase, dan fermentasi pakan.
Sistem penggembalaan bebas memungkinkan perkawinan tanpa kontrol antara individu-individu yang memiliki hubungan kekerabatan dekat, sehingga risiko inbreeding sangat tinggi. Inbreeding meningkatkan homosigositas yang memicu depresi silang dalam, seperti penurunan produktivitas, bobot lahir rendah, pertumbuhan lambat, dan kematian pedet. Data menunjukkan setiap kenaikan 10 persen koefisien inbreeding dapat menurunkan calf crop 5,9 persen dan bobot sapi 2,5–5 kg. Tanpa pencatatan silsilah dan pengaturan pejantan, degradasi genetik progresif akan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Intervensi manajemen reproduksi menjadi kunci untuk memutus siklus perkawinan sedarah ini.
Manajemen reproduksi di tingkat peternak rakyat Timor masih sangat lemah, tercermin dari panjangnya jarak beranak (20–24 bulan) dan tingginya kawin berulang. Pengamatan birahi yang tidak akurat serta rendahnya kualitas pejantan alam memperburuk efisiensi reproduksi. Tanpa sistem pencatatan, peternak tidak memiliki informasi mengenai riwayat reproduksi setiap individu ternak. Penerapan intensifikasi kawin alam dengan pejantan terseleksi atau inseminasi buatan (IB) berbasis semen beku menjadi solusi yang harus didorong. Perbaikan ini hanya akan efektif jika diintegrasikan dengan manajemen nutrisi yang memadai agar fungsi reproduksi optimal.
Peneliti BRIN, Prof. Jacob Nulik, mengembangkan Lamtoro Tarramba sebagai legum tahan kering yang mampu menyediakan hijauan sepanjang tahun dan menekan kematian pedet di bawah 4 persen. Produktivitas Lamtoro Tarramba mencapai 11–15 ton bahan kering per hektare per tahun dengan pemangkasan berkala, menjamin pasokan protein bagi ternak. Tanaman legum lain seperti Indigofera zollingeriana dan Clitoria ternatea juga dapat ditanam bergilir dengan jagung untuk memperbaiki kesuburan tanah. Teknologi pengawetan seperti hay, silase, dan biskuit pakan berprotein tinggi menjadi jembatan antara surplus musim hujan dan defisit musim kemarau. Keberhasilan inovasi ini memerlukan integrasi dengan kebiasaan lokal serta dukungan kelembagaan yang kuat.
Infrastruktur kesehatan hewan yang minim menjadi salah satu permasalahan utama yang disampaikan dalam rapat Komisi II DPRD NTT, terutama setelah wabah African Swine Fever (ASF) meluluhlantakkan populasi ternak babi. Dalam sistem tanpa kandang, ternak sangat terpapar patogen lingkungan dan vektor penyakit, sementara akses terhadap layanan kesehatan hewan sangat terbatas. Rendahnya pengetahuan peternak tentang biosekuriti memperparah penyebaran parasit dan penyakit metabolik yang sebenarnya dapat dicegah. Penguatan manajemen kesehatan harus mencakup vaksinasi, sanitasi kandang, sistem surveilans penyakit, dan pendampingan teknis berkelanjutan. Tanpa fondasi kesehatan yang kokoh, segala upaya peningkatan produktivitas ternak akan sia-sia.
Sistem integrasi tanaman-ternak menawarkan sinergi ekologis di lahan kering dengan memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan dan kotoran ternak sebagai pupuk organik. Di Timor, sapi dan jagung sebagai komoditas utama dapat diintegrasikan dalam satu siklus tertutup yang meningkatkan efisiensi sumber daya. Pendekatan agroforestri pakan mengombinasikan legum pohon (lamtoro, gamal, indigofera) dengan tanaman pangan untuk konservasi tanah dan penyediaan pakan berkelanjutan. Model ini tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga mendukung mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon. Integrasi ini menjadi cikal bakal biosiklus yang meminimalkan limbah dan memaksimalkan manfaat bagi petani-peternak.
Konsep sirkular livestock menutup siklus material dan energi secara menyeluruh, mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai. Prinsipnya, tanpa ternak tidak akan ada sistem sirkular sempurna karena kotoran ternak menjadi pupuk utama pengembali kesuburan tanah. Limbah pertanian diolah menjadi pakan, kotoran menjadi biogas dan pupuk organik, serta urine menjadi pupuk cair, menciptakan kemandirian input bagi peternak. Adaptasi model ini di Pulau Timor memerlukan pembangunan kandang komunal, digester biogas, pabrik pakan mini, serta penguatan kelembagaan peternak. Dengan komitmen kebijakan yang kuat, sirkular livestock mampu menjadikan Timor sebagai model peternakan lahan kering berkelanjutan di Indonesia.(*)

