KUPANG, LIPUTANNTT.Com, Ada keheningan yang mahal di pelosok Kampung Pateng-Rego, ketika fajar belum sepenuhnya membakar kabut. Udara dingin merembes melalui celah-celah papan, membawa aroma tanah basah dan jejak kenangan yang selalu memanggil pulang. Di kampung ini, kedinginan adalah kepastian, tetapi bangun sebelum matahari terbit telah menjadi semacam ritual pribadi, sebuah kebiasaan yang saya peluk erat saat ini.
Kurang lima belas menit menuju jam lima pagi, ketika dunia di luar masih terlelap dalam remang, saya sudah duduk berhadapan dengan pendar layar laptop. Jemari saya menari di atas kibor, berusaha mengekalkan kisah-kisah yang berceceran. Ada dorongan kuat dalam dada untuk mengabadikan kehadiran saya di tanah kelahiran ini. Baru sehari sebelumnya, keramaian memenuhi sudut-sudut rumah kami. Kami menyelenggarakan acara adat kenduri dan misa keselamatan untuk mengantarkan rasa syukur atas keberadaan kakak kami, Kak Elisabet Kurnia, yang akrab kami sapa Kak Elis. Sisa-sisa tawa, kehangatan doa, dan aroma hidangan semalam masih tertinggal halus di udara. Banyak kerabat yang datang dari jauh masih tertidur lelap di kamar-kamar depan, mengumpulkan kembali energi yang terkuras oleh kepungan kehangatan kekeluargaan.
Di tengah kesunyian itu, tulisan saya bergerak perlahan merangkai fakta tentang wajah baru kampungku. Sebagai seseorang yang tumbuh di sini, ada helaan napas lega sekaligus rasa haru yang menggenang di sudut mata ketika mencatat pertumbuhan dan perkembangan terakhirnya. Dari sektor ekonomi lokal yang makin menggeliat, dinamika pendidikan yang kian terbuka, hingga pergeseran gaya hidup generasi mudanya, semua menunjukkan bahwa kampung ini tidak lagi bertopang pada bayang-bayang kelam masa lalu. Kampungku yang dulu terpencil, tertinggal, miskin, dan seakan-akan luput dari radar perhatian negara, kini telah bertransformasi. Ada bangga yang membuncah, ada rasa hormat kepada ketangguhan orang-orang kampung yang pantang menyerah. Saya ingin merayakan perubahan itu lewat tulisan.
Retakan di Tanah dan Goncangan Jiwa
Saat jemari saya mengetik baris-baris paragraf terakhir, menutup ulasan tentang optimisme kemajuan kampung, sebuah suara memotong keheningan. Bunyi seng berderik tajam di atas atap. Saya menganggapnya sebagai hal biasa. Mungkin hanya injakan kaki ayam jantan yang berkeliaran di pagi hari. Namun, prasangka sederhana itu sirnah hanya dalam hitungan detik.
Derik seng itu berubah menjadi dentuman keras. Lantai di bawah kaki saya bergetar kuat, diikuti lantai dan dinding yang berguncang hebat dari sisi ke sisi. Gempa. Kepanikan seketika menyapu bersih seluruh alur pemikiran jernih yang tadi memenuhi kepala. Saya secara refleks meninggalkan laptop yang masih menyala, berdiri lari menyelamatkan diri. Dalam situasi yang begitu mendesak dan menakutkan, waktu seolah terlipat; tidak ada jeda untuk sekadar mengetuk pintu atau membangunkan saudara-saudara yang masih terlelap di rumah bagian depan. Goncangan dahsyat yang datang tanpa peringatan itu merobek kesadaran kami. Dalam hitungan detik, kami semua berhamburan keluar rumah dengan napas memburu dan dada bergemuruh. Rumah kami adalah saksi bisu perjalanan waktu dua generasi yang berbeda. Bagian depannya, berukuran 6×8" meter" , adalah bangunan tua berdinding papan usang yang telah melapuk dimakan zaman. Sementara bagian belakang tempat saya mengetik tadi berukuran 6×7" meter" , baru dibangun berdinding tembok yang bahkan belum sempat terlapisi plaster. Dua struktur yang memadukan masa lalu dan masa kini itu terguncang bersamaan, berderik seolah siap runtuh mencium tanah.
Di luar, udara pagi yang berselimut kabut menyambut kami yang berdiri ketakutan di atas tanah yang terus bergetar. Gempa tidak hanya menguncang fondasi semen dan papan, tetapi juga merobohkan rasa aman yang selama ini kami bangun di atas tanah kelahiran sendiri. Ketika guncangan utama mereda, kepanikan tidak serta-merta menguap. Melalui gawai dan linimasa media sosial yang sempat diakses sebelum sinyal melemah, berita-berita pilu mulai bermunculan. Kami menyaksikan betapa bencana ini membawa duka mendalam di berbagai sudut daerah. Foto dan video memperlihatkan rumah-rumah yang rubuh menjadi puing, tembok-tembok yang merobohkan harapan, dan korban jiwa yang tertindis reruntuhan.
Kampungku sedang tidak baik-baik saja. Wajah-wajah tetangga yang biasanya hangat kini diselimuti resah dan gelisah yang membiru. Informasi bahwa gempa susulan yang lebih besar dan dahsyat berpotensi terjadi menyebar dari mulut ke mulut seperti angin liar. Ketakutan merayap masuk ke dalam tulang-tulang kami. Rumah yang selama ini menjadi benteng perlindungan terhangat, tiba-tiba berubah menjadi ancaman mematikan. Tidak ada seorang pun yang berani melangkahkan kaki untuk tidur di dalam rumah.
Secara serentak, halaman rumah berubah menjadi pemukiman darurat. Terpal-terpal plastik dibentangkan, patok-patok kayu ditancapkan terburu-buru. Kami membuat tenda sederhana dan memilih berkemah di luar. Malamnya, kami tidur dalam kepungan udara dingin yang menusuk tulang, meringkuk di atas alas seadanya. Ada ironi yang getir dalam pemandangan malam itu, kami berbaring menggigil seperti pengungsi padahal kami berada tepat di halaman rumah dan di atas tanah kami sendiri. Keadaan kian mencekam ketika aliran listrik padam total. Selama hampir dua belas jam, kegelapan menelan kampung kami. Tanpa penerangan dan kehilangan jaringan komunikasi, kami seperti terlempar ke dalam ruang hampa yang terisolasi dari dunia luar. Dalam kegelapan itu, saya hanya sempat memastikan kondisi keluarga kecil saya di Kupang sebelum koneksi benar-benar terputus. Suara di ujung telepon memberi sedikit kelegaan. Gempa tidak melanda Kupang. Namun kelegaan itu hanya secuil di tengah lautan kecemasan akan bayang-bayang gempa susulan yang terus menghantui sepanjang malam.
Teologi Guncangan: Antara Bunda Maria dan Bahasa Alam
Di titik ini, saya tidak berhenti pada kepanikan fisik semata. Ketika tubuh terdiam di bawah naungan tenda terpal yang basah oleh embun, jiwa saya bertarung mencari makna di balik krisis ini. Secara pribadi, saya tidak bisa tidak menghubungkan peristiwa gempa bumi ini dengan sebuah perjumpaan iman yang amat dalam. Tanggal 15 Agustus bukanlah hari yang biasa. Pada tanggal tersebut, dua peristiwa bersinggungan secara dramatis dalam linimasa hidup kami. Peristiwa pertama adalah gempa berkekuatan besar yang meretakkan tanah tempat kami berdiri. Peristiwa kedua adalah perayaan iman yang agung dalam tradisi Gereja Katolik, Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga.
Dua fenomena ini seakan bertolak belakang, tetapi sesungguhnya memancarkan getaran misteri yang sama. Di satu sisi, gempa bumi adalah bahasa alam yang paling menakutkan. Sebuah daya purba yang cenderung membinasakan, meruntuhkan apa yang telah dibangun manusia, dan kerap membuat jiwa-jiwa rapuh kehilangan harapan. Di sisi lain, perayaan Maria Diangkat ke Surga adalah lambang kemuliaan puncak, sebuah pengingat akan takdir akhir manusia yang dipenuhi pengharapan transendental. Betapa agung dan dahsyatnya kehendak Ilahi. Sang Pencipta yang mengutus Putra Tunggal-Nya melalui rahim seorang wanita sederhana di Nazaret adalah Tuhan yang sama yang memegang kendali atas poros-poros bumi.
Teringat kembali bagaimana Kitab Suci menggambarkan sosok Maria dalam merespons misteri Allah yang sulit dicerna oleh akal budi. Ketika Malaikat Gabriel menyampaikan kabar sukacita sekaligus penuh risiko bahwa ia akan mengandung Emmanuel, Maria tidak berdebat dengan takdir; ia menerima perkara besar itu dengan kerendahan hati dan menyimpannya erat-aliran di dalam hati. Perjalanan iman Maria bukanlah jalan tol yang bertabur kemudahan. Ketika janin itu hendak dilahirkan, Yusuf suaminya sempat berniat menceraikannya secara diam-diam demi menjaga martabat. Namun Tuhan hadir melalui mimpi untuk mengingatkan pertalian suci itu. Lebih tragis lagi, Maria harus melahirkan Anak itu bukan di istana megah, melainkan di tempat paling hina. Sebuah palungan binatang yang berbau jerami. Pada puncaknya, Maria harus berdiri di kaki kayu salib, menyaksikan sendiri bagaimana Anak yang dibesarkan, dikasihi, dan dibanggakannya harus disiksa, dihina, disalibkan, dan meninggal secara tragis di Kalvari. Maria tidak mengutuk keadaan. Ia tidak meratapi ketidakadilan takdir. Ia memilih menampung seluruh beban misteri itu dalam perenungan yang sunyi: menyimpan segala perkara dalam hatinya.
Epilog
Merenungkan kisah Bunda Maria di tengah ancaman gempa susulan membawa saya pada sebuah kesadaran teologis. Peristiwa gempa ini adalah sebuah peristiwa iman. Gempa ini adalah cermin yang memantulkan betapa rapuhnya seluruh rencana manusia di hadapan kedaulatan Tuhan. Sebelum gempa ini datang merobek ketenangan, saya telah menyusun deretan rencana yang rapi. Ada agenda seminar pendidikan yang telah dirancang, program pendampingan menulis bagi guru dan siswa di beberapa sekolah, hingga kegiatan penelitian lapangan yang memerlukan waktu serta fokus tinggi. Namun, hanya dalam hitungan detik, seluruh agenda akademis dan sosial itu luluh lantak, terganggu dan terhenti tanpa kepastian.
Jika saya merasa tersudut karena rencana-rencana yang tertunda, betapa lebih besarnya duka saudara-saudara lain yang dalam sekejap harus kehilangan nyawa anggota keluarga mereka, atau menyaksikan rumah-rumah yang mereka bangun dengan tetes keringat berpuluh-puluh tahun hancur menjadi puing tak berguna. Di sinilah kita diajak berjalan bersama Bunda Maria. Kita diundang untuk tidak terburu-buru mengutuk alam atau mempertanyakan keadilan Ilahi dengan amarah, melainkan belajar "menyimpan semua perkara itu dalam hati." Menyimpan dalam hati bukan berarti menyerah pada keputusasaan, melainkan sebuah sikap pasrah yang radikal. Sebuah pengakuan tulus bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak atas jalannya sejarah.
Tuhan memiliki kuasa yang tak terbatas atas hidup kita, kerap kali melalui peristiwa alam yang tidak terduga dan tak terelakkan. Kita sering kali merasa sanggup mengatur masa depan hanya karena memiliki pena, rencana kerja, atau fondasi bangunan yang tampak kokoh. Namun bumi yang berguncang mengingatkan kita bahwa keberadaan kita di dunia ini sangatlah ringkih. Saya melihat retakan pada dinding rumah tua kami bukan sekadar kerusakan fisik, melainkan simbolik dari keterbatasan manusia. Di bawah langit malam yang dingin, di dalam tenda darurat yang sederhana, tidak ada lagi kesombongan intelektual yang tersisa. Yang ada hanyalah penyerahan diri yang utuh kepada Sang Arsitek Agung Kehidupan. Pada akhirnya, di tengah dentum gempa yang menakutkan dan ketidakpastian hari esok, hanya ada satu ungkapan kepasrahan mendalam yang sanggup mengalir dari relung jiwa paling tenang: “Atur saja, Tuhan.” Biarlah Kehendak-Mu yang jadi, sebab di dalam tangan-Mu, baik guncangan bumi maupun ketenangan surga, seluruhnya berada dalam genggaman kasih yang tak pernah gagal.(*)

